f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sai

Sai, Totalitas Cinta Kepada Sang Pencipta

Sebagai mahluk yang bernama insan atau manusia, keinginan, harapan dan cita-cita hampir pasti ada di setiap benak kita. Sesuai dengan perkembangan zaman dan bertambahnya usia, keinginan, harapan dan cita-cita tentu tidak sama antara insan yang satu dengan lainnya.

Sebuah harapan akan tinggal harapan jika kita tidak mau berusaha. Bukankah kita sudah berdoa dan Allah berjanji akan selalu menjawab doa-doa hamba-Nya? Benar. Berusaha dan berdoa demi sebuah cita-cita dan keinginan ibarat sebuah jarum jahit dan seutas benang. Jarum saja tak mampu untuk menjahit dan benang saja juga tak bisa untuk menambal jika tanpa jarum. Berusaha saja belumlah cukup. Berdoa saja juga percuma jika tanpa berusaha.

Adakah Hubungan antara Berusaha, Berdoa dengan Sai?

Yuk, kita tengok sedikit tentang sai. Sebagai salah satu rukun haji dan umrah, sai tidak lepas dari kesungguhan berusaha yang disertai kekhusyukan dalam berdoa dengan penuh kepasrahan diri. Sai adalah berjalan kaki atau berlari-lari kecil 7 kali dari bukit Shafa ke bukit Marwa dan sebaliknya. Sai dilaksanakan para jemaah usai thawaf yaitu mengelilingi ka’bah 7 kali dengan arah berlawanan jarum jam.

Ibadah Sai ini merupakan tapak tilas perjuangan seorang hamba, Ibu nan Agung Siti Hajar yang sedang berusaha mencari air untuk anaknya, Ismail. Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua di sebuah lembah yang tidak ada manusia dan sesuatu apa pun. Namun, lagi-lagi karena itu kehendak-Nya, Nabi Ibrahim harus melaksanakannya dan Ibu Hajar pun rela dan ikhlas menerima.

Setelah ditinggalkan Nabi Ibrahim dan persediaan air pun habis, menangislah Ismail kecil karena haus. Meskipun Ibu Hajar sudah menyusuinya, dia masih tetap menangis. Tidak ingin sang putra kehausan membuat Ibu Hajar mencari dan terus mencari sumber mata air untuk diri dan putranya sembari memohon petunjuk pada Dia yang Maha Pengasih.

Baca Juga  Menjadi Pribadi yang Murah Senyum (2)

Dari bukit Shafa hingga Marwa, Ibu Hajar berlari-lari kecil bolak-balik masih juga belum menemukan sumber mata air. Selama berjalan dari Shafa ke Marwa_diperkirakan sejauh 405 meter kali tujuh_sudah pasti membutuhkan tenaga atau kekuatan tubuh yang prima. Apalagi hal ini terjadi berabad-abad silam yaitu ketika bukit-bukit tersebut belum terjamah oleh tangan-tangan manusia. Sungguh berat nian yang harus ditanggung Ibu Hajar kala itu.

Di Setiap Fase Kehidupan tidak Lepas dari Ujian

Bisa kita bayangkan, betapa tidak mudah Ibu Hajar mencari sumber mata air. Di medan yang belum pernah dikenal dan masih asing bukanlah sesuatu yang gampang. Tidak ada yang membantu, tidak ada orang lain yang ia jumpai selain sang putra sendiri yang masih menangis. Kebanyakan dari kita ketika anak menangis ingin segera menghentikan tangisannya dengan berbagai cara. Bagaimana dengan Ibu Hajar yang kala itu Ismail kecil menangis kehausan dan belum menemukan air?

Tidak ada kamus putus asa bagi perjuangan Ibu Hajar. Rasa setia dan cinta kepada sang suami yang telah meninggalkannya atas perintah Allah, membawanya pula menuju puncak cinta kepada Sang Pencipta melebihi apa pun di dunia. Ibu Hajar percaya  bahwa Allah tidak meninggalkan dia dan putranya, Ismail. Bersama cinta dan kasih-Nya, beliau yakin mampu melewati setiap ujian yang menghadang.

Perempuan Salehah ini tidak berhenti dan masih terus berlari-lari kecil untuk menemukan sumber mata air demi putra tercinta. Keyakinannya akan pertolongan Sang Khaliq makin memompa semangat di detik-detik kelelahan fisiknya. Tidak ada rasa marah, gerutu, ketidakikhlasan yang bersemayam di kalbunya sebagaimana kita ketika menjumpai hal-hal yang kurang berkenan.

Rasa ikhlas, sabar, dan tawakalnya Ibu Hajar telah dibayar kontan oleh Allah dengan memancarnya sumber mata air. Bukan dari bukit Shafa maupun bukit Marwa. Namun, dari pijakan kaki-kaki mungil Ismail kala menangis kehausan. Sumber mata air tersebut yang kini kita kenal dengan sumur zamzam. Air zamzam adalah air penuh berkah, air penyembuh, air yang mengenyangkan, dan tak ada satu pun air di dunia ini yang mampu menyamai kandungan dan kualitasnya.

Baca Juga  Keutamaan dan Keteladanan Asiyah binti Muzahim
Seberat Apa Sebuah Ujian, Hadapi dan Berserah Diri Hanya Kepada-Nya

Perjuangan tak kenal lelah dan tak kenal putus asa Ibu Hajar dalam mencari sumber mata air akhirnya diabadikan hingga kini yaitu sai. Sebagai rukun haji dan umrah, para jemaah melaksanakan sai makin ke sini makin banyak kemudahan. Lintasan yang kita lalui bukan lembah gersang dan terjal, tetapi sudah dibangun megah dengan lantai marmer pilihan. Meski demikian, nilai kesakralan dan kekhusyukan dalam melaksanakan sai itu sendiri tetap ada dalam dada setiap jemaah.

Dari sai kita bisa belajar banyak tentang keikhlasan, pantang menyerah, dan semangat membara dalam menggapai rahmat-Nya. Apabila satu atau lebih usaha kita belum menampakkan hasil dalam kurun tertentu, itu hal biasa. Patah arang? Tentu tidak, karena tidak semua harapan akan terwujud di titik yang kita inginkan, tetapi bisa jadi di titik yang Dia kehendaki.

Dari sai pula kita bisa mengambil teladan Ibu Hajar dalam total kepasrahan hanya kepada Allah semata. Menepis sekuat tenaga godaan atau pun keinginan berputus asa dan mengubahnya menjadi semangat dan keyakinan yang bulat. Andai saat ini ujian hidup yang kita hadapi terasa berat, ujian Ibu Hajar jauh lebih berlipat-lipat beratnya dari kita.

Selama kita menjalani proses kehidupan sebagai hamba dan khalifah di muka bumi, ujian akan selalu ada. Namun, pertolongan Allah itu nyata adanya. Kita fokus pada apa yang tengah kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh, optimis, dan penuh semangat. Tidak lupa senantiasa berserah diri kepada-Nya, sebab hanya Dia yang menjawab doa-doa kita tanpa kita tahu doa mana yang terkabul.

Seperti Ibu Hajar, meski berulang kali yang dilihat hanya fatamorgana_bukan mata air sebagaimana yang dicari_baginya pantang untuk menyerah begitu saja. Tidak peduli lelah jiwa raganya tiada tara, semata-mata karena penghambaan diri hanya kepada Allah. Yakin usahanya akan mendapatkan apresiasi, terjadilah apa yang Allah kehendaki di luar prediksi Ibu Hajar sendiri. Tidak hanya sebuah sumber mata air biasa, tetapi air zamzam yang insyaallah melimpah ruah hingga akhir zaman.

Baca Juga  Hijrah Itu Mudah, Istiqamahnya yang Susah

Demikian pula bagi kita. Harapan dari segala yang telah kita upayakan bisa menjadi sebuah keberhasilan meski dari arah yang tak terduga. Boleh jadi justru jauh melebihi yang kita pinta. Kewajiban kita adalah berusaha dan berdoa, karena hanya Dia yang Maha Berkehendak lagi Maha Menentukan.

Bagikan
Post a Comment