Selain Mang Udin, Ada Banyak Mang Udin Lain di Indonesia
Perihal dunia perdukunan, jauh sebelum dikenalnya Mang Udin sebenarnya sudah ada mas-mas udin lainnya yang tersebar di setiap sudut Indonesia.
Dulu, keluarga saya juga pernah berurusan dengan paranormal seperti Mang Udin ini, pasalnya salah satu anggota keluarga ada yang sakit. Walaupun saya tahu itu adalah penyakit normal, namun keluarga tetap bersikukuh menyangkalnya. Memang sudah dibawa berobat ke rumah sakit ataupun ke klinik, hanya saja belum ada tanda-tanda kesembuhan dan itu pula yang menjadi dasar pihak keluarga untuk di bawa ke paranormal.
Awalnya saya memang tak menyetujui opsi ini; sebab saya termasuk paling anti tentang dukun apalagi melihat hal-hal yang mustahil dilakukan oleh orang biasa di jaman sekarang. Tapi maklum, saya kalah di meja demokrasi, mereka tetap mengundangnya dan saya pun hanya pasrah meski tak rela.
Akhirnya karena kalah suara, saya harus menggali informasi tentang siapa yang mereka maksud orang pintar yang mau di temui itu. Setelah bertanya-tanya ke sana kemari ternyata dia adalah seorang dukun yang dikenal dengan sebutan Berampue; nama tersebut diambil dari marga turunan moyangnya yang kemudian dijadikan sebagai nama panggung perdukunannya. Ia sempat dikenal dan namanya nyaris besar seperti halnya Guz Samsudin.
Bedanya, kekentalan atribut agamanya yang digunakan si Berampue ini tak terlalu mencolok; outfit yang di pakai pun sederhana namun dalam praktek perdukunannya tetap menggunakan ayat-ayat suci dari Al-Qur’an, di mana hal tersebut lebih mensugesti orang untuk lebih yakin dan percaya.
Di sisi lain, si Berampue ini tempatnya tidak tetap di satu lokasi, ia selalu berpindah-pindah (semacam dukun safari); di mana si Berampue yang paling aktif mendatangi pasiennya dengan dalih membongkar kiriman-kiriman ghaib dari dukun ke rumah-rumah yang menjadi targetnya.
Kalau dari segi legalitas, Si Berampue juga kalah total. Mang Udin telah membangun padepokan begitu mewah dengan bangunan-bangunan yang terbilang besar dari hasil kesaktian yang dimilikinya (katanya); dibanding si Berampue yang hanya dukun lantang-luntung yang mencari lapak untuk melancarkan aksinya.
Namun, walaupun begitu, di sisi lain Si Berampu ini ternyata pernah dihadiahi mobil oleh seorang pasien dimana pasien tersebut adalah pejabat pemerintah dari kabupaten sebelah yang berhasil ditarik paku atau kiriman santet (katanya) dari sekitar rumahnya. Ketika mendengar itu saya pun menarik penilaian; entah dukun ini memang benar sakti atau sekelas pejabat itu saja yang mudah dipengaruhi. Entahlah, sepertinya tak perlu diperpanjang bagaimana-bagaimananya.
***
Oya, mari kita ke inti, sebenarnya yang mau saya ceritakan yaitu tentang kemas-udinannya si Berampue ini. Jadi begini, setelah Si Berampue diundang datang ke rumah, saya memang tidak ditempat. Namun sepulangnya, saya sudah menemui Berampue dengan seperangkat alat dan bahan kerjanya (maklum saat itu belum ada kamera-kameraan, jadi nggak ada yang nyuting-nyuting seperti jaman kini) tepat di jam 23:35 wib, sembari lewat, karena memang tidak suka, saya menatap sinis ke arah dukun, tetapi ia acuh dan hanya sibuk memperbaiki tikar untuk duduk. Saya pun lanjut ke belakang.
Dari jarak beberapa meter di sudut ruang tengah, saya melihat si Berampue mulai melakukan aksinya, ia meminta satu wadah berisi air untuk mengapungkan jeruk purut yang sudah di potong-potong sebelumnya. Lalu wadah itu pun ditutup dengan kain putih dan mulai membacakan mantra dengan awalan basmalah.
Ia pun memainkan tangannya diatas wadah yang tertutup kain putih itu, memutar-mutar seolah sedang merasakan energi halus dari potongan jeruk tadi. Tak lama kemudian ia pun membuka kain penutup lalu terlihat potongan jeruk terbagi menjadi dua kelompok. Dan ia pun mulai buka suara.
“Kelompok ini adalah ilmu ghaib yang melindungi seisi rumah” katanya sembari mengarahkan telunjuknya ke kelompok jeruk yang kumpulannya lebih sedikit.
“Sedangkan kelompok ini menggambarkan adanya serangan dari luar dan kebetulan si pulan itu tubuhnya yang lebih lemah maka dia yang kena duluan” ujarnya lagi menunjuk kelompok jeruk yang lebih banyak dan menunjuk seorang yang sakit di rumah kami. Lalu ia pun menjelaskan lagi bahwa ada seseorang yang menanamkan benda jahat di sekitar rumah sebagai jalan masuk roh jahat untuk menyakiti.
***
“Benda yang ditanam itu harus kita bongkar secepatnya,” katanya tegas sembari bergegas ke arah halaman rumah.
Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, artinya keadaan sudah senyap dan sunyi. Lalu kemudian ia mengambil garam dan menaburkan ke seluruh halaman rumah yang katanya untuk mengikat benda tersebut agar tak berpindah-pindah. Sambil berjalan ia terus menaburkan garam seperti memberi makan ayam.
Setelahnya Ia menyerahkan kotak garam tersebut ke pesuruhnya, lalu menyuruh mundur bagi sesiapa yang mendekat. Katanya, benda ini amat berbahaya. “Berbahaya darimana?” bantah otakku tak terima.
Kami mengamati dari belakang melihatnya seperti memasang kuda-kuda, terdengar bisikan-bisikan dari mulutnya yang awalnya menggunakan asma Allah lalu selebihnya hanya komat-kamit tanpa suara. Mulutnya mengeluarkan bunyi dengan desis-desis yang kuanggap berisik.
Aksinya itu berlangsung lumayan lama, dia memutar-mutar hampir setengah jam lamanya, menurut pesuruhnya, biasanya kalau lama begini, dukun yang memasang benda jahat itu cukup sakti, makanya membutuhkan waktu untuk melumpuhkannya.
Lalu seketika ia merunduk, merayap dan mengeluarkan suara desisan seperti ular yang hendak memangsa. Lalu ia meletakkan tangan kirinya ke permukaan tanah sementara tangan kanannya menunjuk pada satu titik untuk digali tanahnya. Pesuruhnya pun langsung beraksi dan menggalinya. Setelah membentuk lubang dengan kedalaman sekitar sepuluh sentimeter tibalah kepala si Berampu masuk ke dalam dan (katanya) mengambil benda jahat itu harus menggunakan mulut.
Dengan penasaran, saya pun mendekat ketika detik-detik ditemukannya benda jahat itu. Tetapi nihil, cahaya lampu tak begitu terang ke sana sehingga tidak tahu bagaimana bisa memastikan ini menjadi mungkin.
Saya cuma bisa menggeleng, toh mau bersuara juga tak mampu sebab pengetahuan saya soal megician nyaris tak ada. Sebagai seorang awam saya hanya terdiam dan bingung.
***
Tibalah ia langsung masuk lagi ke dalam rumah, kemudian mengambil kain untuk memuntahkan benda itu. kelompok keluarga disuruh mendekat untuk menyaksikan apa isi benda itu. Saat dimuntahkan, terlihat sebuah benda dililit kain putih yang sudah usang disana. Setelah dibuka talinya yang terdiri dari benang tujuh warna, terlihat sebuah botol kecil, lalu botol dipecahkan, dukun itu pun langsung mengambil pisau kecil untuk menelisik isi dari pecahan botol itu. Sebagaimana yang di tunjukkan, ada beberapa benda yang terkumpul yaitu paku dan jarum yang diikat dengan rambut.
Dengan ketebalan bismillahnya yang dilantunkan memang cukup meyakinkan bahwa ia bukan pembohong apalagi penipu, terlebih ketika ia menerima mahar 500 ribu, dimana saat itu duit sebanyak itu sama halnya kayak 5 juta sekarang. Dan itu adalah hasil jual cincin ibu untuk membayar mahar ke dukunnya. “Alhamdulillah atas izin Allah.” Ucapnya bahagia.
Tetapi seiring berjalan waktu di bulan-bulan berikutnya. Setiap kudengar tentang dia, di mana pasiennya selalu bercerita hal yang sama, botol yang ditemukan sama, isinya juga hampir sama, dan akhirnya aroma tipu-tipu kian tercium dari seorang dukun kollo itu. Lalu pada suatu ketika, akhirnya terbongkar bahwa apa yang dilakukannya itu adalah trik dan kebohongan. Setelah ditelusuri ternyata botol yang ia klaim kiriman dukun jahat itu rupanya adalah benda yang ia buat sendiri, dirakit sendiri dan ditemukan sendiri, dan pada saat aksi disuruh menjauh ternyata untuk kesempatannya memasukkan benda itu ke mulutnya, lalu ia merayap ke tanah, lalu berpura-pura mengambilnya.
Ya, begitulah kejadiannya. Kasusnya sama persis kayak yang lagi hits sekarang. Ketika trik-triknya sudah terbongkar maka tutuplah sudah. akankah ini berakhir? Belum tentu, pasti ada lagi Mang Udin lainnya nanti yang namanya lebih syar’i. Kemungkinannya sih.
Oya, baru-baru ini terlihat pada satu unggahan ada Mang Udin yang sedang mangkal di Malioboro, apa gerangan ya kira-kira! Enggak tahu si Berampue, entah apa kabarnya sekarang. hehew…
***
So! mengenai hal ini, kita di Indonesia memang mesti harus lebih cerdas dalam urusan pengobatan dan segala macamnya. Kita memang wajib percaya hal ghaib karena itu adalah bagian dari dzat yang kita yakini. Namun perkara perdukunan, kita harus bisa membedakan mana yang lurus mana yang tidak. intinya kita jangan mudah percaya dengan adegan-adegan tipuan semacam ini. Saya pun tidak menyangkal adanya pengobatan selain dari sentuhan dokter, namun mereka bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki karomah dan karomah tidaklah dipamerkan dan di publikasikan.
Terkhususnya daerah saya dan sekitarnya, umumnya kepada seluruh masyarakat Indonesia, kita jangan mau terjebak jangan kebodohan semacam ini sampai menghabiskan uang banyak. Lebih kejamnya lagi kita akan menjadi orang yang tergolong melakukan syirik dan itu sangat di benci Allah SWT. bahkan tanpa ampunan. Nauzubillah.
Seorang yang ingin bebas dari penjara diri sendiri
