f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
alif termenung

Termenung

Rembulan terus berjalan. Angin malam itu bertiup cukup kencang, menyebabkan pepohonan bergerak seolah hendak rukuk. Hawa dingin tak menghalangi niat keluarga Alif untuk merayakan pergantian tahun secara kecil-kecilan. Hampir sama dengan orang-orang lainnya, keluarga Alif memiliki tradisi ‘bakaran’ setiap perayaan tahun baru.

Tidak terlalu banyak orang yang ikut, sebab acara tahunan tersebut memang diperuntukkan bagi keluarga Alif dan keluarga pakdhenya saja. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari acara tersebut. Musababnya karena mereka selalu merayakannya setiap tahun. Satu-satunya hal yang berbeda dari tradisi tersebut adalah usia setiap orang yang semakin dewasa, atau bisa dibilang ‘tua’.

Dampaknya tidak terlalu besar, sekadar pergeseran peran. Jika dahulu Alif hanya bermain sambil menunggu waktu makan, kini Alif yang bertugas memasak ikan di atas arang yang dinyalakan. “Esnya tak bikin sekarang, ya!?”, budhe Alif menawarkan diri membuat minuman ketika melihat jumlah ikan yang sudah matang mencapai separuh.

***

 “Sofi bantu, Budhe!”, adik Alif begitu riang untuk ikut membuat minuman karena dirinya memang sangat menyukainya. Mereka berdua kemudian beranjak ke dapur untuk menunaikan tugas mereka. Alif sendiri masih sibuk membolak-balik panggangan sambil terus mengipasinya. Angin sesekali berhembus kembali, tapi kali ini tak sekencang yang sebelumnya.

Tak ada mendung di malam itu. Bintang bertebaran tak beraturan membuat langit tahun baru kian menyenangkan dipandang. Bapak Alif dan Pakdhe bercengkerama, kadang dibumbui sedikit tawa. Menjadikan malam dingin itu tak terlalu hening tanpa sedikit pun suara. “Kapan skripsian, Lif?”, pertanyaan Pakdhe tiba-tiba memecah fokus Alif yang belum selesai membolak-balik panggangan.

“Insyaallah setelah liburan tahun baru ini, Pakdhe”.

“Udah dapet judul, Lif?”.

“Alhamdulillah! Udah, Pakdhe”, Alif melempar senyum yang menyiratkan banyak perasaan.

Obrolan singkat tersebut ternyata membangunkan kenangan masa lalu Alif. Pikiran Alif lantas berlari menuju masa yang sangat jauh dari malam itu, meninggalkan segala yang sedang terjadi.

Baca Juga  Ada yang Lebih Penting dari 3,5 Tahun Kuliah
***

Ujian Nasional tinggal sebentar lagi. Masing-masing siswa tengah sibuk sendiri-sendiri untuk menyiapkan segalanya. Ada yang sibuk menambah waktu belajar dengan ikut program bimbel di luar sekolah. Ada yang semakin rajin beribadah, menyerahkan segala pasrah kepada Allah setelah semua usaha mereka kerahkan. Semua sibuk demi masa depan masing-masing, tak terkecuali Alif.

Namun, Alif bukan berasal dari keluarga yang terbilang kaya. Ia tak mampu untuk membayar biaya program bimbel di luar sekolah. Alif mencari alternatif lain. Ia tak sungkan untuk bertanya ketika mengalami kesulitan terhadap suatu materi kepada teman-temannya yang lebih beruntung secara ekonomi, yang bisa mengikuti program bimbel di luar sekolah. Alif selalu bersyukur dengan keadannya.

Ia merasa jika ia tak beruntung secara ekonomi, setidaknya ia telah mendapat anugerah berupa teman-teman yang baik. “Fa! Ini aku ada soal matriks, tapi kok rumit banget ya penyelesainnya. Aku bisa minta tolong kamu untuk ajarin ini?”. “Coba lihat dulu soalnya”, Afa meminta buku Alif yang berisi soal matriks tadi,  mencoba memahami, dam mencari konsep dasarnya.

***

“Oh…ini. Ketemu! Ketemu!. Soal matriks ini pakai aturan dasar perkalian. Soal ini sebenarnya berbentuk seperti ini 2 (A + B) + C”, Afa menuliskan konsep dasarnya tersebut di sebuah kertas. “Eeemmm…iya, iya! Paham! Ternyata gitu”, respons Alif, “Oke, Fa! Makasih banyak ya! Kemampuan kamu dalam MTK memang nggak bisa kita ragukan lagi”.

“Halah! Kamu ini, Lif! Kita kan sama-sama masih belajar”. Selepas meminta penjelasan dari Afa, Alif melanjutkan kembali belajarnya. Alif memiliki metode tersendiri dalam belajar. Ia sadar ia tak bisa mengejar dengan cepat tingkat ekonomi teman-temannya yang ikut bimbel di luar sekolah. Oleh sebab itu, ia merasa harus belajar lebih keras meski dengan cara autodidak.

***

Salah satu cara yang Alif tempuh adalah dengan menambah waktu belajar. Jika biasanya Alif belajar sampai jam 11 malam, kini ia menambahnya hingga jam 12 malam. Sementara itu, untuk menambah bahan belajar, Alif tak segan untuk mengambil buku-buku milik kakak kelas yang sudah lulus. Beruntung Alif tinggal di pesantren, jadi ia tak bingung untuk mencari dan mendapatkan buku-buku dari kakak kelasnya.

Baca Juga  Menghadapi Lingkaran Pengajian Ibu-ibu

Setiap malam Alif selalu mengerjakan soal-soal latihan. Khusus untuk mata pelajaran bahasa Inggris, Alif mempelajarinya dengan cara menerjemahkan kata per kata. Hal tersebut ia lakukan untuk menambah pengetahuannya perihal kosa kata bahasa Inggris. Alif menyadari bahwa ia memiliki kelemahan dalam mata pelajaran tersebut.

Tanggal pelaksanaan Ujian Nasional kian dekat. Namun, pendaftaran masuk perguruan tinggi jalur nilai rapor telah dibuka. Namun, sayangnya tidak semua siswa bisa mengikuti jalur tersebut. Hanya beberapa siswa yang nilai rapornya memenuhi standar minimal yang bisa ikut. Beberapa siswa yang tak bisa ikut merasa sangat kecewa, beberapa lagi merasa agak tenang mengingat masih ada jalur tes yang bisa mereka ikuti.

Siswa SMA kelas 12 kala itu benar-benar riuh, sibuk, tak dapat diganggu. Alif sendiri termasuk salah satu siswa yang dapat mengikuti jalur nilai rapor untuk masuk perguruan tinggi. Ia cukup bingung hendak memilih jurusan apa, pasalnya jurusan yang universitas tawarkan begitu banyak. Alif hendak bertanya kepada teman-temannya, tapi sepertinya hal tersebut tak akan menjawab kegelisahannya secara menyeluruh.

***

Alif melihat setiap temannya begitu sibuk. Pikiran mereka sepertinya sangat berfokus pada masa depan diri mereka masing-masing. Tak enak rasanya jika Alif mendistraksi pikiran teman-temannya dengan pertanyaan, “Menurut kamu, apa rekomendasi jurusan yang cocok untukku?”. Alif kemudian merasa harus mencari sendiri solusi problematika yang tengah ia hadapi. Ya! Sama seperti teman-temannya yang lain.

Alif melihat kondisi ekonomi keluarganya. Ia berpikir, lalu sadar bahwa ia tak bisa mengambil jurusan yang ada di fakultas sains dan teknologi. Sebab, biaya untuk kuliah di fakultas tersebut jelas sangat besar. Alif enggan memberatkan orang tuanya yang kini telah beranjak menua. Ia kemudian mencari jurusan yang diperkirakan biayanya agak murah. Akhirnya, Alif memilih fakultas Adab dan Humaniora sebagai tempat berpijak berikutnya.

Baca Juga  22 Maret Kemarin adalah 9 April di tahun lalu: Saya Telah Gagal

Satu bulan berlalu semenjak pendaftaran masuk perguruan tinggi jalur nilai rapor. Kini, saatnya pengumuman. Alif agak deg-degan ketika hendak melihat hasilnya. Ia takut jika ia tak lolos di jalur ini. Meski masih ada jalur tes, tapi jalur tersebut membutuhkan biaya. Alif merasa tak ingin sama sekali merepotkan orang tuanya.

Tak henti-hentinya Alif membaca sholawat untuk menenangkan hatinya yang sangat resah. Ia terus merapal doa, melangitkan harap semoga diberi yang terbaik.  Ketika mata Alif melihat dengan cermat hasilnya, ia seketika berkaca-kaca. Dalam pengumuman tersebut tertulis jelas kata “DITERIMA”. Hal itu membuat hati Alif sangat terharu. Ia mengusap wajahnya seperti orang sehabis berdoa, sambil beberapa kali mengucap syukur.

***

Pikiran Alif kembali ke masa sekarang. Dalam hati ia bergumam, “Perjalanan itu ternyata sangat berkesan. Terlampau cepat rasanya karena tiba-tiba sekarang aku telah berada di ujung perjalanan itu”. Alif masih terus membakar ikan, di sisi lain Sofi dan Budhe telah rampung membuat minuman. Ikan yang belum dibakar pun tinggal 5 ekor. Angin masih sesekali berhembus lumayan kencang, membunuh sisi kehangatan tubuh setiap orang.

“Kalau udah selesai kuliahnya, terus mau kemana, Lif?”, Pakdhe tiba-tiba melempar pertanyaan yang sangat Alif takuti. Alif merespons pertanyaan tersebut dengan senyum, ia memang masih bingung setelah ini mau apa. Dalam malam yang suasananya berubah-ubah tersebut, Alif kini termenung. Diam, memikirkan mau kemana lagi langkah kakinya setelah ini.

Bagikan
Post a Comment