f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
luar negeri

Kunci Sukses Mendapat Beasiswa Ke Luar Negeri ala Anak Desa

Beberapa hari lalu, informasi tentang “Scholarship Talk” telah tersebar melalui beberapa grup yang saya punya. Seminar beasiswa ini sudah kali ketiga terhitung semenjak saya semester dua, kemudian acara MaTa, dan hari ini.

Temanya adalah “Dari Desa Ke Luar Negeri Dengan Beasiswa”. Ini membahas tentang sosok pemuda desa yang biasa saja, tapi mampu dan sukses mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Pemuda yang memiliki tekad dan keteguhan yang kuat untuk meraih impiannya; yang jatuh bangun dengan semua kondisi. Meskipun, tanpa kehadiran orang tua.

Prosesnya tentu saja tidak mudah, katanya. Pemuda asal Karangrejo, Tulungagung itu hidup tanpa orang tua semenjak di Aliyah. Tahun pertama menginjak sekolah tingkat Aliyah, ibundanya meninggal, kemudian tahun kedua, ayahnya juga meninggal. Keadaan yang sangat membuatnya terpuruk. Terlebih, ia adalah anak tunggal, tidak memiliki saudara kandung, namun memiliki kakak angkat.

Pengalaman

Pengalaman semasa Aliyah juga cukup baik, karena ia adalah lulusan pondok, maka kitab kuning dan sebagainya mampu ia kuasai. Tidak heran beberapa kali beliau mendapat kejuaraan pada lomba-lomba pidato bahasa arab atau hafalan kitab-kitab.

Cara menyampaikan materinya sangat menarik dan meyakinkan. Seperti yang beliau katakan bahwa; “cara anda meyakinkan orang lain, yakinkanlah dengan cara yang realistis dan masuk akal”. Dan cara tersebut memang ia terapkan. Alhasil, satu ruangan tersebut seakan terpukau dengan penyampaian penjelasannya.

Dengan latar belakang tanpa sosok orang tua ini tidak membawanya kepada keterpurukan dan ketergantungan pada orang lain. Beliau sosok yang memiliki tekad dan daya juang tinggi. Hingga mampu berkuliah di Universitas Paramadina dan melanjutkan ke George Washington DC, Amerika.

Muatan Materi

Biasanya,orang yang akan melanjutkan kuliah itu memiliki rasa khawatir yang jauh lebih besar dari hobi atau passionnya. Akan tetapi, yang harus para pejuang kurangi adalah kekhawatiran itu.

Baca Juga  Perlakuan Orang Tua dan Guru di Era New Normal

Komposisi dalam meraih beasiswa, di antaranya; hobi/passion yang dimiliki – keahlian – observasi apa yang sedang dibutuhkan dunia. Kadangkala kita memiliki hobi akan tetapi tidak ahli juga dalam hobi tersebut. Maka yang ditekankan adalah keahlian, sebaik apapun hobi, jika tidak ditekuni dan dikembangkan maka sama saja. Tiada pengaruh. Sedangkan keahlian berpengaruh dalam menentukan impian, keahlian mampu mewujudkan kemana impian akan kita arahkan. Termasuk juga observasi. Ketika sudah memiliki keahlian dalam menjalankan hobi, maka selanjutnya mencari tahu; apa saja yang menjadi kebutuhan dunia agar kita mampu memasuki ranah modern yang akan datang.

Dari itu semua, yang tidak boleh kita abaikan adalah sikap percaya diri. Mengapa? Karena percaya diri adalah bentuk apresisasi atas penghargaan diri kita. Dengan begitu, maka orang lain akan menghargai kita sebaliknya.

Masalah ke Luar Negeri
Pertama, biaya

Biaya merupakan faktor penting dan mendasar untuk melanjutkan suatu pendidikan.Jangankan melanjutkan keluar negeri, bahkan kadangkala, orang desa yang akan melanjutkan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah pun dijadikan alasan. “Kamu kerja aja ya nduk, ibu sudah gak sanggup untuk membiayaimu”. “Iyayah, kamu bisa kuliah. Anak bibi juga aslinya mau kuliah, tapi gak punya uang”. Dan masih banyak lagi kata-kata yang sering saya dengar di sekitaran rumah. Tapi memang benar, semua yang berhubungan dengan uang, biaya, modal itu menjadi alasan yang umum sekali.

Akan tetapi, pemateri mengungkapkan lagi bahwa; “biaya memang menjadi masalah utama, tapi… kan bisa menghutang? Tapi, ‘kan bisa minjam dulu. Dan banyak yang lagi yang bisa kita cari untuk mendapatkan uang”.

Kedua, IELTS/TOEFL bukan segalanya

Saat kita mendengar kata IELTS/TOEFL, kadangkala alam bawah sadar selalu mengatakan “susah”. IELTS merupakan kepanjangan dari The International English Language Testing System yang mana merupakan modal yang paling mendasar dalam mendapatkan beasiswa luar negeri. Sedangkan TOEFL sendiri adalah Test of English as Foreign Language.

Baca Juga  Peran Guru Masa Kini dalam Mempersiapkan Generasi Abad XXI

Kedua tes ini adalah ujian kemampuan berbahasa inggris, baik dalam membaca, berbicara, dan menulis sesuai dengan yang ketetapan oleh beberapa negara. Seperti ketika ingin belajar pada sebuah institusi di Amerika Serikat, Kanada, Inggris atau Australia, skor IELTS yang harus dicapai pada umunya adalah 6-6.5.

Akan tetapi, IELTS/TOEFL itu bukan segalanya. Karena ketika tes itu sudah selesai, maka ada yang lebih tinggi daripadaujian tersebut. Masih banyak lagi yang akan dihadapi. Jadi, jangan hanya menjadikan hal tersulit adalah tes tersebut. Maka, buatlah target yang lebih tinggi lagi; dan karena merasa hal tersebut sulit, malah menjadikan kita tsayat untuk mencobanya.

Beliau juga berpesan, “Yang terpenting dari segala hal adalah ketekunan, istiqamah. Karena ada yang jauh lebih tinggi dibandingkan itu. Benar?”

Ketiga, kurang percaya diri

Masalah yang akan dihadapi selanjutnya adalah kurangnya percaya diri. Hal ini pun menjadi penghambat dalam menghadapi suatu impian yang ketika akan mulai menggapainya tiba-tiba kepercayaan diri merendah/turun. Alhasil, banyak pertimbangan lagi untuk memulia langkah awal.

Pada kesempatan yang bersamaan, beliau menanyakan “Bagaimana kamu bisa meningkatkan kepercayaan diri?”. Dan saya merangkum jawaban mereka, yaitu: (1) Kita harus mencobanya. Karena percaya diri itu dihasilkan oleh latihan dan mencoba. Jika kita tidak mulai untuk mencobanya, maka kepercayaan diri juga kemungkinan besar tidak akan meningkat. (2) Menguasai diri. Ketika kita mampu dalam menguasai diri, maka kepercayaan diri itu akan meningkat seiring berjalannya waktu. (3) Meyakinkan diri.Ketika kepercayaan diri mulai menurun, alangkah bagusnya kita mengingat perjuangan orangtua.

Keempat, omongan orang

Kepercayaan diri dan omongan orang lain itu tidak jauh, saling berkaitan. Kadangkala menambah kepercayaan diri ataupun malah sebaliknya. Kritikan, cacian dan apapun yang berkaitan dengan lidah orang lain itu akan kita anggap sebagai penunjang keberhasilan atau kegagalan.

Baca Juga  Perempuan dan Lingkungan: Memahami Bumi sebagai Pembangunan Berkelanjutan

Akan tetapi, kebanyakan bagi orang yang baperan (kata anak muda) omongan orang lain akan menjadikan dirinya terpuruk kedalam jurang. Apalagi tak berusaha untuk membangkitkan kembali asa dalam dirinya. Sedangkan bagi orang yang kuat dan cerdas tanpa peduli hinaan dan omongan orang lain, maka akan menjadikan progress dirinya semakin kuat. Semakin tinggi dan juga dijadikan penunjang keberhasilan. Akan tetapi, orang seperti ini jarang ditemukan. Karena memang orang ini adalah pilihan. Orang-orang yang mampu memilih jalan hidupnya untuk jauh lebih baik. Maka, jadilah kategori orang ini.

Bagikan
Post a Comment