Pandemi yang Kembali Menghubungkan Anak dengan Alam
Belum genap satu tahun anak saya masuk kelas 1 SD, corona disease 2019 (Covid-19) datang. Pandemi Covid-19 yang mewajibkan setiap anak belajar secara online. Kondisi itu akhirnya menghilangkan sekian jam waktu anak yang biasa dihabiskan di sekolah.
Mulanya anak saya senang karena tidak perlu berangkat sekolah. Tidak perlu bangun dan mandi pagi. Tapi, kebahagian belajar online ini tidak awet. Memasuki bulan kedua anak saya mulai salah tingkah (salting) . Saking saltingnya, anak saya memulai sebuah misi “menata” rak buku. Artinya mengeluarkan semua koleksi buku, lalu mengembalikan ke dalam rak dengan sesuka hati.
Sungguh kebetulan sekali di pojokan rak buku tergeletak buku kecil yang ditulis oleh bos suami saya. Sebuah pocket book tentang satwa liar. Mayoritas adalah burung, yang ditemukan pada habitat bekantan. Berlokasi di sebuah sungai yang terletak di calon ibu kota negara baru. Kalau ibu kota jadi pindah.
Menemukan Kesukaannya
Entah bagaimana ceritanya buku itu menarik perhatian anak saya. Tak bosannya dia bolak balik. Jangan-jangan anak saya ini menyukai gambar-gambar burung di buku tersebut? Namun saya ragu, aaah anak saya kan perempuan, paling dia lebih suka bunga. Bahkan dalam setiap goresan pensil warnanya lebih sering motif bunga yang dia gambar.
Namun untuk lebih memastikan, saya keluarkan sebuah binokuler jadul yang tersimpan di dalam kontainer plastik. Waktu saya masih mahasiswa, saya pernah menjadi penggembira dalam sebuah klub pengamatan burung. Ternyata, setelah hampir dua dekade kemudian, saya kembali tergagap-gagap mencari cara kolimasi binokuler.
Rupanya anak saya sangat menikmati melihat detail burung. Sampai tulisan ini dibuat, hampir setiap sore dia pasti merengek meminta saya menemani mengamati burung.
Binokuler Pentax Lawas
Anak saya masih 8 tahun. Tapi dengan senang hati mengalungkan binokuler pentax lawas yang beratnya kurang lebih satu kilogram. Dia pun terlihat bahagia menanti kedatangan burung. Sekali bertemu burung, dia langsung antusias menceritakan detailnya. Warna bulu di kepala, punggung, leher, dada, dan sayap. Bahkan sampai bentuk paruhnya seperti apa.
Sungguh saya sangat beruntung dikaruniai anak yang kemampuan visualnya lumayan bagus. Tidak seperti mamanya, yang sering kesulitan membedakan warna melalui binokuler. Jangankan membedakan warna, sekadar mengarahkan binokuler saja masih sering melenceng.
Banyak hal positif yang saya didapatkan sejak anak saya menekuni hobi ini. Yang paling utama adalah mengurangi waktu yang sering digunakan untuk menatap layar. Sejak sekolah via zoom diberlakukan, otomatis anak saya wajib standby di depan laptop dari jam 8 – 11 pagi. Belum layar lain seperti TV, tab, dan terkadang hp mama atau ayahnya.
Mencari Ruang Hijau
Selanjutnya, mamanya yang boleh dibilang mengadopsi sedentary lifestyle mulai aktif kembali. Minimal aktif jalan-jalan keliling komplek. Juga aktif mencari lokasi tanah kosong, bukan untuk dibeli, tapi untuk nongkrong menanti dengan sabar hadirnya makhluk kecil bersayap.
Tak hanya berkeliling komplek. Saya dan suami lebih kreatif menjelajah kota, demi mencari ruang terbuka hijau, dan hutan kota. Sebenarnya dari dulu juga sudah ada, tak perlu dicari karena sering dilewati. Tapi seperti biasa kalau sedang tidak perlu, kita jadi kurang perhatian dengan sekeliling kita.
Bonus lainnya, anak saya sekarang lebih peka dengan sekeliling, terutama akan kehadiran burung. Bahkan di jalan sekalipun, jika bertemu burung dia akan heri alias heboh sendiri. Heboh dengan berondongan pertanyaan yang kadang membuat emak bapaknya speechless. Dan biasanya untuk menghentikan kehebohan tersebut, kami mengakhiri dengan menawarkan untuk mencari tahu lewat buku panduan jenis burung, nanti sesampainya di rumah .
Tak hanya peka, namun juga berempati terhadap hewan bersayap tersebut. Sebagai contoh, anak saya sedih dan sedikit marah ketika tahu bahwa pohon ketapang di depan rumah tetangga di tebang habis. Bolak balik dia bertanya, bagaimana kelak nasib burung dan tupai yang sering dijumpai di sana? Bukan hanya itu, sekarang anak saya rajin menyiapkan segenggam beras, yang kemudian diletakkan di wadah plastik. Untuk burung gereja yang sering main ke teras rumah, begitu katanya.
Kembali ke Alam
Akhirnya, saya dapat menyimpulkan bahwa pandemi ini tak sepenuhnya membawa keburukan. Ada banyak hikmah didalamnya. Salah satunya menghubungkan kembali manusia dengan alam. Adanya koneksi antara alam dengan manusia membawa dampak positif secara langsung. Seperti menjadi lebih detail, lebih sabar, lebih aktif, lebih peka dan lebih empatik terhadap lingkungan sekitar. Hubungan anak dengan orang tua juga tak diragukan lagi dapat dikuatkan melalui kegiatan tanpa layar dan tanpa wifi.
Saya teringat akan sebuah sebuah quote yang cukup terkenal dan sering bersliweran di medsos. Entah quote ini milik siapa, dan bagimana bunyi persisnya. Yang jelas semakin menegaskan bahwa ada yang jauh lebih baik dari sekadar koneksi wifi.
“There is no wifi (out there) in the forest, but I promise you’ll find a better connection”
Pernah bekerja di perusahaan dan LSM kehutanan. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan pekerja lepas. Suka birdwatching, mengompos, dan minum jamu. Lahir dan besar di Jogja, berdomisili di Balikpapan.
