f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbakti

Berbaktilah Sebelum Terlambat

Suara dari jarak jauh itu terdengar melalui gawai, “Jid, kamu di mana? tolong ke kos si A. Abahnya wafat, tolong lihat kondisinya ya.” Inilah awal mula saya berada di kos kawan lama yang sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlihat dia menutupi perasaannya, kami berdua duduk di tepi kasur yang sudah mulai berubah warna seprainya. Kami terdiam cukup lama.

“Aku sudah punya firasat. Semua keluarga sudah coba aku telepon, tapi tidak ada yang bisa.” Dia membuka pembicaraan. Terisak dan sesak menyelimuti kami berdua. Momen yang menghilangkan kemampuan lisan saya untuk sekadar mengeluarkan “iya” sebagai jawaban.

Aku belum wisuda.” Satu kalimat yang paling terngiang di kepala di antara banyak kalimat yang keluar dari mulutnya, bahkan sampai sekarang. Tentu kesedihannya saat mengatakan itu, berat saya gambarkan apalagi tuangkan melalui tulisan.

Abahnya sudah memenuhi panggilan kembali ke pangkuan-Nya, tapi saya yakin bahwa almarhum tidak akan kecewa walaupun belum melihat anaknya menyandang gelar sarjana. Sebab, saya tahu anaknya sangat hebat di bidang yang digeluti sekarang, berbakti, dan berperangai baik. Tapi, dia tidak dapat menyembunyikan raut kekecewaan yang tergambar di wajahnya. Saya turut merasakan itu, siapapun yang ditinggalkan oleh orang tersayang untuk selamanya, pasti akan merasakan hal yang sama.

Ayat QS. Al-Isra’ yang Membekas di Kepala

Keberhasilan memegang ijazah sarjana tak sebatas untuk memenuhi kebahagiaan diri sendiri. Tetapi lebih dari itu, bertujuan untuk merekahkan lengkungan senyum orang-orang tersayang. Setelah bercerita banyak hal, dia mengajak saya untuk salat. Tapi saya terserang keraguan saat dia meminta saya untuk menjadi imam. Dia beralasan belum sanggup memimpin salat. Padahal, saya pun belum sanggup menjadi imam salat. Akhirnya, saya memberanikan diri menjadi imam salat saat itu.

Baca Juga  Broken Home, Patah Hati Terberat Seorang Anak

Suara bergeming dan berhenti di tenggorokan saat tengah membaca QS. Al-Isra’ [17]: 23-24. Tepatnya pada kalimat وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا

Berikut ayat 24 tersebut:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”

Entah kapan pertama kali saya hafal dua ayat tersebut. Sepertinya, saya tidak sengaja menghafalnya. Saat masih menjadi santri dan tiba waktu salat berjamaah, sang imam yang merupakan senior saya, sering membaca ayat tersebut. Sehingga saya terbiasa dan akhirnya ayat tersebut membekas di kepala.

Pesan Al-Qur’an bagi Seorang Anak kepada Orang Tua

Ayat ini memiliki makna yang mendalam bagi seorang anak dalam relasinya dengan orang tua. Jika kita menilik mulai dari ayat 23, nuansa mendalam itu kian terasa. Allah secara terang, berpesan kepada kita supaya berbakti kepada orang tua, berkomunikasi dengan baik, dan berperilaku ihsan. Kata ihsan memberikan pengertian bahwa seorang anak harus berperilaku baik kepada orang tua melebihi apa yang orang tua perlakukan kepada sang anak.

Penyebutan kata Ihsan dalam ayat tersebut, sekiranya sudah memahamkan kita bahwa segala bentuk negatif baik itu perkataan maupun perbuatan, tidak layak dilayangkan kepada orang tua. Kemudian Allah memperjelas lagi dengan larangan keluarnya perkataan “ah” dari lisan kita atau bahkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Serta perintah untuk berkata dengan perkataan yang baik dan mulia.

Tadabbur ayat tersebut, memenuhi kepalaku di malam itu. Pertanyaan silih berganti melintasi ingatan. Sudahkah saya berihsan kepada ibu dan bapak? Adakah perkataan yang menyakiti hatinya? Apakah orang tua merasa bangga ataukah hanya merasa untung kita tidak berbuat onar? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang bising di kepala.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Nuh : Lebih Takut Corona atau Allah?

Berbuat ihsan, berkata yang baik, dan mencurahkan kasih sayang kepada orang tua tidak menunggu saat mereka sudah mulai berkerut dan beruban. Kita tidak tahu saat menunda kebaktian, akankah masih ada kesempatan pada masa mendatang. Maka gunakan waktu sebaik-baiknya untuk jadi anak yang berbakti dan membahagiakan bagi mereka.

Sekelumit Pesan

Saya tahu, dia telah menunaikan tanggung jawabnya terhadap kedua orang tuanya, walaupun dia belum bisa membawa abahnya ke momen sakral wisuda sarjana. Tapi saya yakin, kebaktian dan kehormatan kepada abahnya tidak terlambat karena kelak abahnya pasti melihat kebahagiaan tersebut dari atas sana.

Kebaktian kepada sang abah sekarang berubah bentuk, yaitu dengan berbuat baik dan menyambung silaturahmi kepada saudara dan teman-teman abah. Ia juga harus menatap masa depan secara optimis dan semangat sesuai ajaran sang abah.

Kepada kawanku, bersedihlah secukupnya, bangkitlah setelahnya. Pulangnya abah ke sisi Allah adalah satu dari sekian tangga untuk menjadikan derajatmu lebih tinggi. Ini adalah ujian bagi lompatan-lompatan besar yang tak terduga nantinya. Dan bagi kita yang kedua orang tuanya masih hidup di dunia, jangan pernah menunda untuk berbakti, berlaku sebaik-baiknya, dan selalu bersegeralah dalam membahagiakan mereka.

Editor: Andi Eka Nur Wahyu

Bagikan
Post a Comment