f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akhlak manusia

Tingkatan Akhlak Manusia

Keindahan Islam tidak hanya membahas perihal akidah dan ibadah saja melainkan juga pada akhlak orang Islam itu sendiri. Bak buah yang tumbuh dari pohon, maka akhlak inilah sebagai buah atau parameter dari keimanan seseorang. Sehingga keseriusan seseorang dalam beriman kepada Allah bisa terlihat dari akhlaknya. Dengan berbedanya daya keimanan seseorang maka sudah pasti tingkatan akhlak tiap-tiap manusia itu berbeda-beda. Berikut tingkatan akhlak manusia menurut Ustadz Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum. dalam mata kuliah Shirah Nabawiyah di PUTM Yogyakarta.

1. Al-Akhlak al-Adzim

Yaitu ketika seseorang yang tetap memperlakukan baik kepada orang yang memperlakukan buruk kepadanya. Ini merupakan tingkatan akhlak yang tertinggi, sulit rasanya untuk berada pada tingkatan ini karena ini memerlukan keimanan yang kuat; sebab perlakuan baik yang ia lakukan tidak hanya menyelesaikan persoalan tetapi ia seolah mengajak untuk kembali menjalin hubungan baik. Dengan kata lain ia sudah mengalahkan perasaan egonya bahkan mengalahkan kebencian di dalam hatinya terhadap orang yang berbuat buruk kepadanya.

Pernah suatu ketika Rasulullah saw. berdakwah di Thaif, saat itu penduduk Thaif menolak dakwah Rasulullah; penolakan itu tidak hanya dengan lemparan kata-kata kasar, melainkan juga dengan batu sampai-sampai bentengnya Rasulullah yaitu Zaid bin Haritsah pun tidak mampu menghalau semua lemparan-lemparan itu. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua malaikat penjaga dua bukit Thaif seraya mengatakan “angkat tanganmu, Muhammad. Mintakan kepada Allah agar Ia mengizinkan kami untuk menghimpit penduduk Thaif itu dengan bukit ini.” Tetapi bukan kesal dan amarah yang menyelimutinya melainkan justru Rasulullah menolak tawaran kedua malaikat itu dan mengatakan bahwa mereka melakukan hal itu mungkin karena belum begitu mengetahui dan memahami. Tidak hanya sampai situ, beliau bahkan berdoa kepada Allah Swt. agar suatu saat penduduk Thaif dipenuhi oleh orang-orang yang beriman kepadanya. Maka benarlah firman Allah swt. dalam surat Al-Qalam ayat 4:

Baca Juga  Berprasangka Baik dalam Merespon Gaya Pesan

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”

2. Al-Akhlak al-Karimah

Yaitu ketika seseorang mempunyai kemampuan untuk membalas perlakuan buruk orang lain kepadanya tetapi ia enggan melakukannya. Tingkatan ini berbeda sedikit dengan tingkatan pertama, ia mungkin memaafkan tetapi ia sudah tidak mempedulikan keadaan orang yang telah menyakitinya; bahkan bisa sampai tidak ingin ada hubungan lagi dengannnya sebab hatinya yang masih tertanam kekecewaan dan amarah yang sulit baginya untuk menjalin hubungan baik dengan orang tersebut.

Mayoritas manusia yang sabar berada pada tingkatan ini, seperti seorang guru yang sabar atas kenakalan muridnya, kenakalan teman kepada dirinya. Tidak mampu membalas karena takut pada orang tersebut itu hal biasa dalam pergaulan dan masyarakat; tetapi kesabaran untuk tidak membalas lah letak keistimewaan orang-orang yang berada pada tingkatan ini.

3. Al-Akhlak al-Hasanah

Yaitu ketika ada seseorang yang disakiti oleh seseorang maka ia membalasnya dengan sepadan. Berbeda halnya dengan balas dendam, akhlak ini hanya berlaku pada sesuatu yang telah Allah tetapkan bolehnya membalas atau nama lainnya yaitu qishas sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. al-Baqarah ayat 178 dan al-Maidah ayat 45. Merusak mata dibalas mata, merusak hidung maka dibalas hidung, begitu pula seterusnya bahkan membunuh pun dibalas bunuh lagi. Hukum ini berlaku dalam rangka memuliakan tubuh dan nyawa manusia, dengan terbalas si pelaku; paling tidak ia akan ringan atau tidak menanggung beban dosa dari perilakunya itu di akhirat kelak.

4. Al-Akhlak al-Sayyi’ah

Yaitu ketika seseorang berperilaku tercela yang dinilai buruk oleh norma agama dan masyarakat. Kemaksiatan yang seseorang lakukan merupakan pilihannya sendiri, tidak ada keterkaitan dengan Tuhan (Allah Swt). Problem yang sebenarnya yaitu karena ia tidak memiliki kegiatan yang positif untuk menyibukkan dirinya; padahal jika melihat kisah para tokoh-tokoh ke belakang, mereka memanfaatkan waktunya untuk hal-hal positif yang mengembangkan bakat mereka serta mengesampingkan perkara makanan dan sesuatu yang melalaikan serta menghambat dari tujuannya.

Baca Juga  Perintah Al-Qur’an yang Dilupakan Warganet: Bertutur Santun

Menjadi pribadi yang baik merupakan fitrah sebagai manusia, karena akhlak tidak memiliki agama. Sehingga semestinya tidak ada istilah “lebih baik sopan walaupun gak kerudungan daripada berkerudung tapi kelakuannya gak sopan”, ungkapan-ungkapan seperti itu lah yang seolah membenarkan hal-hal yang tidak dibenarkan dalam agama, Seperti dikatakan dalam ceramahnya Ustaz Hanan Attaki, Lc. “Tidak boleh membandingkan yang halal dengan yang haram, karena kita tidak boleh istikharah untuk memilih antara nikah atau pacaran” Antara sopan dan tidak sopan merupakan hal yang tidak perlu dipertanyakan harus memilih yang mana? Karena yang sopan sudah pasti pilihan terbaik, kemudian antara sopan dan berkerudung itu merupakan persoalan yang terpisah dan memiliki konsekuensinya masing-masing. Siapapun bisa jujur atau berdusta, dermawan atau kikir, bekerja atau mencuri, dan sebagainya.

Demikian tulisan singkat seputar tingkatan manusia, semoga menambah pengetahuan kita semua dan menjadi bahan renungan bagi kita ada di manakah tingkatan akhlak kita selama ini?

Bagikan
Post a Comment