Sepotong Pizza untuk ASI
Oleh : Dede Dwi Kurniasih*
Suatu siang, seorang staf finance mencondongkan kepala di sela-sela pintu ruangan kantor saya sambil berbisik, “Mbak, ayo naik ke atas. Buruan ayoooo!” Nadanya terdengar begitu bersemangat sambil menahan banyak euphoria.
Sebagai orang yang tidak terlalu selo, saya menerima ajakan itu dengan setengah hati. Pasti ada sesuatu yang membuatnya nampak bersemangat sehingga saya harus menuju ke ruangannya yang penuh sesak itu. Jeda antar mejanya saja penuh jika saya berdiri diantaranya, ya karena badan saya memang tebalnya di atas rata –rata juga sih.
Baru satu langkah di depan pintu ruangan, aroma yang asing namun sedap menusuk hidung saya. Saat menelusuri sampai meja ke empat, baru saya tahu ada dua box pizza. “Ayo makan guys, enak loh lumer ini pinggirannya” Ucapnya sambil menyeringai. Enak, sungguh enak. Kami semua, berterima kasih pada mbak Finance karena mentraktir di siang yang bokek dengan penganan yang tak murah : PIZZA. Bagi saya, makanan itu tentu tak selalu setiap bulan. Setahun sekali pun tidak.
Dari obrolan di tengah kunyahan itu, teman kantor saya bersikeras menikmati Pizza sebab ia ngidam sekali makanan ini pasca melahirkan kemarin. Setelah cuti 3 bulan, Ia kemudian kembali bekerja dan berhasrat menuntaskan semua keinginan ini demi satu tujuan : kelancaran ASI bagi si buah hati.
Agak absurd memang, bukankah daun katuk lebih bermanfaat bagi produksi ASI dibanding PIZZA itu sendiri? Tentu saja, logika saya menolak kehadiran PIZZA untuk memperlancar ASI. Ini pasti bikin bikinan temen saya aja mengkambing hitamkan anaknya supaya ia bisa jajan lebih mahal dari biasanya. Benarkah demikan?
Singkirkan dahulu pemikiran itu, kisanak.
Dari literatur yang saya baca selanjutnya, WHO dan Depkes RI pada tahun 2005 menyatakan bahwa selama 6 bulan pertama kehidupan bayi hanya menerima ASI tanpa penambahan cairan atau makanan padat lainnya kecuali sirup berisi vitamin, suplemen mineral atau obat. Itu artinya bahwa selama 6 bulan pertama kehidupan bayi sangat bergantung pada sebanyak apa produksi ASI yang ibu berikan kepada bayi.
Pemenuhan ASI yang diberikan ibu pada bayi dapat memunculkan tafsir klise yang mengatakan bahwa ibu menjadi satu satunya pihak yang menentukan banyak tidaknya ASI diproduksi. Padahal sebagaimana bayi yang diproduksi oleh sperma dan ovum secara bersamaan, produksi ASI juga dipengaruhi oleh beberapa pihak yaitu ibu dan dukungan keluarga. Maka menjadi penting bagi seluruh anggota keluarga memiliki pengetahuan dan memberikan dukungan psikologis yang stabil untuk mendukung kelancaran ASI.
Namun alih-alih mencari tahu pengetahuan mengenai menyusui, para pasangan yang bertujuan membangun biduk rumah tangga dan mendapat keturunan lebih tertarik menjalani masa pacaran yang penuh bunga, berlambang feeds instagram tertata rapi dan caption romantis dengan hastag relationship goal.
Padahal pengetahuan mengenai menyusui harusnya dipahami baik oleh perempuan maupun laki-laki ketika memutuskan berhubungan serius dan merencanakan memiliki anak. Pengetahuan yang benar dari kedua belah pihak akan berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku terhadap ibu selama menyusui. Sebab tanpa pengetahuan yang cukup, masa menyusui kadang diramaikan oleh pengetahuan turun-temurun yang tidak selalu tepat.
Singkat kata, kita dengan mudah terbawa arus mitos yang berkembang di masyarakat.
Misalnya saja, seorang pasangan terburu buru memilih air susu berbayar dengan alasan payudara ibu yang kecil sehingga tidak mampu menghasilkan ASI yang cukup. Padahal, ukuran payudara tidak menentukan banyak atau sedikitnya ASI yang diproduksi. Sebab kita semua tahu, besar kecilnya payudara dipengaruhi oleh kuantitas lemak sementara produksi ASI dibentuk oleh jaringan air susu alveoli, bukan oleh jaringan lemak.
Dua dari sekian ratus mitos mengenai menyusui ini menyerang sekian juta pasangan yang menikah setiap tahun. Ketidak tahuan akan akses informasi terpercaya tentu menjadi sumber utama.
Minimnya pengetahuan ini juga kian diperparah dengan tidak stabilnya kondisi psikologis ibu yang tengah menyusui. Kurangnya rasa percaya diri membuat ibu merasa pesimis dirinya mampu menyusui bayinya secara esklusif.
Belum lagi pada struktur masyarakat tertentu biasanya menuntut dua hal pada istri pasca melahirkan, yaitu : bayi yang tidak rewel serta istri yang langsung langsing pasca melahirkan. Tuntutan sosial ini biasanya dideklarasikan saat rombongan penengok bayi yang kemudian seolah memberi tips jitu : jamanku dulu langsung minum jamu anu, biar langsung rapet lagi.
Jarang sekali para penengok ini yang bertanya mengenai kesulitan ibu memberikan ASI dan mendengarkan keluh kesahnya menyangga bayi, atau menyenangkan ibu sebelum menjenguknya bertanya ingin dibawakan apa, menguatkan ibu tatkala bagun tengah malam, atau memberikan saran memilih kata yang tepat agar menyusun shift dengan suami untuk berkerjasama membentuk atmosfer yang kondusif agar produksi ASI berjalan lancar. Seringkali saat si ibu menceritakan ASI belum banyak, kita memberondongnya dengan saran ini itu tapi luput memberi saran pada suaminya untuk turut serta menyendawakan bayi, mengganti popoknya, menggendong dan memijat bayinya sebagai bentuk pembagian tugas yang adil demi ASI ekslusif yang lancar.
–mbak, sekarang ku mau belikan cha cha milk tea ya buat mbak Finance , biar makin semangat pumpingnya–
Sebaris pesan baru muncul di grup kantor kami, bahagianya saya dengan suppoprt sistem bagi busui di kantor ini.
*) Dede Dwi K, aktivis perempuan muda dan Ketua Departemen Sosial Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah
