f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Ramadhan Bagai Charger dan Refresher

Oleh : Irnie Victorynie*


Ramadhan tiba, semua orang bergembira. Tua dan muda, di kota maupun desa, semua bersemangat menyambut hadirnya bulan istimewa. Tak heran itu terjadi karena Ramadhan adalah bulan yang dimuliakan. Selama satu bulan penuh, terbentang banyak kebaikan dan keutamaan, serta berserak amalan yang bisa menjadi sebab untuk dapatkan ampunan dan Ridho dari Allah.

Ibnu Rajab Al-Hambali pernah bilang begini, bagaimana mungkin umat Islam tidak bahagia dengan datangnya Ramadhan, sementara Allah memberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu Surga. Selain itu, pintu-pintu nerakapun ditutup. Beliau melanjutkan, bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu.

Dalam putaran satu tahun, Ramadhan menjadi bulan ke-sembilan, dalam kalender hijriah. Dari total 12 bulan, Ramadhan dapat giliran muncul setelah berselang sebelas bulan sebelumnya. Kemudian, berputar lagi, hingga bertemu Ramadhan tahun berikutnya. Begitu seterusnya. Kemudian fakta lainnya, diantara semua bulan itu, Ramadhan dikhususkan dengan keutamaan yang agung dan keistimewaan yang banyak.

Fenomena tersebut cukup menarik perhatian. Membaca ritme bulan dalam setahun, Ramadhan terasa seperti arena untuk bebenah diri, untuk bekal berpetualang di sebelas bulan setelahnya. Ibarat kata, Ramadhan itu bagai charger bagi handphone. Setelah batere berkurang maka handphone harus segera di-charge, agar tidak mati. Begitupun diri dan hati ini. Lelah dan letih bergumul dengan perkara dunia yang penuh liku, selama sebelas bulan, maka perlu di-charge dan di-refresh, agar senantiasa segar dan benar.

Selama rentang ibadah di bulan Ramadhan, sebenarnya berserak hikmah dan pelajaran hidup yang berguna untuk men-charge dan me-refresh diri. Beberapa hal akan coba dikupas. Pertama, Ramadhan mengajarkan tentang pentingnya disiplin dan pengendalian diri. Dalam melaksanakan ibadah puasa tentu ada aturan yang jelas. Ada yang boleh dilakukan, dan sebaliknya, ada yang tidak boleh. Bahkan, penggunaan waktupun sangat tertib dan terjadwal. Misal, kapan waktu untuk makan sahur, berbuka puasa, shalat tarawih dan ibadah lainnya.

Bicara disiplin waktu, sebenarnya sudah lama Allah mengajarkan kita agar menghargai waktu. Dijelaskan dalam surah Al-‘Asr (103) ayat 1-3, “demi waktu, sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Sikap disiplin, sejatinya jangan hanya dilakukan selama satu bulan saja. Namun, lanjutkan pada bulan-bulan lainnya. Terus istiqomah, selama sebelas bulan pasca Ramadhan. Hingga kemudian berjumpa lagi dengan bulan madrasah berikutnya.

Bisa dibayangkan, bila disiplin dan kendali diri diterapkan di keluarga, sekolah, kantor, dan lingkungan lainnya, hidup akan aman dan damai. Tata tertib dan peraturan benar-benar dibuat untuk dipatuhi, bukan sebaliknya. Bahkan, bisa jadi, budaya “jam karet” yang sudah menjamur di mana-mana, bisa berangsur memudar. Jadi, bila menulis surat undangan, apapun acaranya, tidak usah lagi mengetik keterangan waktu dimundurkan setengah jam sebelum kegiatan dimulai.

Kedua, Ramadhan melatih diri untuk bersabar. Untuk menjalani ibadah puasa sebulan penuh, sungguh tidak mudah. Berusaha menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan melemahnya fisik, tentu memerlukan kesabaran yang ekstra. Ditambah lagi, serangkaian perintah yang harus ditaati, dan larangan yang harus dijauhi, juga butuh sabar.

Ramadhan bisa meng-upgrade kesabaran diutarakan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Keduanya menjelaskan bahwa puasa itu bulan kesabaran. Ada lagi, ungkapan yang sama dari Ibnu Rajab Al Hambali, menyatakan bahwa puasa adalah bagian dari kesabaran.

Sebagai tambahan, Allah ingin kita jadi penyabar, rupanya karena ada ganjaran yang besar. Seperti disebutkan dalam surat Az Zumar (39) ayat 10, “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Bila kita mampu berlatih sabar di bulan Ramadhan, mestinya bisa sabar juga di bulan selanjutnya. Karena untuk menjalani rutinitas sehari-hari, sangat butuh perisai sabar. Misal, sabar dalam mentaati peraturan di semua lingkungan; sabar mengantri bila banyak orang dengan kepentingan yang sama; sabar dalam menuntut ilmu; sabar saat mengalami keterbatasan atau kekurangan; bahkan sabar menghadapi beratnya ujian dan musibah; dan contoh lainnya.

Ketiga, Ramadhan mendidik kita agar dermawan dan berjiwa sosial. Perhatikan saja, setiap kali Ramadhan, banyak sekali program dan kegiatan sosial. Seperti, penggalangan dana untuk takjil gratis, buka puasa bersama, santunan untuk anak-anak yatim piatu, dan lain sebagainya.

Budaya berbagi yang ramai dilakukan di bulan Ramadhan, pertahankan hingga bulan-bulan setelahnya. Walaupun, programnya tentu berbeda, sesuai dengan kebutuhan. Karena faktanya, kondisi ekonomi setiap orang tidaklah sama. Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah, perlu mendapat perhatian dari pihak di atasnya. Maka, jangan berpangku tangan, dan diam seribu bahasa, melihat kesulitan orang lain.

Ada ucapan Rasulullah, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim ini, menggugah hati kita untuk memiliki tangan yang peka dan ringan membantu.

Ungkapan lainnya, dari Al Baihaqi, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” Hadits ini menegaskan bahwa berbagi terhadap sesama merupakan perbuatan yang dicintai Allah. Sebaliknya, pelit dan bakhil, tidak disukai.

Baca Juga  Alam dan Cinta Sang Ibu sebagai Sumber Kreativitas

*) Irnie Victorynie; Kandidat Doktor di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM), anggota Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia


Bagikan
Post tags:
Comments
  • Sugeng

    Mantap ..lanjutkan bu

    Mei 10, 2020
    • Irnie Victorynie

      Terimakasih, Pak Sugeng 🙂

      Juli 26, 2020
Post a Comment