Mengurai Badai Rumah Tangga
“Selamat menempuh hidup baru, semoga sakinah mawadah warahmah.”
Ucapan-ucapan serupa itu acap kali terdengar ketika ada kawan atau kerabat yang melangsungkan pernikahan. Semua tentu tulus mendoakan kebaikan bagi kedua mempelai. Berharap rumah tangganya langgeng, berjodoh dunia akhirat.
Qadarullah, layaknya mengarungi samudera, tak sedikit pasangan yang bahtera rumah tangganya dihantam badai sehingga terpaksa karam sebelum sampai tujuan. Pencetusnya bisa beragam, mulai dari permasalahan buah hati, urusan finansial, hingga faktor ikut campurnya keluarga besar, turut memberi andil terciptanya konflik. Dan penyebab badai rumah tangga yang paling populer adalah hadirnya orang ke tiga dalam pernikahan.
***
Ibu saya pernah menasehati agar seorang istri jangan sampai membiarkan suaminya ke luar rumah dalam keadaan memendam amarah. Jika sedang emosi, apapun mungkin saja terjadi. Sebab ada banyak hal di luar sana yang bisa menawarkan kenyamanan.
Ketika seseorang mulai merasakan kenyamanan terhadap orang lain yang bukan pasangan halalnya lalu melakukan pembiaran bahkan malah menikmati sensasinya, di saat itulah ia sedang menebar angin, kelak, cepat atau lambat tentu akan menuai badai. Ujung-ujungnya nanti setan lagi yang menjadi tertuduh. Padahal setan hanya berbisik, lalu ia sendirilah yang approve.
Sebenarnya pasangan kita bisa berfungsi sebagai alarm, untuk pengingat diri agar terhindar dari tipu daya. Sebab hati manusia itu lemah, sementara syahwat menyambar-nyambar. Sampai-sampai ada seorang kawan yang dengan sengaja meletakkan foto istri di salah satu sudut ruang kemudi mobilnya. Barangkali memang terkesan lebay, tetapi itu sekadar upaya agar dia senantiasa ingat bahwa ada istri yang menantinya di rumah.
Dalam agama, ketika seorang suami merasa ada ketertarikan terhadap perempuan lain selain istrinya, ada perintah gadhul bashar,yakni menahan pandangan dan anjuran agar bergegas pulang. Sebab segala yang ada pada diri perempuan itu, sejatinya sama seperti yang dimiliki sang istri. Hanya tipu daya syahwat sajalah yang membuatnya seolah tampak lebih mempesona.
***
Pada saat memutuskan sepakat menikah, setiap orang seolah dituntut agar sekaligus menyepakati bahwa tak lagi memungkinkan untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Sehingga mau tak mau, perlahan harus menyesuaikan diri menjadi sosok yang diharapkan pasangan. Pada fase awal pernikahan mungkin belum begitu menyulitkan. Karena ujian terberat dalam berumah tangga adalah saat usia pernikahan berada pada fase jenuh.
Pernikahan memang bisa menyatukan dua hati yang sebelumnya tidak saling mengenal, berubah menjadi begitu dekat. Pernikahan pun bisa menjadikan dua jiwa yang dahulu pernah saling merindu, berganti jenuh. Ajaib memang.
Sebab seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, setiap orang akan berproses sehingga melahirkan nilai, kriteria dan cara pandang baru terhadap pasangan. Hal-hal yang sebelumnya kita sukai atas diri pasangan, tiba-tiba menjadi sesuatu yang tak lagi kita rindukan, pun demikian sebaliknya.
Dan tidak semua perubahan-perubahan itu bisa dipahami oleh pasangan, sehingga rentan memunculkan peluang konflik. Mungkin sesekali kita memang perlu menutup sebelah mata atas kekurangan pasangan, sembari membuka sebelah mata yang lain agar bisa berfokus pada kelebihannya.
***
Secara teori, pernikahan adalah ikatan yang sakral, sampai-sampai Allah Ta’ala menyebutnya sebagai Mitsaqan Ghaliza, perjanjian suci yang agung. Namun realitanya, pasangan yang raganya setiap saat membersamai kita, terkadang belum tentu benar-benar hidup dengan kita.
Sering kali pernikahan hanya dimaknai sebagai penghalalan terhadap yang haram. Buku nikah seolah dianggap suatu bukti legalitas, dan sekadar sertifikat kepemilikan atas raga pasangan, entah hatinya milik siapa. Sebab tak seorang pun bisa mengendalikan hati, selain Dzat yang maha membolak-balikkan hati.
Pernikahan adalah proses learning by doing, belajar mengeja rasa cinta, dan menajamkan kepekaan rasanya. Meskipun konon, sikap hormat itu lebih penting dari pada rasa cinta. Kepercayaan, lebih utama ketimbang logika. Saling memahami, jauh lebih bermakna dari sekadar kesesuaian. Dan dari keseluruhan itu terangkum sempurna dalam satu kata, yakni komitmen. Komitmen untuk senantiasa menjunjung tinggi ikrar pernikahan sebagai Mitsaqan Ghaliza.
***
Namun mengapa pernikahan yang sepertinya tampak baik-baik saja, terkadang juga dihampiri badai? Sungguh, teramat rumit mengurai badai. Badai bisa tiba-tiba datang pada rumah tangga siapa saja tanpa pilih-pilih, dan seketika menciptakan fase kritis pernikahan.
Kebaruan-kebaruan, termasuk hadirnya sosok asing dalam kehidupan rumah tangga, memang seringkali menjadi pencetus fase kritis pernikahan. Fase kritis ini terbentuk seiring dengan munculnya berbagai hal baru dan terus akan menyertai sepanjang periode pernikahan berlangsung.
Badai itu pun pernah menerjang rumah tangga sahabat saya, hanya gara-gara kehadiran karyawan baru di kantor suaminya. Padahal sejauh ini pernikahannya terlihat baik-baik saja, nyaris tanpa masalah. Makanya ia begitu terpukul menghadapinya. Sempat ia menggugat Allah, merasa Rabb-nya menimpakan ujian yang terlampau berat baginya, hingga tiada henti ia meratap seolah hendak mengguncangkan Arasy-Nya.
Mengalami badai rumah tangga memang sering kali menyebabkan penurunan kualitas hidup. Namun para pakar pernikahan sering kali menuturkan bahwa selain kekerasan dan penelantaran, semua masalah dalam rumah tangga masih sangat mungkin untuk dibicarakan.
Dengan mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui beragam ekspresi, konon dapat membantu mengubah pola otak untuk mengatasi masa-masa sulit dalam memprotes pengalaman yang menyakitkan pasca badai rumah tangga. Sehingga cukup efektif mengurangi ketegangan fisik dan emosional serta mengubah beberapa jalur saraf yang menyebabkan rasa sakit emosional. Tetapi jangan terus menerus larut dalam kesedihan, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong.
Dalam badai rumah tangga, Allah sedang menempa kesabaran kita. Maka jangan sampai kalkulasi kita hanya berfokus pada seberapa berat ujian dan pada apa yang telah Allah ambil, namun lebih kepada nikmat yang masih Allah sisakan, yang nyatanya masih sangat melimpah jika dihitung-hitung. Nikmat sehat, nikmat udara yang bisa setiap saat kita hirup, bahkan nikmat iman dan Islam. Semua itu adalah wujud kasih sayang Allah kepada kita, Masyaallah Tabarakallah.
Ibu dua anak, dari Surabaya.

Butet
Mbak Miki ππππππππππ. Keren.
Miki Mayang
ππ