f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Jadi Kerjaan Kami Apa Dong?

Ketika itu, sore menjelang malam. Seperti biasa, ketiga anak kami harus mengerjakan tugas masing-masing. Si Kakak, begitu kami sering memanggil anak tertua kami, membersihkan dan merapikan rumah, Adiknya, mencuci piring, dan si bungsu bertugas membersihkan halaman rumah. Pembagian tugas itu tak ujug-ujug ada. Tapi melalui sebuah proses yang cukup demokratis: berdasarkan kesepakatan antara kami, orang tua, dan mereka bertiga.

Setidaknya, selama dua tahun terakhir mereka telah menjalankan tugas itu. Dan nampaknya, masih akan tetap dipertahankan hingga si Kakak bersegaram putih biru tahun depan. Mengambil keputusan secara demokratis sudah kami biasakan sejak lama di rumah. Misalnya, berapa durasi tidur siang, menonton televisi, belajar, bermain gawai, dan apa pula sanksinya jika ternyata mereka melanggar. Semua itu kita putuskan lewat sebuah kesepakatan.

Waktu tidur siang misalnya, kami sepakati selama satu jam per hari, dari pukul 14.00-15.00. Sebenarnya, ketika kesepakatan itu kami buat dulu, anak-anak minta waktunya cukup setengah jam saja. Namun setelah berembuk, maka akhirnya tercapailah kesepakatan satu jam itu. Untuk hal yang satu ini memang mereka kerap kali gagal melakukannya. Entah kenapa, tidur siang menjadi momok bagi mereka. Tapi sebisa mungkin, aturan itu harus mereka jalankan.

***

Begitu pun untuk hal-hal lainnya, berapa lama waktu belajar, menonton televisi, atau bermain gawai. Untuk yang terakhir saya sebut, kami kerap kali kecolongan. Sesuai dengan kesepakatan awal bahwa masing-masing hanya dapat bersentuhan dengan gawai selama 1 jam dalam sehari. Namun mereka acap berondok-rondok entah di mana agar mereka dapat bermain game atau sekedar menonton kanal-kanal Youtube favorit mereka.

Kadang lolos, tapi tidak jarang pula mereka tepergok ketika sedang asyik dengan gawainya. Dan setiap kali melanggar kesepakatan seperti itu, maka mereka akan dijatuhi sanksi. Hukumannya beragam. Mulai dari tidak mendapat uang jajan dalam kurun waktu tertentu, hingga mengerjakan pekerjaan rumah di luar tugas yang secara rutin mereka harus kerjakan. Namun anehnya, sekalipun mereka acap mendapat sanksi seperti itu, selalu saja mereka melanggar.

Baca Juga  Membimbing Pengelolaan Emosi Anak

Nah, sore itu, ketika anak-anak kami seharusnya mengerjakan tugas rumahnya, ketiganya malah menghilang. Kami coba cari di tempat mereka biasa sembunyi ketika nyuri-nyuri main gawai, hasilnya nihil. Rupanya mereka sedang memanjat-manjat di pohon rambutan milik tetangga. Mereka memang kerap bermain di sana bersama teman-teman mereka setiap kali waktu main-main tiba. Tapi masalahnya, saat itu bukan lagi waktu bermain.

Sebelum mereka saya beri hukuman, saya berpikir bahwa sanksi yang sebelum-sebelumnya biasa mereka terima rasanya sudah kedaluwarsa. Perlu jenis hukuman lain yang memberi efek jera. Saya gunakan hak prerogatif saya sebagai orang tua untuk memberi mereka sanksi tanpa harus didahului dengan proses bersepakat seperti yang sudah-sudah. Tapi saya berpikir, “Hukuman apa ya?” Hingga sebuah ide muncul di benak saya.

***

Saya lalu panggil mereka, dan saya sampaikan hukuman baru yang mereka harus terima. Si Kakak, dan kedua adiknya, selama dua hari berturut-turut, tidak boleh bermain gawai. Mereka lalu protes. Bahwa apa yang saya putuskan itu tidak adil. Sambil menangis, anak kami yang paling kecil menyela, “Kalau enggak bisa main HP, jadi, kerjaan kami apa dong, Pa?”

Mendidik anak di era digital sekarang ini memang jauh lebih sulit dan kompleks ketimbang era jadul ketika handphone masih menjadi ranahnya kaum berduit. Dulu sebelum saya menjadi ayah, saya berpikir dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, akan lebih memudahkan para orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Namun ternyata, apa yang pernah saya pikirkan itu, tidak terbukti.

***

Salah satu yang paling sulit dari sekian banyak hal-hal sulit yang saya alami selama ini adalah, melepaskan anak-anak dari kecanduan gawai. Saya pikir tingkat kesulitannya mirip dengan bagaimana saya berjuang hebat untuk dapat berhenti merokok enam belas tahun silam. Bertahun-tahun saya berjuang. Berhenti seminggu, minggu berikutnya kembali lagi merokok. Berhenti sebulan, merokok lagi, hingga suatu saat saya akhirnya benar-benar berhenti, hingga hari ini.

Baca Juga  Healing dalam Islam

Ternyata, berdasarkan pengalaman yang saya alami, untuk benar-benar dapat berhenti dari pengaruh tembakau adalah berhenti total tanpa terlebih dahulu mengurangi jumlah batang rokok yang harus kita hisap setiap harinya. Jauhkan diri dari teman-teman perokok untuk sementara waktu, sibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan, dan satu lagi, dan ini hal yang terpenting menurut saya, harus ada niat kuat dari dalam diri kita untuk berhenti.

Nah, pengalaman semacam itu ingin saya terapkan kepada anak-anak saya agar mereka dapat terbebas dari ketergantungan bermain gawai. Tapi ketika saya coba dengan cara menjauhkan anak-anak secara penuh dari gawai, ternyata menimbulkan efek yang kurang baik bagi mereka. Mereka jadi cenderung pendiam, pemurung, dan kurang bergairah. Saya berpikir, jika saya teruskan begitu, saya khawatir akan berakibat buruk bagi psikis mereka.

***

Maka saya kembali ke aturan sebelumnya, boleh bermain gawai jika telah selesai belajar dan mengerjakan tugas-tugas rumah, menunggu ada solusi terbaik. Hingga dua tahun lalu, sebuah perubahan radikal kami buat. Yang pertama, anak-anak hanya bisa bermain gawai selama satu jam setiap harinya. Yang kedua, jika melanggar aturan, seperti tidak mengerjakan tugas yang telah kami sepakati, maka hukumannya tidak bisa bermain gawai dalam jangka waktu tertentu. Tidak lagi seperti hukuman-hukuman sebelumnya.

Selain membatasi durasi bermain gawai dan memperbaharui jenis hukuman jika ternyata melanggar aturan, ada satu lagi kesepakatan yang kami buat: setiap hari Sabtu, anak-anak “puasa” bermain gawai. Beberapa minggu aturan itu mereka laksanakan; anak-anak masih sering kali protes agar dibuat perubahan kesepakatan. Tidak jarang pula mereka merintih memohon-mohon agar saya beri waktu tambahan barang setengah jam saja.

Baca Juga  New Normal di Tempat Bermain

Jujur saja, saya sering merasa iba ketika melihat mereka memohon-mohon seperti itu. Tapi, aturan harus saya jalankan secara tegas. Dan terbukti, setelah beberapa kali mereka memohon-mohon seperti itu tapi saya tidak pernah mengabulkannya, akhirnya anak-anak sepertinya menyadari jika permintaan mereka itu hanya sebuah kesia-siaan saja. Hingga lama-kelamaan, kesepakatan-kesepakatan itu menjadi semacam kebiasaan bagi mereka.

Dua tahun sudah kebiasaan baik itu kami jalankan. Anak-anak sudah terbiasa bermain gawai hanya satu jam sehari. Jam-jam tersisa lainnya mereka manfaatkan untuk bermain berbagai macam permainan tradisional. Seperti bermain petak umpet, kelereng, lompat tali karet, dan congklak. Sudah begitu banyak pula hari Sabtu kami lalui tanpa gawai. Hari yang cukup berharga itu biasanya kami isi dengan berbagai macam kegiatan. Dan kami cukup bahagia.

Bagikan
Post a Comment