Mendongeng atau Berkisah?
Dalam rangka memperingati hari dongeng internasional pada tanggal 20 Maret, penulis tergelitik untuk menuliskan terkait salah kaprah penggunaan dongeng. Supaya kita bisa lebih arif dalam membersamai tumbuh kembang anak.
Penelitian tentang perkembangan otak anak yang dibiasakan dikisahkan oleh orang tuanya sudah banyak ditemui di banyak sumber. Salah satunya penulis kutip dari website Raisingchildren.net.au menyebutkan bahwa membacakan dan berkisah/bercerita kepada bayi dan anak sangat ampuh dalam menstimulus perkembangan otak dan imajinasi anak, mengembangkan kecakapan bahasa dan emosi, serta menguatkan bonding dan hubungan antara orangtua dengan anak.
Hasil riset lain yang dilansir oleh American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa anak balita yang tidak biasa diperdengarkan cerita/kisah langsung dari suara ayah ibunya; maka akan membuat mereka malas membaca dan susah konsentrasi saat usia sekolah. Fakta lain yang perlu diketahui oleh para orang tua adalah sejumlah 40% anak-anak masih berharap dibacakan buku oleh orang tuanya; walaupun usia mereka sudah remaja (US-Based Children’s publisher scholastic). Jadi, berangkat dari dua lansiran
Salah Kaprah
Secara bertahap dari waktu ke waktu, hari mendongeng sedunia dimulai pada tahun 1991 di Swedia saat ekuinoks bulan Maret. Alla berȁttares dag merayakan hari semua pendongeng yang kemudian seluruh dunia mengetahuinya. Dilanjutkan pada 1997 di Australia dan amerika Latin, hingga pada 2002 hari dongeng sedunia sudah menyebar ke semua bagian Skandinavia lainnya. Tahun 2009 ditandai pertama kalinya perayaan hari dongeng sedunia dilakukan di enam benua. Hingga saat ini, sedunia merayakan hari dongeng setiap tahun dengan tema-tema yang sesuai konteks persoalan dunia saat itu; misal mulai mimpi, pohon dan perjalanan.
Tahukan parents; arti kata dongeng menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar, berdusta, cerita bohong dan omong kosong. Artinya, ketika mendongeng dapat dikatakan telah menyampaikan kebohongan atau sedang berdusta, bisa kita bayangkan dampak apa yang terjadi kepada anak-anak.
Hal ini karena jamaknya konten-konten dongeng yang kita temui adalah cerita hewan dengan polah yang jauh dari nalar cerita pahlawan lokal dengan kekuatan ghaib yang sejatinya belum layak dikonsumsi anak-anak, hingga cerita yang berbau mistis. Sebut saja cerita si kancil mencuri timun, cerita si Jaka Tingkir dan cerita-cerita lainnya.
***
Selain itu, ternyata istilah dongeng juga dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia telah Allah sampaikan; seperti dalam QS. Al-Furqon ayat 4-5 dan Q.S.An-Nahl ayat 24-25, sebagaimana berikut ;
“(4) Dan orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (5) Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.”
“(24) Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”. (25) (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”
Selain itu, masih ada lagi dalam Surat Al An’aam ayat 25, Al Anfaal ayat 31, Al Mu’minun ayat 83, An Naml ayat 68, Al Ahqaf ayat 17, Al Qolam ayat 15 dan Al Mutaffifin ayat 13. Dari kesemua kata dongeng dalam terjemahan Al-Qur’an terlihat ungkapan yang mengatakan Al-Qur’an itu adalah dongengan belaka oleh orang-orang yang tidak beriman. Lalu, redaksi apa yang tepat untuk mengganti ‘dongeng’?
Berdasarkan 2 (dua) fakta dan alasan tersebut di atas, maka berpijak pada titah Al-Qur’an yang mengajak untuk mengembalikan istilah tersebut menjadi cerita terlebih kisah. Terbih jika sumber kisah berasal dari Kalamullah dalam Al-Qur’an.
Metode pengajaran melalui kisah sangat banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dan juga hadis. Bahkan salah satu nama surat dalam al-Qur’an, tepatnya surat ke-28 yang secara khusus dinamakan Al-Qashas (Kisah-kisah). Kisah-kisah dalam al-Qur’an tentu bukan dongeng kosong belaka. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an memang ditujukan untuk menjasi ibrah (pelajaran) dan hikmah; pemberi peringatan sekaligus pemberi kabar gembira yang pastinya sangat bermanfaat bagi manusia.
Keutamaan Berkisah
Alasan signifikan yang menjadi kekuatan utama metode kisah terletak pada kesesuaiannya dengan fitrah manusia. Karena secara psikologis manusia selalu membutuhkan sebuah role model atau prototype ideal dalam kehidupan yang digambarkan dalam bentuk tokoh yang jadi contoh untuk diikuti, maupun tokoh antagonis yang harus dijauhi sifat dan karakternya.
Dengan anugerah kemampuan berpikir yang imajinatif dan kontemplatif yang Allah berikan kepada manusia; sebuah kisah yang disampaikan oleh orang tua dalam suasana yang tepat akan memberikan kesan yang mendalam ke dalam benak anaknya, menghunjam ke dalam qolbu dan melahirkan sebuah kesadaran dan pembiasaan. Hal inilah yang menjadikan bahwa proses berkisah tujuannya untuk internalisasi nilai-nilai pengajaran dan pendidikan baik aqidah hingga akhlaq/karakter.
Adapun kisah itu sendiri memiliki beberapa kelebihan di antaranya; (Nuryanto,2016)
Sedangkan menurut M. Fauzi Rachman (2011: 105), banyak manfaat yang bisa dirasakan dari kegiatan berkisah, yaitu:
Di dalam Al-Qur’an, hampir Sebagian besar berisi tentang kisah. Hal tersebut tentu menjadi modal bagi para orangtua yang tidak akan kehabisan bahan untuk diceritakan kapada anak, untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Beberapa kisah-kisah tersebut di antaranya ; Kisah Maryam dan Nabi Isa, kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, Nabi Nuh, Nabi Sulaiman dengan ratu Balqis, Nabi Yunus dengan ikan paus, kisah ashabul kahfi, kisah keluarga Imran, kisah Nabi Khidir, Abu Lahab, dan kisah-kisah lainnya. Tergantung kita orangtua dalam upaya mendalami kisah-kisah al-Qur’an untuk menjadi referensi utama dalam menanamkan karakter terbaik pada anak. Semoga Bermanfaat!

Penulis adalah Ibu dari seorang anak laki-laki Balita, pengajar di Prodi Perbankan Syariah FAI UMSurabaya.
