f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Kemanusiaan

Menyalakan Api Kemanusiaan di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: M. Ibnu Rizal

Pandemi virus SARS-CoV-2 atau Covid-19 telah mengajarkan kita arti sebuah kehilangan. Bukan hanya nyawa. Pekerjaan pun ikut hilang akibat pagebluk global ini.

Inilah krisis paling akut yang dialami dunia. Bahkan menurut Organisasi Buruh Dunia (ILO), krisis ini paling parah sejak Perang Dunia II lantaran angka kehilangan pekerjaan bertambah pesat dan diprediksi terus bertambah.

Data yang dirilis oleh ILO menyebutkan, sekitar 2,7 miliar pekerja di seluruh dunia terdampak efek ekonomi pandemi Covid-19. Bentuknya macam-macam, mulai dari pengurangan jam kerja, dirumahkan, cuti tanpa digaji hingga PHK tanpa pesangon.

Indonesia sendiri turut menjadi negara penyumbang angka terbesar warganya yang kehilangan pekerjaan.

Seperti yang diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik (1/5/20). Beliau menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa.

Pemerintah sendiri telah mewanti-wanti sejak awal agar perusahaan tidak cepat mengambil sikap untuk melakukan PHK. Bahkan PHK itu sendiri merupakan opsi terakhir disamping masih bisa mengurangi jam kerja atau dirumahkan sementara.

Namun justru fakta di lapangan berbicara lain. Melakukan PHK telah menjadi pilihan bagi sebagian perusahaan-perusahaan padat karya. 

Cerita tragis korban PHK akibat pandemi Covid-19 dialami Dul Rohmat (30), salah seorang Warga asal Kabupaten Grobongan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek bangunan di Solo. Rohmat beserta istri, adik dan anaknya yang masih berusia 13 bulan harus rela tidur di becak setiap harinya.

Bagi Dul Rohmat, tidak ada pilihan lagi selain menyewa becak sebagai tempat tidur. Sudah hampir satu bulan ia tidak merasakan empuknya kasur dan hangatnya selimut. Hal ini lantaran dirinya kini tak mampu lagi membayar sewa indekos yang sebelumnya ia tempati ketika masih bekerja di proyek.

Baca Juga  Bekerja dengan Rasa Syukur

Jika pulang kampung, Dul Rohmat harus dikarantina selama 14 hari dan tidak mendapat upah.

Keadaan yang dialami Dul Rohmat tersebut adalah bagian kecil dari jutaan jeritan rakyat yang mengalami PHK. Di luar sana, tentunya masih banyak korban PHK yang lebih parah dari Dul Rohmat, hanya saja tak beredar di ruang maya.

Membuka Masa Lampau

Saya hendak mengajak kita untuk sama-sama membuka lembaran sejarah masa lampau. Tepat di tahun 1998-1999 ketika Indonesia tengah mengalami masa-masa krisis, berkat masyarakat sipil yang kuat dan hidup, terbukti Indonesia mampu melewatinya.

Bahkan menurut Ayzumardi Azra dalam artikelnya yang terbit di republika (30/04/20) fenomena ini turut menjadi perhatian pengamat asing. Seperti Shane Preuss yang menulis artikel berjudul ‘Indonesia and COVID-19: What the World is Missing’ (The Diplomat, April 24, 2020). Shane menyatakan, ketika pemerintah Indonesia terseok (stumbled), masyarakat sipil bangkit menyelamatkan.

Masyarakat sipil (civil society) yang kuat dan terus hidup ini merupakan modal sosial berharga bagi bangsa Indonesia. Tak banyak kita jumpai di negara-negara lain, bahkan di negara maju sekalipun. Melihat fakta historis tersebut, saya merasa optimistis bahwa Indonesia dapat melawan krisis pangan,sosial dan ekonomi di tengah pandemi global ini.

Patut kita apresiasi peran masyarakat sipil (civil society) yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai tingkat RT hingga Ormas, dan lembaga-lembaga filantropi yang terus bergerak atas semangat kemanusiaan.  Bahkan di tengah pandemi seperti ini, mereka tak henti-hentinya bergerak sampai ke pelosok negeri sekalipun.

Agama untuk Kemanusiaan

Peran agama di masa-masa pandemi ini sangatlah penting disamping peran-peran pemerintah. Karena agama memiliki spirit teologis yang membuat manusia sadar akan tanggung jawabnya. Ketika manusia saling membutuhkan, agama hadir sebagai problem solver atas masalah-masalah kemanusiaan.

Baca Juga  Rem Belanja Online Saat Pandemi

Akan tetapi agama saja tidak cukup jika tidak dibarengi kesadaran umat yang beragama. Artinya jika kita mengaku mempunyai agama, sudah semestinya agama kita menjadi spirit untuk menolong sesama.

Sebagai muslim Indonesia, saya merasa bangga karena Indonesia punya dua Ormas yang berkontribusi besar – seperti Nahdlatul Ulama’ (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya tak pernah pudar untuk saling bahu membahu menolong umat di tengah masa-masa krisis seperti ini.

Apa Jadinya Jika NU dan Muhammadiyah Hilang dari Indonesia?

NU dan Muhammadiyah memang selalu mengedepankan dan menjaga ukhuwah. Mulai dari ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan antar umat Islam), ukhuwah wataniyyah (persaudaraan antar sesama bangsa)dan ukhuwah basyariyyah (Persaudaraan antar sesama manusia).

Ukhuwah di atas tidak hanya bicara soal persaudaraan, namun juga menekankan agar kita saling tolong menolong antar sesama agama, bangsa dan manusia.

Pertama, ukhuwah Islamiyah menekankan rasa persaudaraan dan rasa kemanusiaan antar sesama umat Islam. Maka sudah semestinya kita sebagai sesama muslim saling tolong menolong, tanpa harus memandang latar belakang ormas dan golongan.

Kedua, ukhuwah ukhuwah basyariyyah menekankan agar kita saling menjaga rasa persaudaraan dan rasa kemanusiaan sebagai sesama warga Indonesia. Tanpa membeda-bedakan ras,suku,agama dan budaya.

Ketiga, ukhuwah basyariyyah menekankan agar kita saling menjaga persaudaraan dan rasa kemanusiaan sebagai sesama manusia, bahkan antar negara sekalipun. 

Mengingat kita sebagai negara yang erat akan perbedaan, maka bukan saatnya lagi untuk membeda-bedakan agama,ras,suku dalam hal tolong-menolong.

Masa-masa pandemi seperti ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk memperkuat kembali ukhuwah tersebut. Tentunya kita tidak ingin ada sekat-sekat sektarian bahkan diskriminasi lintas keyakinan.

Cukuplah tragedi penolakan jenazah perawat di Semarang menjadi pelajaran berarti buat kita. Tentunya kita tidak ingin peristiwa serupa terulang kembali untuk kedua kalinya. Hendaknya kita tidak merasa yang paling tahu jika bukan ahlinya.

Baca Juga  Krisis Lingkungan di Tengah Pandemi

Kita tidak bisa membayangkan betapa sakitnya keluarga korban yang ditolak tersebut. Bukankah tugas kita sebagai manusia adalah untuk saling menghargai satu sama lain?

Sebagai seorang muslim, berlaku adil adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Bahkan semestinya wabah Covid-19 ini menjadi teguran bersama agar kita senantiasa berbuat baik tanpa melihat golongan.

Arti Kehilangan

Kini wabah pandemi ini telah mengajarkan kita bahwa arti sebuah kehilangan itu hendaknya mampu menghidupkan rasa kemanusiaan kita. Kebermanfaatan apapun yang kita lakukan sangatlah berarti meskipun hanya seberat biji sawi.

Tak perlu banyak berkeluh kesah dan berharap pada pemerintah. Karena di masa-masa sulit seperti ini masih sempat-sempatnya mereka ngakali rakyat. Tak perlu disebutkan disinilah aib-aib mereka, toh kita juga sudah sama-sama tahu. 

Saya yakin dan optimistis bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit ini. Meskipun berat, saya yakin jika kita sama-sama sadar dan mengedepankan rasa kemanusiaan, krisis ini akan segera berakhir.

Bagikan
Post a Comment