Pengendalian Diri sebagai Bentuk Komunikasi dari Hati ke Hati
Saya belum menikah. Tetapi ilmu dan praktik perihal pernikahan (red: komunikasi, managemen konflik, memiliki sudut pandang yang adil dalam peran pernikahan) saya uji dalam keseharian bersama teman-teman. Agaknya, dalam tulisan ini saya akan memperluas definisi “pasangan” yang konteks sebelum menikah bisa disimulasikan dalam interaksi pada teman atau orang di sekitar kita.
Pasangan dalam KBBI juga ada yang berarti dua orang (pemain dan sebagainya) yang merupakan satu kesatuan. Selain itu, kata yang menjadi kunci dari pembahasan ini adalah “komunikasi”. Komunikasi kita pada banyak orang sehari-hari turut berpengaruh pada cara kita berkomunikasi dengan pasangan. Namun, komunikasi di sini merupakan metode atau penerapan praktik dalam hubungan relasional. Salah satu ilmu yang harus dipelajari sebelum memasuki jenjang pernikahan adalah ilmu mengendalikan hati atau diri.
Kesadaran yang Berlipat
Konsep Quarter Life Crisis seringkali disematkan pada individu berusia 20-an, di mana quarter life crisis tidak selamanya menyoal krisisnya melainkan juga perkembangan individu tersebut. Usia di mana gerbang kesadaran terbuka yang ditandai dengan menyadari apa yang bisa berguna bagi diri dan orang sekitarnya, masa di mana mulai menyadari banyak hal yang berada di luar kontrol dirinya. Sehingga kita mencari tahu bagaimana agar bisa berdamai dengan diri dan orang lain, dan menjadi masa di mana seseorang mengambil alih tanggung jawab orang tua.
Kesadaran di usia tersebut dapat ditandai dari tanggung jawab seseorang atas suatu hal, baik tanggung jawab terhadap pekerjaan, perkuliahan, dan keluarga. Selain itu, kesadaran itu bisa berwujud pemaknaan atas hidup. Artinya, seseorang yang mencapai kesadaran berlipat ketika dia telah bisa memaknai proses kehidupannya dan kehidupan orang lain secara luas.
Berada di usia tersebut agaknya meminimalisir drama dalam hidup, mulai memilah kualitas pertemanan dan sederhananya mulai berdamai dengan diri sendiri dan orang di sekitar. Interaksi antara satu individu dengan lainnya pasti menciptakan gesekan, gesekan tersebut bisa memudar dengan jalinan komunikasi yang berkelanjutan. Namun, seperti penjelasan di awal, komunikasi ini adalah metode atau penerapan praktik dalam hubungan relasional. Ada hal yang yang perlu dilatih sebelumnya, yaitu: pengendalian diri, hati atau emosi.
Miniatur Pengendalian Diri
“Orang yang menguasai jiwanya lebih hebat daripada orang yang menguasai sebuah kota.”–Ernest Hemingway
Adagium ini saya coba narasikan dalam keseharian yang seringkali luput untuk direfleksikan. Seperti halnya mengendalikan emosi atau hati saat berkendara, berbeda pendapat, mendaki gunung atau melakukan perjalanan dan saat memancing.
· Saat Berkendara
Berkendara menjadi salah satu alat pengukur seberapa kita mampu mengendalikan hati atau diri, ketika kita mengendarai motor dalam keadaan hujan lalu ada mobil menyalip dengan cepat dan membasahi motor kita, apa respon tercepat kita? Dari kejadian tersebut, kita bisa menilai seberapa emosi atau hati bisa kita dikendalikan.
· Saat Berbeda Pendapat
Keseharian hidup dan berinteraksi dengan orang lain meniscayakan adanya perbedaan dalam berpendapat. Perbedaan yang merupakan keniscayaan itu bisa memunculkan konflik atau harmoni baru. Ketika kedua belah pihak saling berseteru, konflik yang menjadi kemungkinan. Sedangkan harmoni tercipta apabila pendapat kedua belah pihak dinegosiasikan dan disampaikan dengan baik. Dari proses negosiasi itulah kita bisa menilai pengendalian emosi dan hati kita.
· Saat Mendaki Gunung atau Tadabur Alam
Ada adagium seperti ini “jika kalian ingin mengetahui sifat asli seseorang, ajaklah dia melakukan sebuah perjalanan panjang.” Melalui perjalanan, banyak peristiwa yang pastinya terlampaui, di saat kondisi sama-sama lelah, kita bisa melihat bagaimana responnya. Ketika ada kejadian yang tidak sesuai dengan ekspektasi, bagaimana repsonnya.
· Saat Memancing
Memancing katanya bisa menguji kesabaran seseorang. Ya, memang benar. Selain melatih fokus, memancing bisa menguji seberapa mampu kita mengendalikan emosi dan hati ketika pancingan yang telah ditarik lepas kemudian.
Keempat variasi di atas bukan menjadi cara mutlak untuk melatih pengendalian diri. Perlu diingat adalah pengendalian emosi, hati, diri itu ada di tangan kita (internal diri). Kita yang memiliki keputusan untuk mengolahnya sebelum diterapkan dalam perilaku. Ada rumus ala-ala
“Kondisi eksternal + Reaksi diri = Hasil”
Ketika ada orang lain yang berbuat tidak sesuai dengan ekspektasi kita; perlu dipahami bahwa sikap orang lain merupakan kondisi eksternal yang tidak bisa kita kontrol, sedangkan respon kita terhadapnya bisa kita kendalikan. Maka, mana yang akan kamu pilih? Akan menjadi hasil dari kondisi eksternal yang bergantung dengan bagaimana diri kita meresponnya.
Pencarian Metode Komunikasi yang Tepat
Pikiran + Pengendalian Hati = Komunikasi
Seusai pengendalian diri, langkah selanjutnya adalah komunikasi. Apa yang kita komunikasikan merupakan akumulasi perbincangan antara pikiran dan hati. Apa yang menjadi basis rasional kita padupadankan dengan apa yang hati perbincangkan.
Di satu sisi kita dianjurkan untuk bisa asertif—sikap mampu berkomunikasi dengan jujur dan tegas-; namun tetap menghargai dan menjaga perasaan orang lain, yang sejalan dengan konsep hifdzul lisan (menjaga perkataan).
سلامة الإنسان في حفظ اللسان
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. Bukhari)
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Alloh SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Bagi saya pribadi, ketika kita sudah bisa nyaman berkomunikasi dengan beragam orang dan berhasil menciptakan komunikasi positif, kemampuan komunikasi kita telah teruji. Meskipun, konflik selalu menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan. Hifdzul lisan menjadi konsep inti dalam menjalin hubungan baik itu dengan pasangan (rekan) kerja, kuliah dan khususnya dalam relasi pernikahan. Agaknya, cita untuk menciptakan harmoni dalam rumah tangga kelak, bisa disimulasikan dengan siapapun, di manapun dan kapanpun kita berada. Selamat bersimulasi!
Mahasiswi Sosiologi UGM
