Sebelum Menikah, Yakinkan Diri Anda pada Hal-Hal Ini
Tidak ada orang yang menikah itu berencana untuk bercerai, setidaknya saya dulu juga berpikir demikian. Berkenalan dengan seorang laki-laki dalam tempo yang sangat singkat dan langsung berani melamar, itu terasa sangat membahagiakan. Terlebih pernikahan itu dilaksanakan di tanggal yang cantik dambaan setiap perempuan, 7 Juli 2007 (777), itu lebih terasa melengkapi perasaaan bahagia dan waktu itu, rasanya seolah-olah bahwa itu jadi gerbang menuju kebahagiaan tiada akhir.
Tapi itu ternyata memang hanya eforia sesaat. Pernikahan tidak sesederhana yang ada di pikiran. Saya dihadapkan pada fase kehidupan yang berbeda. Ketika menikah, kita jadi punya pasangan, jadi setiap tindakan saling mempengaruhi. Banyaknya perbedaaan mulai dari karakter, cara pandang hidup, sampai dengan impian tentang pernikahan, ternyata bukan perkara sepele. Setelah 10 tahun menikah, akhirnya saya pun memutuskan bercerai, dan butuh waktu setidaknya 3 tahun untuk saya kembali bangkit.
***
Wah, mau nakut-nakutin yang mau nikah ya? Tentu saja tidak ada niat saya demikian. Nikah itu gampang lo, serius! Buat yang muslim, hanya dengan satu tarikan nafas saja, sah jadi suami istri. Yang sulit itu kalau sampai harus bercerai. Mulai dari tekanan keluarga, beban mental, trauma, dan proses pengadilan yang panjang. Bahkan jika kemudian harus berebut harta gono gini dan hak asuh anak, itu akan jadi proses yang melelahkan secara fisik dan mental.
Jadi sebelum menikah, sebelum bilang “mungkin ini sudah jodoh saya” atau “saya menikah biar halal” dan lain sebagainya, sebaiknya pertimbangkan beberapa catatan atas hal yang saya abaikan dulu.
Yakinlah kalau kita dan pasangan memang saling cinta. Ingat ya, saling cinta. Cinta harus dua arah. Jika hanya kita yang cinta atau sebaliknya, akan sulit membangun kedekatan atau keintiman yang dibutuhkan dalam pernikahan.
Kondisi seperti baru kenal sudah berani melamar, hubungan yang sudah terlalu lama, sudah saling mengenal keluarga, merasa tidak ada lagi pilihan, merasa sudah usia, atau bahkan jika hubungannya sudah terlanjur kebablasan, jangan pernah dijadikan alasan untuk menikah.
Camkan dalam ingatan, yang kita pertaruhkan adalah masa depan dan sepanjang sisa hidup kita. Jadi tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah ada rasa saling cinta dan yakin untuk hidup bersama seumur hidup kita. Oh ya, kalau ada yang lagi pacaran sama orang yang kasar, suka berkata-kata jelek, dan bahkan sudah berani main tangan, jangan ragu untuk berpisah ya. Jangan naif berpikir bahwa nanti kalau sudah menikah semua sikap itu akan berubah.
***
KDRT menjadi pemicu keberanian saya untuk bercerai, meski banyak masalah lain yang faktanya sudah menjadi duri sepanjang perjalanan 10 tahun itu. Bodohnya saya, yang sebenarnya sudah mengetahui sifat kasar itu sejak awal, tapi terlalu naif berpikir bahwa itu tidak akan terjadi pada saya jika menjadi istri yang baik.
Saya hidup seperti menggunakan topeng, berusaha menjaga semua baik-baik saja agar tidak terjadi perselisihan, melakukan segala hal yang perlu dilakukan agar pernikahan tampak kokoh dan bahagia, sedang faktanya saya menderita karena tidak bisa berbagi beban dan mengambil hampir seluruh tanggung jawab rumah tangga. Dalam setiap perjalanan saya pulang kerja menuju rumah, yang muncul dalam benak saya adalah hal apa yang akan dipermasalahkan malam ini. Sungguh menderita, bukankah menikah tujuannya untuk bahagia ya?
Pacaran itu buat mengenal pasangan lebih dekat. Pastikan apakah kita punya komunikasi yang baik dan nyaman seperti yang kita butuhkan. Bayangkan bahwa kita akan terjebak bersama pasangan seumur hidup, bukan orang tua atau anak-anak kita. Kenyamanan dalam komunikasi tentang apapun itu sangat penting.
Menikah itu akan jadi proses komunikasi yang tidak pernah berhenti. Mulai dari hal sepele soal cara menaruh handuk di kamar mandi, sampai dengan hal besar seperti bagaimana mengirim uang rutin buat orang tua. Semua butuh komunikasi yang bikin kita nyaman. Bahkan saat bertengkar pun, kenyamanan dalam komunikasi itu penting. Bertengkar dengan teman bisa berhenti berteman, lah kalau bertengkar sama pasangan, apa mau langsung bercerai?
***
Yang tidak kalah penting adalah impian tentang pernikahan. Saya bilang impian, alih-alih konsep, karena biasanya kita sudah punya angan-angan jauh sebelum menikah. Karenanya, kita harus punya impian yang selaras dengan pasangan.
Impian itu banyak sekali contohnya. Sebagai perempuan, ada yang suka suami berbagi tanggung jawab urusan rumah tangga, suka suami yang mengambil penuh tanggung jawab finansial keluarga meski istri juga bekerja, suka suami yang mengutamakan keluarga, suka suami dengan hobi yang sama dan masih banyak lagi.
Begitupun sebaliknya laki-laki. Ada yang suka istri pintar masak, suka istri yang suka olahraga, suka istri di rumah dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan semua impian itu, karena itu semua adalah pilihan, jadi yang dicari adalah pasangan yang cocok. Jangan dicocok-cocokin!
Terakhir adalah relasi pasangan dengan keluarga. Setelah menikah, kita punya keluarga sendiri, tapi bagaimana relasi kita dengan keluarga besar, seperti orang tua dan saudara kandung, itu juga penting. Kenapa? Karena pada akhirnya, di manapun kita berada, keluarga itu selalu jadi pelabuhan. Yang sederhana saja deh, begitu kita punya bayi, orang pertama yang kita bikin repot adalah orang tua, iya kan? Jadi pasangan yang bisa mendekatkan kita pada keluarga itu penting.
Menikah itu untuk bahagia. Tuhan tidak marah kok kita mencari bahagia di dunia. Bahwa dalam pernikahan itu kemudian banyak pengalaman hidup baru yang harus dijalani, ya memang begitu kan kehidupan. Jadi mumpung masih bisa memilih pasangan hidup, ya pilih dengan pertimbangan yang matang. Jangan baru nikah terus nyesel, ternyata si dia a be ce de……Please deh, kemarin-kemarin ke mana?
