Mana yang Dicari, Murah atau Berkah?
Oleh : Ratna Yunita Setiyani S*
Kita seringkali bersikap egois hanya karena ingin memenuhi ego kita dengan keinginan kita. Sadar atau tidak, sebetulnya keinginan tersebut terkadang bisa membuat orang lain terluka perasaannya. Cerita berikut yang merupakan pengalaman nyata dari diri saya pribadi. Semoga dapat sama-sama diambil hikmahnya dan menjadi pembelajaran bahwa sikap empati mutlak diperlukan dalam ikrar jual beli.
Suatu hari aku pergi ke toko buah membeli buah yang memang jadi kesukaan keluarga kami. Di samping itu, buah seolah sudah menjadi makanan wajib setiap pagi sebagai sarapan buah setelah perasan jeruk nipis masuk dalam lambungku.
Cerita Menawar Barang
Seperti hari-hari biasanya, aku dengan gayaku menawar pada penjual buah dengan harga yang klik. Yah bahasa lainnya agak sak karep dewek alias semaunya sendiri. Kadang-kadang tidak dikasih tapi kadang-kadang juga dikasih dengan ditambah bonus omelan atau mungkin sebagai ungkapan rasa kecewa penjual karena buahnya walau diborong tetap saja ia mungkin merugi. Tapi tetap saja tak kuhiraukan karena sudah puas dengan trik menawar yang disepakati dengan terpaksa, walau dengan kesepakatan yang membuat si penjual gak puas berarti kan.
Nah, saat buah sudah dikonsumsi di rumah, ada saja yang menjadikan buah itu tidak sepenuhnya dapat kami konsumsi. Entah yang kemudian rasanya jadi gak begitu enak seperti yang biasanya/diharapkan, ada yang terus tiba-tiba pas mau dimakan jatuh, ada yang terus tiba-tiba baru sehari sudah busuk, dll.
Beberapa waktu kemudian, setelah buah di rumah habis, kubeli lagi buah di tempat yang sama tapi kali ini aku mencoba tidak menawarnya, seberapapun dikasih oleh si penjual aku ikuti. Yah tapi bukan berarti tidak dikorting sih. Misal habisnya Rp.148.300,- nah yang Rp. 300,- rupiah itu dikorting (dikurangi harga). Tapi kortingan itu murni datang ikrarnya dari si penjual. Jadi hanya diminta membayar Rp. 148.000,- saja.
Ajaibnya, saat buah dikonsumsi di rumah, seolah dijampi-jampi, rasanya menjadi lebih pas/lebih seperti yang diharapakan. Ya bilang saja manislah gitu, terus tidak ada kejadian buah terbuang percuma seperti busuk tiba-tiba, atau jatuh saat mau dimakan, dll. Dan semua bagian buah termanfaatkan dengan dapat dikonsumsi. Bahkan kulit buahpun menjadi mainan bagi anak-anak dengan dipenuhi tawa canda dari anak-anak seolah sebagai tanda kebahagiaan.
Ilmu Ikrar Jual Beli
Teman-teman sekalian, ini memang pengalaman pribadi. Kalau ada teman yang punya pengalaman sama seperti saya, yuk coba kita buat dinamika psikologis tentang buah ini. Tapi yang belum pernah mengalami, semoga bisa jadi tambahan pengetahuan yang semoga bisa juga membawa manfaat untuk dijadikan bahan acuan agar kita jadi lebih baik dan makin baik setiap harinya. Baik tidak hanya pada kantong kita saja, tapi juga baik secara etika. Baik dengan orang lain dengan juga ikut empati atas apa yang mereka lakukan, dan baik pada setiap tutur kata yang kita ucapkan pada orang lain.
Dari pengalaman pribadi tersebut, saya menjadi paham, bahwa ikrar jual beli atau ijab qobul membeli makanan (dalam hal ini buah), ternyata juga membutuhkan ilmu di dalamnya. Tidak hanya ilmu ekonomi saja agar pembeliannya lebih ramah di kantong. Tetapi juga ilmu etika, ilmu ikhlas, ilmu pertimbangan, ilmu kelihaian memilah dan memilih. Selain itu, ilmu harga, ilmu mengambil hati, ilmu berbahasa jawa halus, dan yang nyambung banget dengan bidang saya nih, ilmu psikologi juga sangat diperlukan ternyata.
Pelajaran Kehidupan
Dari kesemuanya, mungkin bisa dikatakan bahwa 90% tidak saya dapatkan di bangku sekolah formal, tapi lebih pada bangku sekolah kehidupan. Bagaimana tidak? saat membeli buah, saya tidak hanya dihadapkan pada bagaimana keterampilan saya dalam berbahasa lugas atau verbal, tapi juga bahasa tubuh. Dan saat penjual tidak mengikhlaskan 100% barang dagangannya saya beli (yang terlihat dari omelannya saat saya tawar dengan harga tertentu, walau dikasih juga sih. Mungkin penjualnya gak punya pilihan karena sayanya juga lumayan borong).
Akibat dari ijab qobul dari jual beli yang tidak ikhlas tersebut, jadilah beberapa buah dari yang saya beli njur muspro alias tidak bisa dikonsumsi dengan layak, atau malah tidak manis atau kecut. Ini hal sepele yang bisa saja luput dari kita. Ibarat dinamika psikologis antara Ibu dan anak, yang kalau tidak diputus mata rantainya maka terus saja ini akan terjadi.
Diperlukan keterbukaan, dan keberanian serta keihlasan untuk menerima bahwa memang kita juga punya andil salah. Perlu kekuatan untuk bisa memutus mata rantainya, kalau hal ini tidak ingin terus-terusan berlangsung.
Keikhlasan yang Berbuah Manis
Buah yang dilepas dengan tidak ikhlas oleh si penjual sama halnya dengan anak yang tidak ikhlas dilepas orang tuanya pergi untuk mencari ilmu ke tempat yang jauh walaupun sebenarnya boleh-boleh saja. Sama halnya juga dengan istri yang pergi dari rumah untuk bersenang-senang dengan peergroup-nya tapi kurang disukai oleh suaminya walaupun boleh.
Sama halnya juga dengan saat anak pergi bermain ke rumah teman tapi orang tua tidak ikhlas melepasnya pergi walaupun boleh. Hal-hal seperti ini bukankah sering terjadi di kehidupan kita? Tahukah teman-teman bahwa ternyata alam bawah sadar kita terkadang mbatin (memikirkan) sesuatu yang itu berpengaruh terhadap hasil atau apa yang akan terjadi kemudian?
Yuk sama-sama kita saling belajar. Belajar menerima, melepaskan, mengikhlaskan dengan sepenuh hati. Belajar etika dan empati dengan siapapun walau memang kita akan agak sedikit kehilangan uang atau tenaga ketika mendapatkan sesuatu itu. Tapi sadarilah, bahwa hasil atau yg terjadi kemudian adalah sesuatu yang betul-betul insyaAllah bermanfaat buat kita, karena berkah itu hanya akan kita dapatkan saat ikrar itu dilandasi ikhlas. Tak ada sesuatu yang tak bermanfaatpun dari barang yang di dalamnya mengalir keberkahan dari-NYA, InsyaAllah. (s)
*)Penulis adalah Dosen UNISA Yogyakarta, Koordinator LDP MCCC PP Muhammadiyah
