f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak tengah

Uniknya Menjadi Anak Tengah

Sebagai manusia, kita tidak dapat memilih akan dilahirkan dari keluarga yang seperti apa, apakah lahir dari keluarga berkecukupan atau serba kekurangan, apakah akan terlahir normal atau abnormal, apakah akan terlahir di keluarga yang utuh atau broken home, dan hal lainnya yang berada di luar kendali kita. Kita tidak dapat menentukan takdir yang akan terjadi pada diri kita. Jika ibarat sebuah film, kita hanyalah pemeran ; pemeran skenario yang telah Tuhan tuliskan untuk kehidupan kita jauh sebelum pemerannya dilahirkan.

Kita menjalani segala skenario Tuhan yang lucunya kita tidak tahu secara pasti isi ceritanya. Kita hanya dapat berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani segala hal yang semoga sesuai dengan yang sudah Tuhan gariskan dalam skenario-Nya. Asyik dan sibuk menerka – nerka scene selanjutnya, apakah akan membahagiakan atau menyedihkan; apakah akan mengecewakan atau justru membuat kita semakin bergairah dalam melanjutkan hidup. Berbicara soal takdir, kita pun tidak punya kuasa untuk menentukan urutan kelahiran kita.

Beberapa waktu belakangan ini sering kita jumpai orang – orang yang mencoba untuk membanding – bandingkan bebannya menjadi anak sesuai dengan urutan kelahiran mereka. Beropini bahwa menjadi anak sulung memiliki beban paling berat dan opini – opini lain yang seolah mencari pembenaran jika menjadi anak yang berada di urutannya itu memiliki beban yang paling berat. Bukan bermaksud untuk turut mencari pembenaran atau merasa diri memiliki beban paling berat; tapi saya akan mencoba menjelaskan pengalaman pribadi dalam menjalani kehidupan sebagai anak tengah.

Uniknya Anak Tengah

Menjadi anak tengah itu bisa dikatakan peran yang unik. Unik karena anak tengah ini berbeda dari si sulung dan si bungsu. Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang anak, faktanya hanya anak tengah yang menjalani peran ganda yaitu menjadi kakak sekaligus adik. Anak sulung akan selamanya menjalani perannya sebagai seorang kakak dan anak bungsu akan selamanya menjalani perannya sebagai seorang adik.

Baca Juga  Faqihuddin Abdul Kodir dan Teori Qira’ah Mubaadalah untuk Relasi Kesalingan

Imbas dari urutan kelahiran ini seringkali menimbulkan rasa iri dalam diri si anak tengah. Anak tengah seringkali merasa bahwa orang tuanya hanya menaruh perhatian pada si sulung dan si bungsu. Anak sulung yang kelahirannya dinanti – nantikan menyebabkan semua perhatian seakan tertuju padanya dan ketika si bungsu lahir pun semua perhatian tercurahkan untuk si bungsu. Keberadaannya sebagai anak tengah juga membuatnya cukup rentan dengan rasa “kesepian” sebagai akibat dari kurangnya atensi ketika berada di rumah.

Selain itu, si anak tengah ini seringkali merasa bahwa keberadaannya hanya menjadi tumbal ketika orang tua membutuhkan bantuan. Kenapa bisa begitu ? Si sulung yang sibuk dan si bungsu yang dirasa masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa – apa pada akhirnya membuat orang tua memilih untuk meminta bantuan kepada si anak tengah ini.

Saya yang menjalani peran sebagai anak tengah seringkali terbesit tanya; “Anaknya bapak dan ibu kan tidak hanya satu, tidak hanya saya, tetapi kenapa yang disuruh – suruh selalu saya ?”. Perasaan – perasaan “kenapa harus saya?” atau “kenapa selalu saya?” itu dapat dikatakan cukup sering muncul. Bukannya tidak suka menjadi seseorang yang diandalkan oleh orang tua, tetapi rasanya baik si sulung maupun si bungsu punya kemampuan untuk menjalani sesuatu yang orang tua inginkan.

Peran Ganda Anak Tengah

Peran ganda yang dijalani oleh anak tengah ini menghadirkan sifat – sifat lain di antaranya netral, fleksibel, dan mandiri. Netral karena sedari si bungsu lahir yang pada akhirnya mengubah posisinya yang semula anak bungsu menjadi anak tengah membuatnya terbiasa berada di posisi yang tidak memihak salah satu sisi. Di tengah – tengah saja, tidak menjadi paling senior atau paling junior. Sifat netral ini juga membuat anak tengah  memiliki kecenderungan untuk menghindari konflik.

Baca Juga  Lebih Besar Manakah, Dosamu atau Allah Swt?

Rasanya anak tengah ini enggan sekali untuk membiarkan dirinya terlibat dalam sebuah permasalahan. Selama ia mampu untuk menghindar, ia akan menghindar. Dalam kondisi tertentu, selagi tidak ada hal yang perlu diperdebatkan, maka ia tidak akan mencari – cari topik atau alasan untuk berdebat. Malas dan merasa bahwa perdebatan atau melibatkan diri dalam sebuah konflik hanya akan menambah runyam pemikiran saja. Seolah menjadi anak paling cinta damai saja.

Anak tengah juga cenderung lebih mandiri karena ia merasa bahwa tanggung jawabnya tidak sebesar anak sulung dan ia tidak sebegitu bergantungnya kepada keluarga seperti anak bungsu. Hal tersebut membuatnya memiliki kemampuan lebih untuk bekerja secara individu dan menjadi pribadi yang lebih santai. Berhadapan dengan si sulung dan si bungsu membuat anak tengah ini bisa dikatakan lebih fleksibel dan mudah bergerak ke segala arah. Alfred Adler yang mencetuskan kepribadian berdasarkan urutan kelahiran pun mengungkapkan bahwa anak tengah ini lebih mudah berkompromi dan mudah dalam bergaul.

***

Dewasa ini, saya menyadari bahwasannya semua orang, urutan berapapun ia lahir, dia pasti memiliki karakteristiknya sendiri dan memiliki bebannya masing – masing. Semua hal memiliki sisi positif dan negatif, begitupun dengan kepribadian yang ada dalam diri seseorang. Kita tidak boleh “merasa paling” karena perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki limitnya masing – masing dalam menyikapi suatu hal. Kita tidak boleh dan tidak bisa menyamakan perasaan yang kita rasakan dengan perasaan yang dirasakan oleh orang lain.

Yang menurut kita biasa saja, bagi orang lain bisa sangat menyakitkan dan membuatnya down. Yang menurut kita sepele, bisa saja bagi orang lain merupakan hal yang sulit. Dan yang relate dengan kisah ini pun mungkin hanya beberapa orang saja karena kembali lagi, semuanya bersifat relatif. Bergantung pada pola asuh dan di mana lingkungan seseorang tersebut dibesarkan.

Baca Juga  Memeluk Mimpi (3): Pecah Telur

Anak sulung tidak semuanya merasa terbebani dengan posisinya sebagai anak pertama, begitu pula anak bungsu. Tidak semua anak bungsu merasa diremehkan atau disepelekan karena ia dianggap paling kecil dalam bagian keluarga. Pada intinya, mau urutan berapapun kita dilahirkan, sudah seyogyanya kita menjadi pribadi yang sebaik – baiknya dan menjadi anak yang membanggakan bagi orang tua. Semoga kita menjadi anak yang senantiasa berbakti pada orangtua yaa… Semangat..!!

Bagikan
Post a Comment