f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pertemanan

Pertemanan Rasa Perundungan

Di bawah pohon yang rindang, di pinggir halaman sekolah, kuparkir mobil sambil menunggu anak perempuanku pulang. Tidak lama wajah itu tampak murung di antara kerumunan anak-anak sekolah yang berlarian menghampiri para penjemput yang berdatangan. Kedua mataku mengamati gerak-gerik anak semata wayang, yang terlihat gontai lemas kian mendekat, ia membuka pintu mobil tanpa menyapa. Hari ini hari pertama Darla masuk sekolah, selama berhari-hari dilanda batuk, hingga harus terbaring lemah tak berdaya di rumah. Entah ada kejadian buruk apa, sehingga mengganggu pikiran anak perempuanku yang masih muda belia, baru akan remaja.

“Hai sayang, what happened? Gimana harinya di sekolah?”

Darla masih mengunci bibirnya yang mungil itu rapat-rapat, perlahan kudengar ia menarik nafas dalam-dalam. Ibu supir ini pun bergegas mengendarai mobil agar keluar dari keramaian kendaraan jemputan, sambil menunggu ia bercerita. Cuaca siang hari ini makin terasa panas, wajahku berkeringat meski angin dingin dari AC mobil berhembus kencang. Mataku sesekali mencuri-curi pandang ke arah Darla, yang tetap bungkam. Kuberanikan diri untuk bertanya sekali lagi.

“Ada apa Darl? Ada sesuatu yang buruk terjadi di sekolah?”

“Kamu bisa cerita kok sama Mama, tapi jika ini terasa berat bagi kamu, ya sudah Mama menunggu saja ….”

Pertahanan itu langsung runtuh, air matanya penuh di pelupuk, dadanya tampak berat turun naik seakan menahan air mata yang akan tumpah.

“Hari ini aku sedih Ma, karena teman-teman sekelas mengetahui semua hal yang hanya kuceritakan pada Rana. Darla tanya dong, apa benar kamu ceritain semua ke teman-teman saat aku tidak masuk sekolah kemarin?”

“Lalu apa jawab Rana?”

“Dia bilang, katanya tidak sengaja menceritakan rahasia itu, Rana bilang kalau Darla menyukai Nata. Padahal Darla hanya suka sebagai teman. Darla suka bercerita atau bercanda dengan Nata di sekolah, karena Nata anak yang ceria.”

Baca Juga  Termenung

Tangis Darla pun pecah, rupanya hari ini seisi kelas heboh atas berita yang sudah terlanjur tersebar dari satu teman ke teman lainnya. Sejak hari itu, Nata yang biasanya ramah, selalu mengajak Darla bermain bersama-sama, berubah dingin, diam seribu bahasa. Nata enggan bicara apalagi sekedar menyapa Darla, karena malu apabila disoraki teman-teman sekelasnya. Suasana belajar di sekolah yang tadinya penuh suka cita berubah suram bak langit yang dipenuhi awan-awan gelap. Sebagai ibu, saya terus menguatkan dan menghibur Darla saat berangkat ke sekolah, dan pulang sekolah memastikan wajah Darla kembali cerah dan indah seperti musim semi di Korea.

Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Belum ada perubahan, Nata tetap tidak pernah mau menyapa Darla di kelas, menjaga jarak karena rasa canggung dan malu. Ya wajar sih, anak laki-laki usia pra remaja, tentu saja tak kuasa menghadapi ledekan-ledekan bertubi-tubi dari teman-teman lain. Suka tidak suka Darla harus tetap tenang menghadapi keadaan semacam itu. Saya mengerti Darla berusaha mengelola gejolak rasa sedih di hatinya, apalagi ini sudah berlangsung cukup lama. Hari ini Darla menumpahkan emosi yang memuncak, wajahnya merah menahan marah, tapi ia sendiri tak kuasa dan berusaha keras untuk memaklumi perbuatan Rana.

“Kenapa sih Rana harus membocorkan rahasia Darla ke teman-teman? Dia memang bilang sorry berkali-kali, tapi kenapa? Katanya kita bestie!”

Cecar Darla berulang kali, mempertanyakan perbuatan Rana padanya yang berakibat Nata tak pernah mau lagi bermain dengannya di sekolah. Meskipun Darla kesal, ia tetap setia bermain menemani Rana, dan bersama teman dekat Darla lainnya, bahkan di awal kenaikan kelas lalu, mereka berdua sudah berjanji untuk masuk sekolah SMP yang sama. Penilaian Akhir Tahun sekolah sudah semakin dekat, sejujurnya saya cemas, kalau Darla jadi terganggu dan tidak fokus belajar. Namun sebagai ibunya, saya tidak boleh terpengaruh oleh kegentingan ini, saya terus membantu Darla tetap stabil secara mental dan siap tempur dengan penampilan terbaik yang ia miliki.

Baca Juga  Diagnosa Limfoma saat Masih Maba

Perpisahan sekolah telah usai, Darla menunjukkan kemampuannya secara maksimal. Suatu proses pendewasaan yang luar biasa, karena meski masih bersedih Darla mau bersabar dan tidak terpuruk. Masa pengenalan lingkungan sekolah SMP pun berjalan sempurna, Darla sangat bahagia karena bertemu teman-teman baru. Apalagi Dewi Fortuna ternyata berada di pihak Darla, teman sekelasnya adalah anak-anak remaja yang baik dan menyenangkan. Saat ini Darla dan Rana sudah tak lagi satu kelas, meski demikian, kelas mereka saling berhadapan. Sesekali Darla masih menghampiri, sekedar menyapa atau bertanya keadaan Rana di kelasnya yang baru.

Pertemanan yang sehat dan erat akan memancarkan kebahagiaan, jangan ada dusta, rasa iri, dengki dan jealousy yang meracuni. Rasa iri dan cemburu yang terbungkus rapi di dalam hati Rana, membuat Rana sering kali hilang kendali. Rana mulai gemar mempermalukan Darla di hadapan teman-teman barunya. Tanpa memikirkan perasaan Darla, Rana juga kerap melakukan banyak hal di luar batas kewajaran dalam pertemanan. Rana mencemooh bentuk tubuh Darla yang memang lebih besar dari ukuran anak remaja pada umumnya.

“Owh! Teman kalian Darla yang gendut itu mau bunuh diri? Ups sorry just joke!

Celetukan Rana itu mengejutkan Darla dan teman-teman perempuan sekelasnya yang sedang berbincang akrab saat jam istirahat. Seketika semua saling berpandangan, dan menatap wajah Darla yang tampak jengah pias kemerahan. Perasaan Darla campur aduk, ia sedih atas sikap Rana yang sering berucap sinis dan tajam. Tapi Darla berusaha memahami sikap Rana yang selalu kesulitan menjalin pertemanan dengan orang seusianya, karena alasan itulah Darla mau bersabar.

Sebuah fakta paling mencengangkan bagi Darla adalah, ketika mengetahui kejadian yang tak menyenangkan waktu sekolah dasar itu semua adalah rencana dan inisiatif Rana. Rana sengaja membocorkan rahasia Darla, dengan tujuan agar Darla dan Nata tak lagi dekat seperti biasanya. Loh, tahu dari mana, kita kan tidak boleh sembarangan menuduh! Tidak ada kejahatan yang sempurna di dunia ini, pada akhirnya fakta itu terungkap dari mulut Rana sendiri. Hari itu di mana Darla sedang sakit dan tidak masuk sekolah. Entah mendapat bisikan jahat dari mana, Rana melancarkan aksinya dengan mendekati teman sekelas Darla yang sedang asyik bersenda gurau. Di sanalah Rana mengatakan dengan percaya diri, bahwa dia adalah dalang dari semua kejadian itu.

Baca Juga  Ketika Teman Membicarakan Masalah Pribadinya di Medsos

Rana bersemangat memulai percakapan dengan menjelekkan nama baik Darla, dia berkata, “Darla itu pick me girl.” Dan selanjutnya, Rana pun membuka pintu kebenaran yang ia kunci rapat-rapat, selama ini. Suaranya pelan, namun terdengar kejam. Ia berkata, “Waktu kelas 6, aku sengaja kok membocorkan rahasia Darla, biar dijauhi sama teman. Dia pantas kok menerima itu, karena asal kalian tahu ya, Darla tidak sebaik itu!” Dan suasana koridor sekolah mendadak hening, seakan hanya denting jarum jam dinding yang mampu memecah kebisuan sesaat itu. Hanya ada ekspresi wajah-wajah terperangah, untuk semua kicauan Rana siang itu.

Bagikan
Post a Comment