Cara Kerja Kebahagiaan
Beberapa waktu lalu saya tanding game sepak bola PlayStation bersama kawan saya, saya sungguh senang, karena khirnya saya memenangkan pertandingan itu, namun rasa senang itu hanya bertahan sebentar.
Perasaan yang sama juga saya rasakan ketika tulisan pertama saya dimuat di koran online. Dan sama, perasaan itu hanya bertahan sebentar.
Paparan mengenai pengalaman “kesenangan” saya, mungkin sudah cukup menjelaskan bahwa kesenangan adalah hal yang tidak bisa langgeng.
Bahkan bila perasaan senang digantungkan pada kekayaan dan popularitas, tidak akan bisa membuatnya awet. Felix Kjellberg, dalam satu wawancara, katanya ia merasa biasa saja walau ia adalah YouTubers nomor satu dunia yang tentu saja hartanya melimpah ruah.
Momen paling bersejarah bagi hidup kita pun tidak akan mampu melanggengkan kesenangan. Lihatlah mereka yang menikah, di hari itu, mungkin ia berbahagia. Tapi setelah menikah, apakah kebahagiaan itu terus terbawa? Atau, apakah Mario Gotze sampai sekarang masih loncat kegirangan, karena gol yang dia cetak di partai final piala dunia 2014, yang gol itu membawa Jerman jadi Juara piala dunia? Saya yakin sekali tidak.
Tidak ada satupun asbab yang bisa membuat kesenangan menjadi permanen
Ribuan tahun lalu Budha sudah mengatakan ini, bahwasanya kesengangan hanyalah sensasi sesaat, sekalipun semua yang kita inginkan sudah kita dapatkan.
Apa yang dikatakan Budha tentang kesenangan, sejalan dengan sains. Menurut sains, evolusi mendesain otak kita untuk tidak bisa merasakan bahagia selamanya, itu agar kita dapat bertahan hidup dan terus bereproduksi.
Sistem biokimia mendorong kita melakukan hal-hal yang menunjang kebutuhan bertahan hidup dan reproduksi kita, dengan cara mereward tubuh kita dengan perasaan senang yang sesaat. Kita makan agar terhindar dari tidak enaknya rasa lapar, dan kita bercinta untuk mendapatkan kepuasan.
Kepuasan karena kenyang dan bercinta akan berlalu, saat kepuasan itu berlalu, kita inginkan kepuasan itu lagi, dengan makan dan bercinta lagi. Itu membentuk siklus, yang energi perputarannya terletak pada keinginan yang terus menerus untuk mengejar kepuasaan itu. Siklus yang terus berputar itu akan memperbesar peluang bertahan hidup dan bereproduksi kita.
Apa yang terjadi bila kesenangan itu permanen?
Kesenangan permanen akan membuat kita cepat punah. Misal, ada manusia dari hasil mutasi yang langka, manusia ini bisa merasakan kebahagiaan permanen hanya dengan sekali makan, Karena sudah bahagia dengan itu, ia tak lagi berhasrat untuk makan lagi dan bercinta. Akibatnya ia akan cepat mati dan tak beregenerasi.
Budha dan Sains memang sama-sama berpandangan bahwa kesenangan adalah perasaan yang sesaat, namun mereka berbeda dalam hal menyikapi.
Menurut Budha, mengejar kesenganan mati-matian sama dengan kesengsaraan. Obsesi untuk ingin terus merasakan kesenangan akan mendorong kita untuk terus mengejarnya sebab sifatnya yang sesaat. Proses mengejar ini yang membuat kita selalu tidak puas dan stress.
Cara bijak Budha menyikapi kesenangan adalah dengan mereduksi nafsu mengejar kesenangan. Kita bisa mereduksi itu, dengan menyadari bahwa kesenangan hanyalah sensasi yang cepat berlalu, sehingga keinginan kita untuk mengejarnya jadi berkurang. Lalu, untuk apa kita mati-matian mengejar kesenangan kalau toh itu cuma sesaat ?
Kesenangan timbul tidak disebabkan oleh faktor eksternal, tapi oleh perspektif kita
Mungkin kita merasa senang sesaat setelah kita menang undian, namun bukan kemenangan itu yang buat kita senang, tapi oleh perspektif kita.
Dalam sains, perspektif ditelusuri lebih dalam lagi, perspektif kita ditentukan oleh pergolakan hormon dalam tubuh kita. Pergolakan hormon tak ada hubungannya dengan kejadian eksternal kita. Jadi kita bisa senang cukup dengan memanipulasi hormon tertentu dalam tubuh kita.
Sedari dulu kita sudah mampu menciptakan sensasi senang dengan memanipulasi hormon tertentu di dalam tubuh kita, yakni dengan meminum Alkohol, hisap ganja, Minum arak.
Perkembangannya, para ahli riset sudah berusaha melakukan manipulasi biokomia dengan cara yang lebih canggih, dengan mencoba menstimulus otak dengan mengirim sinyal-sinyal elektrik ke titik-titik tertentu di otak. Ini akan menjadi ancang-ancang menuju terciptanya alat pemicu kebahagiaan. Mengingat sains terus berinovasi.
Sebagian besar mungkin menganggap itu utopia atau mimpi yang ketinggian. Tapi dulu, teknologi informasi semacam video call juga dianggap utopia, sekarang ia menjadi salah satu alternatif komunikasi jarak jauh yang paling sering dipakai orang.
Di abad 16, banyak penyakit yang disebabkan oleh mikroba dianggap mustahil diatasi. Ketika dunia medis mengenal dunia mikroba. Medis mampu menciptakan antiobiotik dan vaksin, sehingga banyak penyakit yang disebabkan oleh mikroba bisa diatasi seperti diare yang disebabkan oleh bakteri e.coly.
Masih banyak sekali hal yang dulu dianggap mustahil telah terjadi sekarang. Boleh jadi pula apa yang kita anggap mustahil sekarang akan terjadi juga di masa depan, termasuk alat pemicu kebahagiaan.
