Menjadikan Anak Berprestasi atau Anak Berakhlak?
Suatu hari, ketika saya sedang khusyuk mengantri mengambil cash di mesin ATM dekat sekolah anak bungsu, ujian kesabaran terjadi. Seorang bapak dengan enaknya menyerobot masuk.
Sontak saja tindakan bapak itu kemudian saya cegah, duh, maaf, saya ini paling benci orang yang tidak mau antri. Saya tegur baik baik sambil menahan pintu bahwa saya sudah lebih dulu berdiri mengantri.
Tahu bagaimana reaksinya? Dia dengan tak kalah galak bilang “saya sedang terburu buru , mbak….!” Dan masuk begitu saja meninggalkan kejadian itu sebagai tontonan tahan-tahanan pintu ATM dan saya terpaksa membiarkannya sebagai pemenangnya.
Saya saja yang sebetulnya berada di pihak yang benar merasa malu, tapi sepertinya bapak itu sama sekali sudah putus urat malunya, dia dengan jumawa keluar pintu ruang ATM setelah urusannya beres dan berjalan santai, sama sekali tidak kelihatan ia tengah terburu buru.
Meninggalkan tanda tanya pada diri saya ,mengapa orang bisa tak tahu malu macam itu?
Terbayangkan jika bapak itu memiliki anak, contoh dan didikan macam apa yang ia berikan kepada anaknya jika ia sendiri berprilaku semacam itu?
Kejadian singkat itu sebetulnya bisa saja dianggap hal kecil, namun bagi saya ini adalah bahan perenungan tentang kualitas generasi selanjutnya. Bagaimana anak anak kita menjadi generasi beradab dan santun jika kita saja tak bisa memberikan contoh.
***
Pembaca juga mungkin banyak yang mengalaminya. Bisa di ATM, atau yang lebih sering adalah di minimart-minimart yang franchise-nya marak keberadaannya di lingkungan kita bagai tetangga kita sendiri. Seringnya kita sedang antri di kasir tiba tia ada yang menyelak dan ditegurpun masih pura pura tak dengar.
Banyaknya manusia yang seperti itu menggambarkan menipisnya budaya malu di negara kita, yang padahal mayoritas adalah manusia ber agama. Sedih sekali.
Padahal Rasulullah bersabda, yang artinya,”Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama adalah: ‘Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu” (HR Bukhari).
Pendidikan tak tahu malu seperti itukah yang akan kita tularkan kepada anak cucu kita?
Bicara soal pendidikan anak anak, saya atau mungkin bukan hanya saya kah yang merasa orang tua jaman sekarang lebih bangga jika anaknya punya prestasi akademik gemilang ketimbang punya adab dan sopan santun?
Saya sering melihat itu, contoh mudahnya saya bisa dapatkan dengan merapat pada obrolan ibu ibu muda ketika menunggu menjemput anak sekolah.
Pembicaraan awal yang hanya basa basi dari perkenalan akhirnya bisa berkembang menjadi betapa pintar anaknya di sekolah. Si ibu A dengan bangga bercerita bahwa anak nya yang masih playgroup sudah pintar baca. Tak mau kalah, ibu B bilang anakya juga pandai baca dan berhitung. Si ibu c akhirnya cerita bahwa anaknya pun tak kalah pandai. Saya yang males “perang pamer” akhirnya hanya mendengarkannya dengan khusyuk.
Lalu tibalah waktu pulang, dan anak anakpun berhamburan keluar kelas; dan salah satu tokoh yang baru saja dibanggakan bundanya dengan ringan melempar tas meminta bunda nya membawakan tas nya. Luar biasa …..
Apasih yang sebenarnya jadi fokus dalam pendidikan orang tua jaman sekarang?
***
Pernah dalam suatu lomba menggambar di kota saya ketika berniat mengajarkan anak saya untuk menerima takdir kalah menang dengan lapang dada, saya menemukan contoh lain yang membuat saya kembali geleng geleng kepala.
Setelah dengan gamblang panitia menuturkan tata tertib lomba, akhirnya para orang tua diminta untuk meninggalkan arena lomba agar membiarkan anak anaknya untuk berkreasi sendiri.
Permintaan yang wajar dan mudah, toh inikan (menurut saya lho) lomba seni…ya pasti harus sesuai keinginan anak berkreasi sendiri, mengasah jiwa seninya.
Tapi ternyata …permintaan panitia untuk para orang tua meninggalkan arena bukan hal yang mudah, seperti tak mendengar pengumuman yang diulang ulang diucapkan. Ayah bunda masih sibuk saja memastikan anaknya mendengar petuah dan kiat kiat menjadi seniman sukses ala mereka padahal lomba sudah harus dimulai.
Satu lagi yang tak kalah menggemaskan buat saya, adalah ketika saya melihat seorang ibu berbisik keras (seolah berbisik tapi berusaha agar anaknya yang sedang di arena lomba mendengar) memberikan aba aba warna apa yang harus digunakan anaknya.
Astagfirullah hal adzim…..apakah menang dengan cara seperti itu membuatnya bangga? Satu lagi, apakah sehebat itu doktrin nya? Sempit sekali kebebasan berkreasi yang ia berikan kepada anaknya. Hanya demi kemenangan? Iya kalau menang, kalau tidak? Jangan sampai anaknya jadi bulan-bulanan saat pulang lomba. Duh!
Akhirnya hal hal tersebut menjadi bahan perenungan buat saya. Biarlah anak saya pintar pada waktunya, ini menurut saya. Karena semua anak ada kelebihan dan kekurangan, biar dia berkreasi sendiri. Yang penting ia harus belajar sopan, belajar empati sedini mungkin.
Tak mudah memang, sudah berulang ulang diingatkan saja anak-anak saya harus terus diingatkan sampai akhirnya dia sendiri yang suka mengingatkan ketika saya khilaf.
Jangan lupa mengingatkan untuk tidak lupa mengucapkan “tolong, maaf dan terima kasih”. Tiga kata ajaib ini orang dewasa pun suka lupa mengatakannya.
***
Peran guru memang sangat dibutuhkan di dalam hal ini. Namun guru tak akan berhasil menjadi pendidik tanpa dukungan orang tua. Apalagi pada masa pandemi sekarang di mana pendidikan akademis pun harus dilakukan di rumah, otomatis tanggung jawab ayah dan bundanyalah mensupport supaya anak menjadi pandai dan berakhlak.
Benar kata seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim, ”Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Artinya: Ibu dan ayah merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. … Jika seorang ibu itu memiliki karakter baik, maka baik pula karakter anaknya. Pastinya ayah pun harus menjadi pendidik dan pencontoh baik pula.
Dengan adanya penilaian bahwa netizen Indonesia peringkat terbawah se Asia dalam kesopanan, sebetulnya saya sudah merasakan dari mudahnya terbaca komentar negatif yang cenderung seperti bullying.
Melihat artis salah menyanyi saja, seolah itu adalah kesalahan yang pantas untuk dilempari komentar pedas sepedas pedasnya. Melihat orang menerima kesalahan dengan perceraian, masuk penjara , atau apa kita ramai ramai menghujat seolah kita adalah makhluk paling suci dan benar yang akan luput dari kesalahan yang sama. Padahal manusia adalah tempatnya salah.
Astagfirullah…ayah, bunda, semoga bukan kita yang suka memainkan jemari melahirkan komentar yang akan menyakiti hati dan trauma bagi orang lain. Sehingga anak kita pun menganggap menyakiti adalah hal yang lumrah sepanjang tak menjadi urusan hukum. Ingatkan kita bahwa hukum akhirat bahkan lebih ketat dan tak luput dari dosa kecil sekalipun.
***
Anak bagai cermin, jika kita berprilaku baik, maka baik juga kita melihat perilakunya. Begitu juga sebaliknya. Semoga saja generasi penerus kita adalah manusia manusia cerdas, pintar, dan berakhlak kebanggaan kita semua, Aamiin…
Saya hanya menulis esai ini berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan membaca artikel saja. Saya bukan seorang psikolog, pendidik atau siapapun. Semoga tulisan ini diperkenankan menjadi pembuka wawasan dan empati ayah bunda dalam sama sama mendidik generasi lebih baik dari kita orang tuanya, Aamin…maafkan apabila ada kata kata yang kurang berkenan…

Kiki Amalia, lulusan Politeknik Universitas Indonesia jurusan Teknik Grafika Penerbitan, Program Studi Penerbitan (1997). Pengalaman menulis pernah menjadi wartawati di Radar Bogor (1999-2000), penulis lepas di Tabloid remaja Mata dan portal pertama di Bogor (Bogor.net) sebelum akhirnya melepaskan karir menulis menjadi sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Hobby membaca , menulis, dan kini tengah fokus menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga..
