f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibrahim

Perjalanan Spritual Ibrahim Alaihissalam (1)

Salah satu inti pokok kehidupan adalah bisa mengambil pelajaran atau ibrah dari hari kemarin; bahkan kehidupan yang lalu yang berabad-abad silam. Perjalanan Ibrahim alaihissalam merupakan sebuah histori yang fenomental. Yang dengan perjalanan spiritual itu menjadi isyarat petunjuk yang diwariskan pada nabi-nabi setelahnya; sampai kepada Nabi Muhammad Saw, yang kemudian menjadi pedoman kehidupan utama umat Islam hingga kita kembali kepada Allah Swt.

Di antara sekian hikmah kehidupan Nabi Ibrahim as terdapat hal-hal pokok yang ditampilkan pada Al-Qur’an sebagai petunjuk yang disampaikan kepada Rasulullah Saw kepada kita semua. Dan ini boleh jadi akan kita alami dalam kehidupan kita; sehingga sebelum persoalan-persoalan itu kita lalui Allah telah memberikan jalan keluar, memberikan solusi, yang bila kita pelajari dengan baik petunjuk kehidupan ini, segala aktifitas yang kita lalui menjadi mudah kemudian masalah-masalah yang datang akan teratasi.

Ibrahim Melihat Tanda-Tanda

Kisah ini dimulai pada perjalanan Ibrahim a.s. yang kemudian ditampilkan Al-Qur’an wakażālika Nurī ibrāhīma malukûtas samāwāti wal-ardi waliyakûna minal mûqinīn ; (Q.S. Al-An’ām : 75-79). “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.”

Dengan petunjuk itu Ibrahim a.s. semakin yakin dengan Allah. Orang yang yakin dengan Allah akan diberi kemudahan. Orang yang dekat dengan pemberi solusi, akan dimudahkan dalam menghadapi masalah yang dihadapi. Orang yang dekat dengan Allah maka, apa yang tidak bisa diatasi oleh Allah Swt .Beliau — Ibrahim alaihissalam — belajar dari alam, beliau melihat ke langit, melihat penampakan rembulan, melihat penampakan matahari, belajarnya dari situ hakikat ilmu tauhid sebenarnya. Dan pada akhir kesimpulannya, hanyalah Allah Tuhan Pemelihara Alam. Beliau menyimpulkan Innī wajjahtu wajhiya lil-ladżī fataras-samāwāti wal-arda hanīfaw wa-mā ana minal-musyrikīn. Tuhan itu hanya Allah.

Baca Juga  Akhirnya Fatih Menang Melawan Keterlambatan Bicara dan Kemampuan Motorik

Sampai kemudian beliau memasrahkan dirinya, “saya pasrahkan diriku betul-betul kepada Allah”. Itulah esensi dalam kehidupan bertauhid. Sesibuk apapun seseorang, apapun aktivitasnya, jangan lupakan bahwa kita punya Tuhan. Seorang Ibrahim a.s, seorang khalilullah, yang sangat dicintai Allah, Abul Anbiyā, bapak para nabi, orang yang sangat sibuk berdakwah begitupun mencari nafkah. Masih sempat meluangkan waktu kepada Allah

Allah berfirman, Fa’lam annahụ lā ilāha illallāhu (Q.S. Muhammad : 19). Perlu digarisbawahi bahwa dasar spritual lā ilāha illallāh ini  kalau tidak dilakukan akan menimbulkan dampak yang tidak sedikit pada kegiatan yang dijalani; bahkan hati kita rapuh hanya dengan tawaran mie instan, dengan tawaran sarung, dengan tawaran kalimat yang segar. Orang bisa meninggalkan kalimat lā ilāha illallāh hanya dengan perkara dunia yang hilang sebelum ia wafat.

Kisah Meninggalkan Siti Hajar

Nabi Ibrahim a.s setelah berumah tangga dengan Sayyidah Sarah ataupun dengan Sayyidah Hajar, tidak pernah beliau menjadikan kesalehan itu milik pribadi. Beliau salurkan, beliau sampaikan, beliau bagikan dengan menghadirkan nilai-nilai pendidikan dengan keluarganya. Ditanamkan nilai-nilai keyakinan, nilai-nilai ibadah, sehingga dengan itu menjadikan satu keluarga tersebut bertawakal penuh kepada Allah.

Dengan tawakal ini sekarang perhatikan apa yang terjadi. Bukankah Nabi Ibrahim a.s. ketika dianugerahi keturunan bernama Ismail Alaihissalam. Dibawa Ibrahim, Ismail bersama ibunya ke tempat yang tidak ada benih-benih yang mendukung dan menunjang kehidupan, biwādin gairi zī zar’in ‘inda baitikal-muharrami .

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37)

Baca Juga  Bagaimana Orang Tua Merusak Anaknya?

Tapi kisahnya bukan di situ, ketika Ibrahim a.s. ingin meninggalkan Ismail dan ibundanya, yang Ismail masih dalam keadaan bayi. Ada satu riwayat yang mengatakan, istrinya mengatakan ahāza min amrillah? Apakah ini perintah Allah?

Ada yang mengatakan, Ibrahim alaihissalam hanya mengatakan bala (iya) saja. Adapula yang mengatakan ini adalah perintah Allah. Ada yang luar biasa, ketika Ibrahim alaihissalam mengatakan ini adalah perintah Allah, istrinya menjawab Law Kaana min amri-Allah. Kalaupun ini adalah perintah Allah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya, pasti Allah akan melindungi hamba-Nya, pasti Allah jaga hambanya, maka ini yang luar biasa. Setiap ketawakalan itu, akan menjadikan Hajar semakin semangat memenuhi kebutuhan Ismail, sampai menemukan air zam-zam yang sampai saat ini masih ada.

Jadi, seandainya para suami mendapat tugas seperti ibrahim a.s, meninggalkan keluarga, mengurus tugas, ada yang sehari, dua hari, bahkan berbulan-bulan. Maka dari itu hikmahnya jadikan itu melekat pada kehidupan rumah tangga. Pekejaan apapun, di manapun, dalam kondisi apapun, akan hadir kekuatan yang langsung diberikan oleh Allah, Tuhan Pemelihara Alam.

Bagikan
Post a Comment