Pentingnya Character Building Anak Sejak Dini
Manusia adalah bentuk utuh dari yang namanya perjuangan. Mulai dari sebelum lahir sampai wafat perjuangan itu ada pada diri manusia. Terpilih dari sekian juta bahkan miliyar sel sperma yang masuk ke ovum hingga keluar menjadi manusia utuh adalah awal dari perjuangan itu mencuat. Terlahir ke dunia menjadi pertanda awal perjuangan. Sehingga ada yang mengatakan menangisnya anak manusia merupakan pertanda ia akan menjalani perjuangan yang amat berat di dunia.
Baik, manusia tumbuh dan berkembang demikian seiring berjalannya waktu dengan menyesuaikan lingkungan. Keluarga, kerabat, tetangga dan teman membentuk karakter seseorang. Ya, karakter manusia dapat terbentuk sejak dini. Penanaman nilai-nilai positif dalam diri manusia sejak dini akan memengaruhi tumbuh dan perkembangannya juga karakter. Seorang yang biasa memperoleh kemanjaan sejak kecil akan menjadikannya malas dan kurang bisa mengembangkan diri. Ia yang sejak kecil tertempa dan terdidik dengan baik akan memunculkan pribadi baik dan berkarakter baik (hasil niteni atau ilmu titen).
Memahami hal tersebut saya teringat dengan hadist Nabi Saw tentang “fitrah manusia”. Manusia lahir dengan membawa fitrah yang sama. Yang membentuknya sehingga mungkin sesuai dengan fitrah asal atau malah mungkin menyimpang adalah “lingkungan”.
كل مولود يولد على الفطرة وأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (متفق عليه)
“Setiap yang lahir itu menetapi kefitrahan sedang kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
Kita bisa melihatnya, bagaimana “fitrah” manusia itu berubah oleh pengaruh kedua orang tuanya. Menganalogikannya dengan karakter, manusia ibarat kertas putih nan kosong. Lingkunganlah yang memberikan warna. Membentuknya menjadi pribadi baik atau sebaliknya. Oleh karenanya sangat penting sekali kiranya pendidikan karakter sejak dini. Sehingga dengan demikian ia akan menjadi pribadi baik kelak.
Ibu Sebagai Pemegang Kunci Utama Membangun Bangsa Yang Baik
Ibu adalah manusia yang luar biasa, super power. Mulai dari mengandung sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui dan merawatnya hingga beranjak dewasa adalah bagian dari ke-luar biasaan seorang ibu. Namun, bukan itu yang menjadi patokan ke-luar biasannya itu. “Pendidikan” dari seorang ibu yang melahirkan itu yang luar biasa. Seorang ibu akan menjadi “sekolah pertama” bagi anak-anaknya. Menjadi yang pertama mengajarkan “karakter” itu. Semua ajaran orang tua terutama ibu akan terekam oleh anak sebagai pembelajaran dan membentuk karakternya.
Saya teringat sebuah syair tentang ibu ini:
الام مدرسة اذا أعددتها * اعددت شعبا طيب الاعراق
الام روض ان تعهده الحيا * بالري أورق أيما ايراق
الام أستاذ الاساتذة الاولى * شغلت مأثرهم مدى الافاق
Ibu adalah sekolah pertama, jika engkau mempersiapkannya (memilihnya dengan baik) maka engkau telah menyiapkan bangsa yang memiliki wangi harum
Ia adalah taman jika engkau merawatnya ia akan tumbuh hidup segar dengan dipenuhi dedaunan rindang
Ia adalah guru dari guru, pengaruhnya meliputi semesta
Sebuah perumpamaan sederhana yang menjadi ikatan yang erat. Ibu dan peran sentralnya membangun bangsa baik dan berkarakter dengan memberikan pendidikan pertama bagi anak. Peranan ibu sebagai “sekolah pertama” menjadikannya pemeran utama bagi terbentuknya bangsa yang berkarakter. Pendidikan ibu baik, bangsa bermartabatlah hasilnya.
Hegemoni Ajaran Agama Terhadap Pembentukan Karakter
Selain ibu sebagai pendidik pertama dan menjadi sekolah pertama bagi seorang anak, ajaran dan nilai yang terkandung dalam agama adalah salah satu yang membentuk karakter seseorang. Islam dengan segala isi ilmu pengetahuannya merupakan suaka yang sangat besar. Nasihat dan kisah Nabi terdahulu, teladan ulama terdahulu merupakan salah satu dari sekian cara yang jitu dalam menanamkan nilai moral pada anak.
Hegemoni ini adalah sebuah kewajaran. Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia syariat Islam merupakan metode Allah untuk menuntun dari lahir menuju mati.
Salah satu yang paling saya suka terkait dalam hal ini adalah kisah percakapan Luqman dan anaknya dalam surat Luqman (31/13-19). Sebuah nasihat hangat dari seorang ayah kepada anak kecilnya.
Setidaknya ada delapan isi nasihat (yang saya tangkap) Luqman kepada anaknya. Namun, dari sekian banyaknya nasihat yang diberikan oleh Luqman kepada anaknya ada beberapa hal yang bisa saya petik dari percakapan keduanya yang hangat (selain isinya yang berupa perintah dan larangan).
***
Pertama, nasihat yang baik dan mudah diterima bukanlah nasihat yang diberikan dengan tekanan, melainkan kelembutan. Dibuktikan dengan kata “ya bunayya”, (wahai anak kecilku), panggilan hangat seorang ayah kepada anaknya. Banyak sekali orang tua yang salah kaprah ketika memberikan nasihat kepada anaknya, melakukannya dengan kasar, membentak bahkan tidak jarang sampai main fisik. Hal tersebut merupakan kesalahan fatal. Alih-alih anak akan menurut dengan baik dan sukarela. Malah ia akan melakukannya karena terpaksa dan takut. Pekerjaan yang timbul karena rasa takut dan keterpaksaan tidak akan bertahan lama.
Kedua, nasihat yang baik dan mudah diterima adalah nasihat yang berdasarkan argumen yang jelas. Sehingga menjadikan pendengarnya menerima nasihat yang diberikan. Termasuk pada nasihat anak sebagai cara membentuk karakternya. Pengajaran dengan penalaran akan membuatnya belajar berpikir dengan baik.
Ketiga, nasihat pada dasarnya adalah mengharapkan “kebaikan” akan diperoleh orang lain. Kita hanya menunjukannya saja. Oleh karenanya tidak masalah jika dia menerima ataupun tidak. Hal ini berlaku juga pada anak. Anak adalah titipan, orang tua diperintah untuk merawat dan mendidiknya. Namun, hak untuk memberi karakter baik pada anak adalah hak prerogatif Allah. Oleh karenanya termasuk bagian dari “ikhtiar” itu adalah qana’ah setelah berusaha.
Demikian seklumit ikhtiar untuk membentuk sebuah karakter baik. Bangsa baik adalah bangsa yang berkarakter baik serta bermoral baik.
Wallahu A’lam
Referensi:
Abi Al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir,1999. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Riyadh: Daar Thayyibah li An-Nasyri wa At-Tauzi’
Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Sawi, 2013. Hasyiah Al-Sawi ‘ala Tafsir Jalalain. Beirut: Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah
Alumnus Khas Kempek Mahasantri Ma’had Aly Saidussidiqiyah Jakarta.
