Menelaah Psikologi Anak Korban Kasus Perceraian
Penelitian oleh Arifin pada tahun (2015), mencatat bahwa kasus perceraian yang terjadi di Jawa Timur mencapai angka 80 ribu pada tahun 2014. Dampak dari perceraian sendiri pun tidak lepas dari sosok anak. Lalu apa yang anak alami sebagai korban utama dalam kasus ini.
Memiliki keluarga yang utuh adalah impian setiap anak. Namun bagaimana kondisinya jika mereka berhadapan dengan permasalahan orang tua yang mengharuskan adanya perceraian dalam suatu keluarga, tentu menjadi hal yang sulit bukan? Anak dituntut untuk mengerti serta menerima kondisi orang tua mereka. Bahkan tak sedikit kasus anak yang ditinggal atau dititipkan ke panti asuhan setelah orang tua mereka bercerai.
Ketika orang tua dan anak memiliki hubungan yang positif dan adaptif maka akan membantu remaja dalam pencapaian tugas perkembangan yang optimal. Sebaliknya hubungan yang tidak harmonis antara anak dengan orang tua dapat berpengaruh negtif bagi kehidupan remaja. Salah satu bentuk hubungan yang negatif dapat berasal dari perceraian yang terjadi dalam sebuah keluarga (Hurlock, 2012).
***
Dampak dari perceraian orang tua terhadap anak adalah psikologisnya apabila anak tersebut masih kecil maka tidak baik terhadap perkembangan jiwa si anak. Misalnya dalam bergaul dengan teman sebayanya anak merasa malu, minder dan sebagainya. Anak-anak dalam keluarga yang bercerai kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, sehingga mereka merasa tidak aman, mudah marah. Sering merasa tertekan (depresi), bersikap kejam atau saling mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang (hewan).
Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan, dan merasa kehilangan tempat berlindung dan tempat berpijak. Efek perceraian sangat mempengaruhi perilaku anak-anak. Anak yang orang tuanya bercerai akan merasa malu dan konsep dirinya akan rusak. Beberapa perilaku akan muncul pada anak yang orang tuanya bercerai, yaitu:
- Anak bisa saja membenci orangtuanya.
- Kebencian seorang anak terhadap orang tua bisa menimbulkan akibat lain, salah satunya adalah kelainan seksual.
- Orang tua adalah contoh bagi anak. Bila orang tua bercerai, tentu saja tentu saja bukan contoh yang baik. Bahkan anak akan cenderung melakukan hal yang sama ketika sudah berumah tangga.
- Anak merasa tertekan, stres, dan depresi. Perasaan tertekan seperti ini bisa membuat si anak menjadi lebih pendiam, jarang bergaul, dan prestasi sekolahnya akan merosot.
- Ada kemungkinan juga akan muncul perilaku yang sebaliknya, di mana anak sebagai korban perceraian tidak selalu menjadi pendiam. Anak yang sedang depresi bisa mengiringnya ke dalam pergaulan yang salah, seperti terlibat dalam pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, atau bahkan kriminalitas.
***
Keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak yang tidak sehat. Aspek-aspek yang berkaitan dengan kepribadian itu sendiri antara lain:
1. Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten atau tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
2. Temperamen, yaitu disposisi reaksi seseorang atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan.
3. Sikap, yaitu sambutan terhadap objek (orang, benda, peristiwa, dan sebagainya) yang bersifat positif, negative atau ambivalen (ragu-ragu).
4. Stabilitas Emosional, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti : mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih atau putus asa.
5. Responsibilitas, yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan.
6. Sosiabilitas, yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti pribadi yang terbuka atau tertutup, kemampuan berkomunikasi dengan orang lain (Syamsu Yusuf, 127:2009).
***
Lalu bagaimana cara memberi pertolongan pada anak yang mengalami dampak kasus perceraian orang tua? Yang pertama adalah memberi pendampingan pada anak khususnya pada anak usia dini dan remaja awal dengan cara berperan sebagai fasilitator anak untuk mengembangkan bakat mereka, membantu mereka bangkit serta beradaptasi dengan situasi baru, atau supaya terbentuk resiliensi secara alami dari mereka.
Wolin dan Wolin (1993) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan untuk bangkit dari kemalangan, beradaptasi dengan baik dalam berbagai permasalahan, menahan kesulitan, dan memperbaiki diri sehingga memiliki kepandaian dan kekuatan yang lebih. Resiliensi bagi anak korban perceraian sangat penting, menumbuhkan sifat ini pun tidaklah mudah karena bukan termasuk sifat yang ada sejak lahir namun memang harus terbentuk.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep diri yang positif merupakan kualitas seseorang yang berkaitan dengan kemampuan resiliensi, yaitu untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya serta menghadapi secara kompeten kondisi yang tidak menguntungkan. Beberapa penelitian mendukung bahwa pandangan remaja tentang diri dan identitasnya merupakan salah satu faktor yang memiliki peran dalam pencapaian resiliensi (Zolkoski & Bullock, 2012; Beardslee & Podorefsky, 1988; Werner, 2005).
Cara menumbuhkan resiliensi pada anak adalah dengan cara memberi edukasi terhadap anak betapa pentingnya menemukan passion, hobi, kepribadian dll. Dengan tujuan supaya mereka mengenal diri mereka sendiri. Memang bukanlah hal yang mudah namun harus kita coba karena jika hanya membiarkan anak tumbuh dan berkembang sendiri maka ketakutan-ketakutan yang kita bayangkan akan segera terjadi. Anak adalah amanah dari sang maha kuasa yang sudah sepantasnya untuk dijaga, diberikan kasih sayang, kehidupan yang layak hingga pendidikan yang terbaik.
