Mengembalikan Kebiasaan Baik Si Kecil Selepas Pandemi
Pandemi Covid-19 memberi banyak dampak pada banyak aspek. Dunia kesehatan jelas yang paling terdampak. Hampir setahun pandemi di Indonesia, gelombang pertama tak kunjung nampak puncaknya. Bahkan ketika saya tuliskan ini, kasus positif telah lebih dari sejuta orang. Jumlah yang mulai signifikan dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang berarti pada persentase sekitar 0,4%.
Dunia ekonomi pun turut terpuruk karena menjadi korban dari kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan pada aktivitas masyarakat. Tak hanya PHK di sana sini, bahkan angka resesi pun telah nampak jelas. Pemerintah sampai membagikan bantuan langsung tunai ke rekening banyak orang sebagai stimulus agar roda perekonomian tetap berjalan. Namun apa daya.
Begitu pun dunia pendidikan yang juga mengalami dampak yang cukup signifikan bahkan sampai turut menyumbang korban jiwa. Seorang gadis SD di Banten meregang nyawa karena disiksa orang tuanya yang tidak sabar menemaninya belajar di masa pandemi. penyeleggaraan kegiatan pembelajaran menjadi tidak maksimal karena banyak keterbatasan.
Di luar pembahasan sektor-sektor tadi, ada secuil kisah yang juga menjadi terdampak adanya pandemi yakni tentang tumbuh kembang si kecil. Bagi pasangan suami istri yang berkarir seperti saya, pada saat jam kerja sebelum pandemi, kami menitipkan putri kami di penitipan anak.
Terserah mau psikolog bilang itu tidak baik untuk perkembangan anak lah, belum saatnya anak belajar formal, pendidikan terbaik di masa balita adalah pada orang tua dan lain sebagainya. Namun sudah menjadi kebutuhan bagi pasangan muda yang seperti kami ini untuk menitipkan anaknya pada jam ngantor.
***
Awal virus covid-19 memasuki kota Solo, walikota mengumumkan Kejadian Luar Biasa dengan meliburkan sekolah-sekolah termasuk penitipan anak. Repot kami lah saat itu. Putri kecil kami ini pun dititipkan kembali kepada simbah. Ya, dulu pun pernah ketika dia berusia kurang dari dua tahun. Saat itu belum ada penitipan untuk usianya.
Kami kira saat itu pandemi tidak akan lama. Enam bulan setelahnya, bom waktu itu pun meledak. Ternyata ada yang merasa tidak nyaman dengan kami menitipkan si kecil pada simbah. Ya, simbah si oke-oke saja sebenarnya. Kami sebenarnya dalam kondisi tak punya banyak pilihan saat itu. Putri kami pernah dua minggu menginap di rumah sakit karena pneumonia. Wajarlah kami membawanya ke desa yang kami anggap aman dari virus corona.
Tapi yah biarlah yang waras mengalah, kiranya begitu perkataan orang Jawa. Kami pun mengambil keputusan untuk membawa putri kami turut ke tempat kerja. Beruntung kami berada dalam satu tempat kerja sehingga kordinasi untuk momong anak lebih gampang.
Alhamdulillah kami bersyukur dengan kejadian ini. Kami baru sadar ternyata selama enam bulan kami tidak intens membersamai, putri kami mengalami banyak perubahan buruk. Meski usianya baru menginjak empat tahun saat awal pandemi, dulu dia sudah bisa dikatakan mandiri, peka dan tertib.
Hal ini kami ingat bagaimana dia kebiasaan membuang sampah di tempatnya. Pernah beberapa kali membantu melayani tamu saat ada acara di rumah. Sholat dan tidurnya pun tepat waktu. Tentu saya sangat puas terhadap hasil didikan istri saya ini. Namun saat kami mengambilnya kembali bersama kami, serasa banyak sekali perubahan.
Sering minta jajan yang aneh-aneh. Sering minta diputarkan film di youtube. Ngomong dengan teriak-teriak. Kosa kata kasar atau jorok. Tidur yang terlampau malam. Dan banyak hal yang akhirnya kami sadari bahwa ternyata banyak sekali figur tak baik yang dia contoh selama berada di lingkungan simbah. Tentunya akan butuh waktu untuk kembali normal.
***
Sebelum pandemi, kami berkomitmen untuk tidak memperkanlkan padanya gadget. Apalagi setelah dalam suatu kajian di kantor. Sang pemateri menyampaikan contoh langsung pada teman kami yang anaknya tidak bisa lepas dari HP. Namun ternyata, kondisi di tempat simbah justru banyak anak kecil yang dibiasakan orang tuanya menonton youtube dan bermain game di HP.
Sudah terlanjur kadung dengan kondisi ini bahkan saat awal-awal kami membawanya ke kantor, putri kami masih canggung untuk berkumpul dengan anak-anak dari teman sekantor kami. Dia lebih memilih untuk menonton youtube lewat komputer laboratorium. Berlanjut lagi ketika pulang ke rumah bahkan sampai minta download game di HP.
Perlahan kami arahkan untuk menonton hanya lewat youtube kids. Begitu pun untuk game kami arahkan untuk edukasi seperti membaca, berhitung, dan mewarnai. Sebenarnya kami pun juga merasa terbantu dengan youtube saat melaksanakan tugas kantor sehingga si kecil ada yang “menemani”. Namun tentulah itu tidak baik untuk ke depannya.
Penggunaan gadget pada orang dewasa untuk intensitas yang tinggi telah banyak memunculkan persoalan. Mulai dari berkurangnya kepekaan sosial, fungsi anggota tubuh seperti mata dan jari yang mengalami gangguan, munculnya kemalasan disertai matinya kreatifitas karena game, dan lain sebagainya. Tentu hal ini yang ingin kami antisipasi dari si kecil tapi apalah daya.
Andai pandemi ini berakhir di tahun ini, putri kami berarti sudah memasuki kelas TK besar. Atau ketika pandemi masih berlanjut berarti kiranya sampai pada tingkat SD. Di saat itu tentulah tumbuh kembang anak haruslah sampai pada bekalnya untuk bisa menyerap ilmu yang lebih banyak. Setidaknya kemampuan baca, tulis dan hitung harus sudah terlampaui. Belum lagi pada komunikasi sosialnya.
***
Di sinilah kami harus berusaha kuat memikirkan. Contoh buruk di desa simbah tentang youtube yang kemudian berlanjut youtube lagi di komputer laboratorium tentu harus kami sudahi demi masa depannya. Youtube kids dan game edukasi telah kami uji cobakan sebagai jembatan peralihan. Youtube kids untuk menyaring konten video dari yang tidak baik. Game edukasi untuk merangsangnya minat belajar.
Alhamdulillah ini semakin menunjukkan perbaikan. Kemudian kami lanjutkan dengan mengajaknya ke toko buku, membiarkannya memilih buku yang penuh dengan aktivitas seperti menempel, menggunting dan sebagainya. Sampai dia minta dibelikan hewan peliharaan pun kita turuti untuk mengajarkannya tanggung jawab mengurusi ada ikan kecil, kepompong dan ayam berwarna meski kini telah mati semua.
Kini dia sedang kami latih untuk bersepeda. Alhamdulillah anak-anak tetangga pun telah banyak yang bisa bersepeda seusianya sehingga turut memotivasinya. Kami berusaha keras untuk terus menguatkan minat belajar, membangun karakter dan melatih kepekaan sosialnya.
Kami tidak boleh menyerah pada kondisi pandemi ini dengan menolerir banyak hal. Suatu yang harus dipahami tentunya adalah ketika pandemi ini berakhir nantinya, maka kita harus berlari kencang. Apalagi di zaman 4.0 ini apabila tidak punya kapasitas bersaing maka akan dilibas. Sehingga masa pandemi ini tetap harus memasang target pada putri kami untuk bisa memiliki kompetensi yang mumpuni.
Tentunya semua perlakuan yang kami lakukan tetap dengan mempertimbangkan usia tumbuh kembangnya. Dengan tidak mengorbankan waktu bermainnya. Membiarkannya tetap ceria sehingga daya imunnya pun tetap terjaga. Sehingga ketika pandemi ini berakhir, InsyaAllah putri kami termasuk yang mampu tampil sebagai insan yang mampu memenangkan pertarungan di zamannya kelak. Aamiin.

Guru Fisika, staf kurikulum SMA ABBS Surakarta. Hobinya membaca, menulis dan mengajar
