f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
puasa harapan

Puasai Harapan

Istriku, dan juga Ayah-Ibu, sudaraku semua, semoga kita semua selalu sehat dan terutama puasa kita saat ini semoga diberi kelancaran dan Allah menerimanya sebagai amal bajik dan terbaik kita. Aamiin.

Kesempatan baik ini saya ingin berpesan kepada istri saya terutama, dan kepada Anda semua para orangtua yang baik. Terutama orang tua muda. Bahwa, puasa kita harus berdampak dalam hidup kita. Bahwa banyak hal yang harus kita puasai dalam hidup.

Selain yang telah banyak disampaikan orang berilmu tentang puasa, izinkan saya saat ini di sini akan menyampaikan tentang puasai harapan kita yang “berlebihan”. Kita berharap banyak boleh tapi tidak membendung harapan adalah kesalah stadium akut.

Apa harapan yang harus dipuasai oleh orangtua muda, khususnya orangtua yang masih labil seperti saya ini? adalah harapan agar anak-anak kita selalu “dispesialkan” di sekolah. Harapan ini masalah. Mari puasai.

Guru di sekolah Ananda telah berusaha maksimal agar semua anak adalah istimewa. Semua anak diperlakukan istimewa. Jika ada lomba, semua siswa tentu sudah diseleksi dengan baik, dipilah-pilih dengan bijak. Jika berhasil mewakili kelas dan sekolah itu sudah bagiannya. Bukan karena perlakuan istimewa yang tidak adil. Bukan.

Jika lagi ada kegiatan tampil di panggung pentas, tentu tak semua anak di kelas bisa mewakili nak untuk misalnya bernyanyi, berkultum, dll. Ada sebagian mereka lebih senang duduk membaca di pojok literasi kelas. Itu malah hebat. Bahkan ada lagi yang lain malah lebih asyik mengobrol dengan rekannya. Membahas tentang kakak kelas yang cantik/ganteng. Itu tidak buruk.

Orang tua wajib mengendalikan diri. Belajar pada puasa yang banyak menahan daripada mengegas keinginan. Menahan keinginan dan harapan agar anak menonjol itu salah besar. Biarlah anak menonjol di bidang masing-masing. Konsepnya sederhana: semua anak hebat di bidang masing-masing. Dan anak hebat itu dia adalah yang yang hidupnya bahagia membahagiakan kita orangtuanya dan sesama.

Baca Juga  Pendidikan Emosi sebagai Pondasi  Karakter Anti-Bullying

Maka jika kita orangtua dan hanya kita yang melulu berharap anak kita yang ditonjolkan di sekolah, terkhusus di ruang sempit bernama kelas, maka kita benar-benar tidak puasa harapan. Kita tidak selesai dengan puasa kita.

Anak kita misalnya terpilih adzan, terpilih menyampaikan kultum, terpilh lomba tahfiz, lomba nasyid, lomba robotika, dll, itu tentu bukan karena pilihan guru yang sepihak. Juga buka semata pintar dan berani, boleh jadi sang guru memikirkan hal lain. Misalnya kesamarataan kesempatan, gilirannya, dan pertimbangan keadilan lainnya.

Jadi mohon orangtua tidak berharap anak kita yang terus terlibat dalam aktivitas-aktvitas di kelas dan sekolah. Biarlah bakat dan minat anak mengalir dengan arahan guru-guru yang merupakan pengganti kita di sekolahnya.

Coba bayangkan, jika kita mendesak guru di kelas anak kita agar selalu melibatkan anak kita dalam aktivitas seperti di atas, bisa-bisa anak lain tak punya kesempatan. Bisa-bisa anak lain gigit jari terus. Kita harus adil menjadi orang tua.

Semua anak berhak mendapatkan porsi istimewa dari gurunya di sekolah. Biarlah anak merasakan istmewa di kegiatan yang ia sukai dan merupakan bidang yang mereka mampu atau kuasai.

Meraih Impian

Istriku, dan para orangtua muda yang baik, dalam hal meraih impian anak tidak perlu dijejali ini-itu yang terlalu banyak, bahkan tidak perlu tidak dia butuhkan, bahkan melebihi kapasitas kemapuannya. Anak harus juara matematika, juara biologi, juara astronomi, juara Bahasa Arab, harus mampu berbahsa asing yang banyak, dll. Buat apa?

Kita harus bijak, anak tak jauh dari orangtuanya dalam hal kemampuan otak, jika memang tak pandai matematika jangan dipaksa les ini-itu agar mahir matematika, cukup bisa saja sudah luar biasa. Misal lagi tidak pandai Bahasa Korea lalu kita mati-matian menjejali les Bahasa Korea, itu adalah salah. Biarlah anak menjalani yang dia kehendaki dan terutama sesuai kemampuannya.  

Baca Juga  Sisi Lain dari Makna Romantis

Anak pintar harus, tapi anak berakhlak mulia jauh lebih utama. Banyak contohnya orang pintar dan menjadi pejabat di negeri ini, tapi bukan bekerja demi rakyat, malah mencuri uang rakyat. Keluarganya pamer harta yang hasil curian. Naudzubillah mindzalik. Ini kalau anak kita selesai urusan akhlaknya sebelum kepintaran akademiknya insyaAllah tak akan terjadi hal demikian.

Dijejali pelajaran macam-macam dan harus maksimal di semua pelajaran itu adalah kesalahan sakit kronis. Anak mana bisa fokus di semuanya itu. Asal bisa saja itu sudah cukup. Jangan paksakan. Toh akhirnya orang akan memilih profesinya kelak hanya satu. Tak banyak yang multi profesi, meskipun ada sebagian kecil. Maka buat apa anak harus bisa semuanya.

Mari bijak memasang impian pada anak. Tugas orangtua memberikan banyak gambaran pada anak. Gambaran akan masa depan gemilang. Masa depan macam apa yang cocok untuknya. Misalnya dokter, pilot, tentara, dll. kita harus tahu harus bijak.

Anak-anak bisa di bidang apa saja kita bukakan jalannya. Dukung, doakan, lalu biarakan anak kita menempuh jalan itu dengan bahagia. Kita berdoa semoga harapan, semoga impian anak kita menjadi kenyataan.

Kalau kita berharap terlalu tinggi maka kalau meleset dan tidak tercapai kita hanya mendapatkan kekecewaan yang teramat kecewa. Kita kalau proporsional menempatkan impian dan selalu menggantungkan segalanya kepada Allah, insyaAllah Allah akan memberikan yang terbaik dalam hidup kita. insyaAllah.

Anak kita tanamkan kesempatan dan pengalaman sukses setap hari dalam hidupnya. Membantu menyapu lantai di rumah itu pengalaman sukses. Membantu mencuci mobil itu juga pengalaman sukses yang baru saja dialaminya. Dan membantu temannya membelikan bekal makan siang karena temannya lupa tidak dibawakan uang jajan atau tak punya, itu ya jua sukses.

Baca Juga  Kesenjangan Sosial dan Rendahnya Taraf Hidup Petani Perempuan di Indonesia

Memang repot tidak ringan. Tapi itulah sukses. Kata guru saya simpel saja: untuk menjadi orang sukses kuncinya mau repot. Mau repot mengerjakan ini itu, mau repot berurusan ini itu, itulah sukses.

Semoga anak-anak kita selalu sehat badan dan hatinya. Dan semoga masa depannya sukses gemilang dan bahagia. Aamiin… Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Bagikan
Post a Comment