Perilaku “Hidup Gaya” Menjadi “Gaya Hidup”
Mendapat kesempatan kerja dengan bayaran gaji yang bagus tentu menjadi idaman semua orang. Tak sedikit orang bahkan rela bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya dengan anggapan gaji di sana lebih besar. Nyatanya peluang kerja saat ini sangat sulit tanpa skill yang cukup bagi para pencari kerja.
Setelah mendapat pekerjaan, gaji tidak hanya untuk memenuhi segala kebutuhan saja melainkan juga memenuhi keinginan-keinginan yang belum tercapai. Dua hal yang menjadi alat pemuas manusia yaitu keinginan dan kebutuhan. Bila kebutuhan sudah terpenuhi, maka keinginan dalam diri akan timbul untuk membeli ini, membeli itu apalagi di saat mampu melakukannya.
Banyak orang tergiur karena merasa mampu membeli ini dan itu atau terpengaruh dengan gaya hidup orang lain. Bahkan tidak sedikit orang lebih mengutamakan keinginannya daripada kebutuhan prioritas sehingga hal tersebut berdampak pada daya beli seseorang. Perkara tersebut memang wajar tetapi bila membentuk perilaku konsumtif, hal tersebut sangat tidak wajar.
***
Perilaku konsumtif adalah manakala melakukan pembelian apa saja dengan latar belakang “faktor keinginan daripada faktor kebutuhan”. Singkatnya, jika menginginkan sesuatu, pasti langsung membelinya meskipun barang tersebut tidak menjadi kebutuhan secara mendesak atau tidak menjadi prioritas. Terkadang barang tersebut tidak begitu penting. Akibat faktor keinginan, kita langsung membeli barang tersebut karena bisa menjadi kepuasan tersendiri.
Penyebab perilaku konsumtif juga bisa karena melihat gaya hidup orang lain. Jika melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Akibatnya, ia akan membandingkan hal-hal yang ia miliki dengan milik orang lain. Hal tersebut dapat membentuk sebuah habit atau kebiasaan yang buruk bagi diri kita yaitu kurangnya bersyukur dan semakin banyak mengeluh.
Banyak juga yang mengatakan dengan ringan “itu tuh uang-uang saya, hasil jerih payah saya dan terserah saya mau apakan”. Rahmania yang dirahmati Allah, boleh-boleh saja kita mengatakan hal tersebut. Namun bila kita terlalu memenuhi banyak keinginan yang bukan menjadi prioritas, maka akan terjadi dampak negatif bagi diri sendiri terutama untuk kehidupan ke depannya.
***
Pertama, biaya hidup akan lebih tinggi. Hal tersebut bisa mengakibatkan pengeluaran lebih besar dari pada pendapatan. Lebih tepatnya kita melakukan pemborosan. Kedua, kita tidak terlatih untuk hidup hemat dan tidak terlatih untuk menghadapi hidup yang berat karena selama ini kita membeli apapun sesuai dengan keinginan bukan sesuai kebutuhan. Pada saat itu kita mudah mendapatkannya namun belum tentu ke depannya hidup kita akan mudah seperti membeli ini dan itu.
Ketiga, dapat menimbulkan kecemburuan sosial apalagi ada saudara atau kerabat kita yang menjerit karena beban hidup yang terlalu berat. Dan terakhir adalah sikap konsumtif bukan contoh yang baik untuk anak-anak kita kelak. Karena bila memiliki sikap tersebut, dengan membeli apa saja yang kita inginkan, hal itu dapat berdampak pada kemauan anak-anak kita. Mereka kelak mencontoh kita untuk selalu memenuhi keinginan mereka tanpa memandang situasi dan kondisi.
Perilaku konsumtif inilah yang mendorong seseorang untuk “hidup gaya” agar mendapat pujian orang lain atau bisa juga sekedar ikut-ikutan trendi demi kepuasan diri sendiri. Hal tersebut akan berdampak bagi dirinya karena tidak bisa mengerem keinginan-keinginan tersebut. Akibatnya, akan menjadi kebiasaan buruk yang dapat merubah “gaya hidup” seseorang. Saat terbiasa menjalani “hidup gaya” di mana lama kelamaan menjadi gaya hidup, diri sendiri akan mudah iri dengan kehidupan orang lain. Kita akan sering membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang dimiliki orang lain.
Tidak jarang terjadi kasus banyak orang berhutang sana-sini agar mereka terlihat memenuhi gaya hidup. Membeli ini, membeli itu agar dipuji dan dipandang orang. Sehingga mereka mendapat prestise atau pengakuan dari orang lain. Sebaiknya, hindari perilaku konsumtif seperti itu karena suatu saat hanya akan merugikan diri sendiri dan juga keluarga.
***
Dengan menghindari perilaku konsumtif kita akan lebih mendapat kebaikan. Kita bisa menabung untuk masa depan, terlatih untuk mengendalikan keinginan-keinginan dalam diri yang dapat menyebabkan sifat konsumtif berlebihan, memberi contoh baik kepada anak-anak agar tidak memenuhi setiap keinginan mereka, dan mempersempit kesenjangan sosial yang terjadi di antara mereka yang bernasib kurang beruntung.
Perlu dicatat, seberapa besar jumlah pengeluaran untuk sesuatu yang sangat dibutuhkan, hal tersebut bukanlah pemborosan atau konsumtif karena di dalamnya, pengeluaran itu untuk shodaqoh dan infaq di jalan Allah. Rahmania yang dirahmati oleh Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berqonaah (merasa cukup) dan selalu bersyukur kepadaNya.
Nama pena Hannashe.Hobi menulis dan membaca karya fiksi maupun non fiksi. Saat ini ia masih aktif mengikuti komunitas COMPETER (Community Pena Terbang ) dan menjadi penulis artikel di kanal media Islam IB.Times.id.
