f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gunung es KDRT

Gunung Es KDRT di Sekitar Kita

Sebagai seorang guru ngaji di lingkungan setempat, cukup sering saya menerima berbagai keluh kesah dan curhatan dari para jama’ah yang mengaji kepada saya. Baik pria maupun wanita, termasuk ketika pada suatu sore saya kedatangan tamu, tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah saya.

“Tolong pak, saya diperkosa suami…”

Saya tertegun cukup lama ketika seorang wanita yang masih cukup muda menemui saya dan mengawali ceritanya dengan kalimat tersebut. Dengan membawa puteranya yang masih berumur tiga tahunan ia berkeluh kesah tentang kondisi rumah tangganya yang sangat tidak sehat.

Sejujurnya bahkan saya merasa aneh jika ada peristiwa perkosaan yang seorang istri alami oleh suaminya sendiri. Karena bagi saya relasi suami dan istri adalah sakral, yang berlandaskan oleh rasa kasih sayang  dan welas asih antara keduanya. Sehingga kejadian kekerasan-apapun bentuknya-dapat dihindari.

Saya tidak habis pikir, kok ada orang yang tega melakukan kekerasan terhadap keluarganya, atau terhadap pasangan hidupnya. Bahan macam apa yang telah membentuk hatinya sehingga ia dapat melakukan hal-hal di luar nalar, seperti memerkosa, memukul, melukai, hingga tindakan-tindakan verbal yang bersifat ancaman atau penghinaan terhadap keluarga atau pasangannya.

Entah selama ini saya yang kurang pergaulan atau bagaimana. Namun setelah kejadian tersebut saya ceritakan kepada istri saya, saya justru mendapatkan informasi yang cukup mengejutkan, bahwa sebenarnya kejadian kejadian serupa juga terjadi pada banyak sekali pasangan suami istri.

Sebelumnya cerita-cerita semacam ini memang sudah sering saya dengar, entah dari media elektronik, media cetak atau media sosial, saya hanya tidak menyangka bahwa kejadian KDRT ternyata bisa berada di sekeliling kehidupan kita dan menimpa orang-orang yang kenal dan dekat dengan kita.

Baca Juga  Bobroknya Moralitas Bangsa, Siapakah yang Bertanggung Jawab?

Teman saya, keluarga A yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan bara di dalam rumah tangganya. Ibu B yang tampak selalu riang gembira ternyata menyimpan derita  akibat perbuatan suaminya. Ibu C yang rajin ibadah itu juga ternyata tak jarang mendapatkan kekerasan yang bersumber dari rumahnya.

Bahkan korban KDRT juga tidak hanya dari kalangan wanita. Pria atau suamipun ternyata bisa saja mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari istrinya, meskipun jumlahnya tidak sebanyak wanita.

Semua cerita dan kejadian tersebut menjadikan saya prihatin dan sedih. Karena selain saya cukup terkejut bahwa ada sebagian teman teman saya yang ternyata memiliki kehidupan keluarga yang tidak baik-baik saja, sayapun merasa tidak mampu berbuat banyak untuk memberikan solusi atas persoalan rumah tangga mereka.

Seperti halnya ibu yang menemui saya dan menceritakan keadaan rumah tangganya. Saya hanya hanya berusaha untuk dapat menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpalinya dengan dengan nasihat-nasihat klise yang bahkan saya sendiri tidak yakin apakah nasihat tersebut dapat menghiburnya atau tidak.

Saya dibuat takjub dengan kekuatan, kesabaran dan ketabahan si Ibu tersebut. Bertahun tahun ia mengalami kekerasan baik fisik maupun verbal,  bertahan dalam keadaan yang sangat tidak nyaman bagiya dan sang anak. Padahal sepanjang hari ia selalu dalam keadaan was was, karena sekali bikin kesalahan maka suaminya tidak akan segan memukulnya, minimal mencaci dan mengumpatnya. Dan ketika malam datang, iapun tidak dapat langsung merehatkan tubuhnya, karena masih harus melayani suaminya. Tak peduli ia dalam keadaan capek ataupun sakit, ia tetap dipaksa harus melayani sang suami.

Mungkin ketika si ibu tersebut menemui saya, ia hanya ingin bercerita, tanpa berharap banyak saya dapat mencarikan jalan keluarnya. Mungkin baginya yang terpenting saat itu adalah ia dapat menguapkan segala emosinya, melepaskan beban dan belenggu yang selama ini menghimpitnya-kepada orang yang ia percaya tidak akan menyebarkannya.

Baca Juga  Menjadi Laki-Laki yang Anti Gengsi

Maka saya cukup merasa lega ketika ia berkata sudah agak plong setelah menceritakan semuanya. Cerita yang selama ini ia tutup dengan rapat, cerita yang selama ini ia pendam sendiri. Cerita yang bahkan kedua orang tuanyapun belum tahu. Entah karena malu atau karena hal lain yang tidak saya tahu.

Saya tidak tahu, sampai kapan ibu itu akan bertahan. Saya hanya berharap semoga ibu tersebut tetap kuat dan sabar, dan suatu saat. Mungkin perlu ketegasan sikap dalam rangka membela kehormatan diri dan anak anaknya, karena kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Amat disayangkan jika kita tidak mengisinya dengan hal hal yang membahagiakan diri kita.

Dan jika kita mau membuka mata kita, maka apa yang telah terjadi pada ibu tersebut akan banyak kita jumpai di sekitar kita. Sebagaimana gunung es dilautan yang hanya terlihat puncaknya saja. Kejadian tersebut sebenarnya bisa saja terjadi pada teman kita, tetangga kita, saudara kita, atau bahkan diri kita.

Bagikan
Post a Comment