f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pasangan hidup

Kriteria Pasangan Ideal Menentukan Kualitas Bangunan Rumah Tangga

Sesuatu yang disebut dengan “ideal” adalah harapan semua manusia dalam berbagai aspek, termasuk persoalan dalam menentukan atau memilih pasangan. Jika merujuk kepada etimologinya, ideal berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu idea, yang berarti “sebuah visi” atau “kontemplasi” (Lorens Bagus, 1996: 299). Sedangkan, dalam KBBI ideal adalah sangat sesuai dengan yang dicita-citakan; diangan-angankan atau yang dikehendaki.

 Namun kata “ideal” di sini perlu rasanya untuk dirumuskan ulang dengan jelas sebagai panduan dalam berproses. Syukur-syukur sejak pra-nikah, namun di tengah perkawinan pun tidak masalah. Sebab, dalam kehidupan perkawinan pada dasarnya merupakan bagian dari proses tanpa akhir untuk menjadi hamba pilihan-Nya. Sebagai hamba yang beriman dan memegang teguh ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kriteria Pasangan Hidup yang Ideal

Maka dari itu, perlu kita merumuskan “ideal” dalam perspektif Islam (Nur Rofiah, 2020: 85-86). Pertama, setiap insan (manusia), baik laki-laki maupun perempuan, punya “status” yang melekat sebagai hamba Allah Swt. Selain itu, manusia punya “amanah” yang melekat sebagai khalifah fil ardh yang mandatnya adalah menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Kedua, setiap manusia, baik baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama memiliki dimensi fisik dan nonfisik yakni intelektual dan spritual.

Dimensi nonfisik merupakan jati diri yang utama. Oleh sebab itu, di samping pertimbangan atas dasar pancaindra, manusia juga dituntut menggunakan daya akal budi dalam setiap tindakan. Ketiga, perkawinan mencakup segala tindakan di dalamnya, tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama manusia, baik kepada suami, istri, keluarga, masyarakat, dan negara, namun juga kepada Allah Swt.

Keempat, dalam Q.S. al-Hujarat [49]: 13 mengisyaratkan bahwa takwa sebagai satu-satunya standar kualitas manusia di hadapan Allah SWT., yaitu tauhid kepada Allah SWT., yang melahirkan kemaslahatan kepada mahkluk-Nya. Hubungan baik dengan Allah SWT., yang melahirkan hubungan baik dengan mahluk-Nya. Kelima, jati diri utama manusia adalah makhluk rohani atau nonfisik, dan misi hidupnya adalah melahirkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi.

Baca Juga  Kiai Zainul dan Pemuda Yang Kebelet Nikah
Prinsip Perkawinan

Perkawinan tentu saja mesti dikelola sesuai dengan jati diri manusia dan gambaran pasangan ideal mesti sejalan dengan jati diri tersebut. Terkait rambu-rambu perkawinan yang dicita-citakan dalam Islam penting bagi kita untuk merumuskan kriteria pasangan ideal sebagai pedoman atau acuan dalam mencari pasangan hidup atau berproses bersama saling menjadi belahan jiwa suami atau istri.

Ada beberapa prinsip dasar perkawinan dalam Islam, seperti yang tertuang dalam Q.S. ar-Rum [30]: 21 yang menegaskan tiga hal (Nur Rofiah, 2020: 86-87). Pertama, tujuan perkawinan adalah ketenangan jiwa. Jadi, perkawinan tidak hanya antara dua fisik, namun juga dengan dua jiwa. Kendati demikian, bukan berarti kebutuhan fisik diabaikan. Sebab kebutuhan biologis juga hal yang primer dan penting.

Karena itulah, hal tersebut merupakan bagian dari sarana dalam perkawinan. Sehingga, harus dipenuhi tanpa mengabaikan ketenangan jiwa sebagai tujuan. Kedua, hal ini juga mengisyaratkan bahwa ketenangan jiwa hanya dimungkinkan didapatkan apabila dasar relasi pasangan ideal adalah cinta kasih keduanya, bukan kekuasaan (dominasi), bukan pula kepemilikan mutlak satu pihak atas lainnya (superioritas).

Di sinilah makna dari sakinah mawaddah wa rahmah memiliki arti yang khusus (spesifik) yang menarik dan selaras dengan kedirian kedua pasangan tersebut sebagai manusia, yakni sama-sama sebagai subjek penuh sebagai sistem kehidupan, baik kehidupan perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia serta berikhtiar melahirkan kemaslahatan bersama-sama.

Ketiga, prinsip penting lainnya dari hubungan kedua pasangan adalah berpasangan (zawaj) dan bergandengan, bukan sebaliknya seperti relasi atasan dan bawahan (borjuis dan proletar). Justu kedua pasangan harus berpegang teguh, bahwa pernikahan merupakan janji hidup yang dikukuhkan (mitsaqan ghalidzan), saling memperlakukan suami dan istri secara bermartabat (mu’asyarah bil ma’ruf), musyawarah, dan saling rida.

Baca Juga  Perempuan dan Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi
***

Pasangan tersebut harus sama-sama merasa memiliki, memelihara, dan menyuburkan cinta yang memberi manfaat pada diri sendiri, termasuk pada suami maupun istrinya. Kendati, laki-laki dan perempuan memiliki kodrat yang berbeda, namun mereka memiliki peran yang sama dalam kehidupan yang publik dan domestik. Sebab, laki-laki dan perempuan diciptakan dari esensi yang sama, karenanya keduanya harus didorong untuk terlibat aktif, baik dalam ruang domestik maupun ruang publik (Alimatul Qibtiyah, 2019: 103).

Konsep pasangan ideal dalam perspektif Islam ini dimanifestasikan melalui konsep kafaah (sepadan). Islam mengubah konsep kafaah yang bersifat artifisial dan statis menjadi substansial dan dinamis. Inilah yang menjadi acuan bagi pasangan ideal. Sebagaimana kita pahami dalam hadis Rasulullah SAW. dalam menentukan standar calon pasangan ideal yaitu, harta, nasab, paras atau rupa, dan agama.

Rasulullah Saw., sendiri lebih mengutamakan agama sebagai standar yang utama bagi kebahagiaan dan keselamatan kedua pasangan yang akan membangun rumah tangganya nanti. Agama sebagai standar utama kriteria calon istri (begitupun calon suami) yang menjadi elemen dasarnya adalah takwa; yang sekaligus menjadi standar utama umat manusia dihadapan Allah Swt.

Kendati kita tidak mampu mengukur tingkat dan kualitas keimanan seseorang kepada Tuhannya; namun kita bisa menilai bahwa semakin tinggi iman seseorang kepada Tuhannya, maka semakin baik pula ia kepada hamba-Nya. Menjadi baik adalah proses dinamis yang mesti secara intens diikhtiarkan oleh kedua pasangan ideal. Inilah rumusan kriteria pasangan ideal dalam perspektif Islam yang dapat dijadikan acuan atau pedoman dalam berproses bersama-sama sebagai suami maupun istri.

Standing point-nya adalah siap berproses dan berprogres bersama menggali potensi fisik, intelektual, dan spritual kedua pasangan tersebut. Saling tidak menuntut lebih dan mengutamakan musyawarah atau kompromi dalam berbagai permasalahan; serta sama-sama menerima kekurangan masing-masing pasangan dan saling melengkapi dan mendukung satu sama lain, baik dalam suka maupun duka dalam kehidupan.

Baca Juga  Pasangan Ideal : Pilihlah yang Sehat !
Daftar Bacaan:

Bagus, Lorans. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1996.

Qibtiyah, Alimatul. Feminisme Muslim di Indonesia. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. 2019.

Rofiah, Nur. Nalar Kritis Muslimah; Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman. Bandung: Afkaruna.id. 2020.

Bagikan
Post a Comment