Pentingnya Sikap Positif Seorang Muslim
Semua perkataan Nabi Muhammad SAW termasuk dalam hadist dan merupakan sumber hukum Islam setelah Qur’an. Tetapi rasa-rasanya hadist di bawah ini adalah hadist yang paling relevan bila kita berbicara tentang sikap positif. Terutama saat pandemi Covid-19 seperti saat ini. Relevansinya di mana? Alih-alih menjelaskannya secara langsung, coba dengarkan sebentar cerita saya.
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu secara marfu’,
“Allah Ta’ala berfirman: wahai hamba-Ku, Aku sesuai persangkaanmu kepada-Ku, dan Aku bersamamu jika engkau ingat kepada-Ku” (HR. Al Hakim no. 1828, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah no. 2012).
Keterpurukan Akibat Pandemi
Seperti kebanyakan masyarakat Indonesia yang keadaan ekonominya sangat terpukul di masa pandemi ini, seperti itulah keadaan ekonomi keluarga kami. Walaupun saya tidak terkena PHK (mengingat saya bekerja pada saudara sendiri), tetapi penurunan pendapatan saya begitu drastis. Ndak perlulah saya sebutkan nominalnya, yang pasti hampir separuh penurunannya. Dan ditambah dengan istri yang sudah berhenti bekerja hampir setengah tahun yang lalu, lengkap sudah keterpurukan keluarga kecil kami.
Bulan Juni mungkin puncak dari keterpurukan itu. Istri saya bahkan sampai bertanya berkali-kali, bisakah saya membayar segala keperluan hidup dan juga segala tagihan yang ada. Saya hanya menjawab pelan “Wes Ojo dipikir nemen-nemen. Engkok lak onok wae rejekine”. Jangan dipikir terlalu dalam, nanti pasti ada saja rejekinya. Saya menjawab sebisanya saat itu, dengan tanpa sadar bahwa mungkin itu adalah pengejawantahan sebenarnya dari selalu bersikap positif.
Upaya Positif Bangkit dari Keterpurukan
Tapi tentu saya tidak hanya berdiam diri saja menunggu rejeki itu datang. Ada dua hal tambahan yang saya lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Yang pertama dari sisi pengeluaran. Saya dan Istri akhirnya dengan berat hati memindahkan sekolah anak pertama kami ke desa. Dari SD swasta Surabaya ke SD swasta Lamongan, agar bisa menghemat biaya sekolah perbulannya. Biaya sekolah di pinggiran desa dengan di kota tentu tidak bisa dibandingkan.
Dan ini juga saya lakukan sebab adanya pertimbangan lain, yaitu kasihan kalau tiap minggu dia harus melakukan perjalanan jauh. Sebab saya bekerja di Surabaya sedangkan Ibu dan Adiknya di Lamongan. Bahkan di akhir tahun kemarin anak saya itu sempat jatuh sakit, gejala typhus. Mungkin karena kelelahan.
Hal yang kedua adalah dari sisi pendapatan. Selain bekerja seperti biasa, saya juga berulangkali mengirimkan naskah tulisan ke beberapa media online. Beberapa kali tulisan saya dimuat di media-media online tersebut. Sayangnya kebanyakan mensyaratkan jumlah view tertentu untuk bisa mendapatkan honorarium. Namun akhirnya ada satu tulisan saya yang akhirnya dimuat di salah satu media online yang tidak perlu syarat view untuk mendapatkan honorarium. Jumlahnya sangat lumayan untuk tambahan, hehehe.
Husnuzhon pada Allah
Sebagian dari anda mungkin bertanya kenapa berdoa kok ndak diikutkan sebagai hal tambahan yang saya lakukan? Bagi saya itu bukan termasuk hal-hal tambahan, itu hal yang paling utama. Jadi ya ndak perlu diomongkan lagi.
Tapi bagi saya, berpikir positif bukan hanya berarti kita yakin bahwa usaha-usaha yang kita lakukan serta doa-doa yang kita panjatkan pasti selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Ya ndak seperti itu juga. Berpikir positif itu lebih ke husnuzhon atau berprasangka baik kepada segala ketentuan Allah kepada kita. Entah itu yang bentuknya berkah atau bahkan bencana. Contoh paling aktual ya pandemi Covid-19 ini. Hampir semua orang di dunia merasakan dampaknya. Tetapi apakah itu membuat kita merasa pesimis tentang hidup ini? Justru sebaliknya. Kita semakin diingatkan bahwa kedudukan Allah itu di atas segalanya di dunia ini. Dan tahu bahwa Allah di atas segalanya adalah sikap positif yang sesungguhnya.
Karena itu, selama Tuhan saya masih Allah, saya tetap yakin bisa makan. Kok saya bisa begitu yakin? Itu karena diantara 99 Asmaul Husna, ada 8 nama tersendiri yang berkaitan dengan rezeki.
Ar Rahman artinya Maha Pengasih, As Salaam artinya Maha Memberi Kesejahteraan, Al Wahhaab artinya Maha Pemberi Karunia, Ar Razzaaq artinya Pemberi Rezeki, Al Fattaah artinya Pembuka Rahmat, Al Muqiit artinya Pemberi Kecukupan, Al Kariim artinya Maha Pemurah, dan Al Mughnii artinya Pemberi Kekayaan.
Keharusan berpikir Positif bagi Seorang Muslim
Dengan begitu banyaknya nama Allah yang berkaitan dengan rezeki, apakah anda tidak melihat itu sebagai suatu jaminan dari Allah? Jaminan akan rezeki setiap mahkluk sebagaimana yang tertulis di firman-Nya :
“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6).
Karena itu, apapun yang terjadi kepada saya, saya selalu mencoba untuk selalu berpikir positif. Sebab berpikir positif adalah sebuah keharusan bagi seorang Muslim. Karena bagaimanapun juga, ditakdirkan bisa sujud saja sudah merupakan hal termbois dalam hidup saya.
Wallahu a’lam.
