f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kondangan

Membagi Sumbangan di Musim Kondangan

“Mungkin cukup sekali ini saja, Mbak. Tak kusangka jadi begini. Ada sih kecewa di hati.” Bu B, tetanggaku, mengucapkan itu sembari matanya berkaca-kaca. Setelah suasana agak tenang ia lalu bercerita panjang lebar tanpa kuminta.

Dia merasa sedih ketika angan-angannya selama ini tak terwujud dan tak sesuai kenyataan. Berharap apa saja yang telah  dikeluarkan dalam rangka nyumbang orang yang punya gawe, akan kembali kepadanya justru jauh panggang dari api.

Usai acara resepsi pernikahan putri semata wayangnya seminggu lalu, bukan rasa syukur yang ia panjatkan tapi malah mengungkit-ungkit orang-orang yang menurutnya telah mengecewakan. Orang-orang yang pernah ia sumbang dengan jumlah tertentu saat mereka punya hajat ngundhuh mantu, ternyata tak membalas seperti yang ia harapkan.

***

Salah satu kebiasaan di kampung tempatku tinggal dan sekitarnya adalah budaya menyumbang kepada tetangga, kerabat ataupun saudara yang sedang punya gawe atau punya hajat. Entah itu pernikahan atau khitanan. Ini sudah berlangsung turun temurun dan kini bahkan sedikit lebih ekstrim dibanding jaman dahulu.

Ada yang menyebutnya nyumbang ada pula yang memakai istilah buwoh kalau dikampung. Kendati disebut menyumbang, namun sesungguhnya semacam arisan. Misalnya, kita menyumbang bu A seratus ribu, suatu saat nanti bu A akan mengembalikan dengan jumlah yang sama atau lebih, sesuai nilainya pada saat itu.

Karena semacam arisan maka siapa dan berapa sumbangan yang diterima akan ada catatannya. Kok bisa? Ya, ini berlaku untuk sumbangan amplop yang jelas-jelas ada tulisan nama penyumbangnya karena banyak juga amplop yang tak bernama.

Yang lebih unik lagi selain amplop yang berisi sejumlah uang, ada juga yang menyumbang berupa rokok satu pak atau lebih dan atau sejumlah gula pasir atau beras. Semua dicatat rapi termasuk kado-kado yang diterima.

Baca Juga  Tuhanmu dan Badanmu Memiliki Hak Atas Dirimu

Catatan ini penting karena bila suatu saat sang penyumbang juga punya gawe, akan disumbang balik sejumlah yang ada dalam catatan atau minimal yang sebanding nilainya. Tapi untuk menyumbang ke tetangga dekat, sanak saudara atau teman akrab, biasanya lebih besar jumlahnya.

Hal ini sudah menjadi semacam tradisi di daerah yang bagi sebagian masyarakat dianggap penting. Padahal tidak selalu demikian, karena bukan tidak mungkin justru memberatkan bagi sebagian orang.

***

Merasa pernah disumbang sejumlah besar, mau menyumbang balik tak mampu, akan menjadi masalah tersendiri. Bahkan ada yang sampai berhutang hanya untuk mengembalikan sumbangan. Bila ternyata ini terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan, jadi masalah kan?

Mungkin akan lebih baik bila kita menyumbang yang sewajarnya saja. Mengingat di kampung kadang sehari ada lebih dari satu yang punya gawe. Sebatas yang kita mampu dan tak perlu berharap untuk dikembalikan.

Namanya juga menyumbang, berarti kita sesuaikan dengan kemampuan dan dana yang kita miliki saat itu. Jika memang kebetulan sedang banyak rejeki, tidak menutup kemungkinan bisa menyumbang agak berlebih.

Menyumbang, kita niatkan dengan ikhlas sebagai wujud kerukunan antar manusia dalam hidup bermasyarakat. Agar tak ada beban dan tak terjadi seperti cerita bu B di atas yang kecewa, karena apa yang diterima tak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Munculnya rasa kecewa, dikhawatirkan akan berpengaruh pada baik buruknya hubungan kita ke depan dengan masyarakat sekitar. Meski kita tahu tidak semua orang berpikiran seperti bu B, namun tidak ada salahnya kita siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Sudah saatnya kita lebih cerdas dalam menyikapi fenomena ini. Ketika pandemi covid belum benar-benar pergi, masalah sumbang menyumbang saat kondangan menjadi tambahan beban bagi sebagian orang.

Baca Juga  Menurunkan Jejak Karbon Sebagai Ibadah Utama di Bulan Ramadan

Bukan berarti kita tak boleh mengadakan pesta atau punya gawe agar tak merepotkan atau membebani orang lain. Bukan. Mengadakan walimahan (jamuan makan-makan saat acara pernikahan), termasuk anjuran agama meski hanya menyembelih seekor kambing. Sebab bersatunya dua insan dalam mahligai suci pernikahan, sudah seharusnya dirayakan agar orang-orang tahu.

***

Sebagai mahluk sosial, kita tak bisa acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Berkaitan dengan itu, bagi yang sudah pernah punya hajat atau belum, mendatangi setiap undangan kondangan seakan menjadi wajib. Semata demi menghormati sesama dalam hal ini si pengundang.

Yang dulu merasa no problem dalam menyumbang, di era pandemi covid sekarang ini pasti lain ceritanya. Kita harus sadar sejauh mana yang bisa kita sumbangkan, tanpa harus mengorbankan kebutuhan wajib sehari-hari. Kejelian, kecerdasan dan keihlasan kita, kembali diuji.

Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah peribahasa yang menggambarkan bahwa tiap-tiap daerah memiliki adat istiadat yang tidak sama. Demikian pula kebiasaan di daerah satu belum tentu sama dengan di daerah lain. Meskipun acara kondangan di satu sisi tampak memberatkan, namun di sisi lain tetap ada nilai-nilai kedermawanan yang menyertai.

Contoh nyata, kemarin ada keluarga yang bisa dikatakan sangat sederhana, mengadakan syukuran pernikahan anaknya secara sangat sederhana pula. Karena dilandasi saling menghormati dan sedikit mengandung unsur sedekah, banyak tamu yang berdatangan baik dari tetangga maupun masyarakat sekitar. Sumbanganpun melimpah.

***

Budaya menyumbang di acara kondangan syukuran pernikahan akan selalu ada entah sampai kapan. Kendati motifnya tidak selalu sama, namun kenyataan di lapangan, ternyata ada juga yang murni syukuran tanpa mau menerima sumbangan dari siapapun. Ada.

Baca Juga  Memiliki Privilese Religiusitas adalah Sebuah Keberuntungan

Nah, di musim kondangan ini, kita dituntut untuk lebih pintar menjaga kesehatan ekonomi keluarga. Jangan sampai gara-gara terlalu banyak kondangan membuat ekonomi kita morat-marit.

Ada bulan-bulan tertentu di mana kondangan satu dengan kondangan lain berurutan waktunya. Bila perlu, tak ada ruginya kita berusaha menyisihkan sebagian rejeki jauh-jauh hari, khusus untuk pos pos kondangan. Agar kita tak merasa kaget bila suatu hari ternyata pengeluaran kita membengkak.

Membahas soal pengeluaran kebutuhan rumah tangga sehari-hari, tak akan ada habisnya. Di samping pengeluaran wajib, ada pula pengeluaran tetap tiap tahun seperti saat-saat musim kondangan. Ini tidak bisa kita hindari karena kita hidup bermasyarakat dengan aneka ragam budaya dan adat setempat.

Sekali lagi kita harus pandai dalam menyikapi tanpa menggerus nilai-nilai luhur kerukunan yang dijunjung tinggi di masyarakat. Menyumbang semampu kita tanpa pamrih tentu lebih utama.

Bagikan
Comments
  • Rependi

    Ini inspirasi atw saran y mba

    Maret 18, 2021
    • Wurry Srie

      Lebih pada saran sih, berdasarkan pengalaman di lapangan. Boleh juga sbg inspirasi.

      Maret 20, 2021
Post a Comment