f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sempurna

Menyempurnakan yang Tak Sempurna

Sebut saja Amelia dan Ardi, pasangan ini memutuskan untuk membatalkan pernikahannya seminggu sebelum acara erlangsung.

Mendengar cerita pasangan ini membuat aku haru biru. Keputusan mengakhiri pernikahan pemicunya adalah perbedaan dan percekcokan besar yang melibatkan keluarga. Entah perbedaan seperti apa hingga tak terselesaikan, namun mendengar keputusan untuk mengakhiri hubungan sebagai sebuah konsekuensi membuatku merinding. Padahal hubungan yang mereka bina tidaklah instant, bukan setahun, melainkan tiga tahun, namun kandas begitu saja.

Berbeda dengan pasangan yang dipanggil Sasha dan Bram, bahtera rumah tangga yang dibina selama tujuh tahun runtuh dan berujung perceraian. Pernikahan yang dahulu mereka agungkan ternyata gagal bertahan akibat kehadiran orang ketiga. Bak Romeo dan Juliet, mereka dikenal sebagai “perfect couple” yang sangat serasi dan saling memuja.

Namun landasan itu tak cukup kuat untuk memelihara dan tetap bertahan dari cobaan yang menghampiri. Rasa marah, kecewa dan sedih akibat pengkhianatan mengalahkan apa yang dibangun, dan perpisahan menjadi jawaban akhir. Walau sudah terpisah oleh ruang, jarak dan waktu, sepertinya luka hati Sasha tetap tak terobati.

Ada pula kisah mengharukan. Rini, yang acap kali memutuskan untuk mundur, menghindar dan menolak setiap pinangan yang hadir. Bukan tak cinta ungkap Rini, hanya saja belum siap dan masih ingin mengejar karir. Namun itu hanya alasan klise yang dibuatnya untuk menghindari ajakan menikah.

Di balik ketangguhan pribadinya, ternyata Rini tumbuh dengan trauma masa kecil yang tragis. Kesedihan mendalam dan ketakutan besar menghantui setiap hubungan yang dibangunnya akibat menyaksikan kekerasan rumah tangga yang ibunya alami.

Hingga Rini kecil harus melihat sang ibu pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali. Baginya “perfect life” itu cukup memiliki pasangan yang mencintai dan membahagiakannya, bukan menjadikannya suami.

Baca Juga  Ketika Perempuan Nembung Lebih Dulu
Anggapan-anggapan Pernikahan itu Bisa Disembuhkan!

Kisah Amelia, Sasha dan Rini mungkin dialami juga oleh perempuan atau pasangan lainnya. Tidak hanya orang biasa seperti kita, para pesohor dan selebriti juga mengalami kegagalan juga seperti yang adadi media.

Mendengar berbagai kisah kegagalan hubungan dan pernikahan yang terjadi di sekeliling kita membuktikan bahwa hal tersebut biasa terjadi dan bisa terjadi pada siapa saja. Kegagalan hidup termasuk dalam pernikahan adalah sebuah pembelajaran, lalu mengapa menjadi trauma dan tidak mencoba bangkit dan perbaiki.

Mudah saja berteori, apalagi bagi yang tidak mengalami. Nyatanya kegagalan, kekecewaan dan kesedihan seseorang menciptakan trauma; dan akhirnya enggan masuk kembali dalam hubungan yang sama.

Jika membaca berbagai artikel tentang gamophobia atau phobia terhadap pernikahan, bahwa trauma menjadi salah satu alasan mengapa perempuan takut dan menghindari pernikahan. Namun seperti phobia lainnya, Gamophobia dapat sembuh melalui rangkaian terapi agar si penderita belajar mengubah persepsi dan keyakinannya bahwa pernikahan itu tidak menakutkan seperti bayangannya.

Pernikahan yang Bahagia

Selanjutnya seperti apa pernikahan yang bahagia itu? Jika kita sadari, happily ever after pernikahan sebenarnya bukan dongeng. Potret pernikahan yang langgeng dan bahagia sering digambarkan oleh kehidupan kakek dan nenek kita. Walaupun sebagian hubungan yang tercipta adalah hasil tali perjodohan, mereka menjalaninya tanpa beban.

Pesan yang selalu nenek bisikan, belajar menerima ketidaksempurnaan “imperfection” pasangan dan tidak bosan untuk terus belajar mencintainya. Seperti peribahasa ‘witing tresno jalaran soko kulino’. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, harus sabar dan ikhlas menjalani. Bahagia ya bersama-sama bukan hanya ketika senang tapi ketika sulit juga, tambahnya. “We, Nduk, ojo neko-neko. Yang penting diparengi sehat, waras, tentrem”.

Baca Juga  Pentingkah Kemapanan Finansial Sebelum Pernikahan?

Setelah mengingat kisah keduanya, mungkin saja kakek juga bukan pasangan yang sempurna hanya saja nenek tak menghiraukannya. Bagi nenek, kakek adalah sejatinya suami dan ayah “perfect partner in life”.

Nenek juga berpesan bahwa menikah adalah sebetul-betulnya memulai kehidupan, maka doa dan restu orang tua adalah kunci untuk dapat menghadapi cobaan.

Saya jadi teringat kisah bahagia lainnya, sebut saja Nisa. Di antara teman-temanku, Nisa yang paling santai dan tenang. Nisa dengan prinsipnya: “aku tak perlu pacar, jika sudah waktunya dan berjodoh, pasti nggak kemana. Kalau ada yang suka atau jatuh cinta pasti aku bilang datang saja melamar”. Terbesit dalam pikiran, adakah laki-laki yang dimaksudkan Nisa.

Kabar bahagia datang mengejutkan, Nisa dipinang oleh seorang laki-laki yang dikenalnya tak lama melalui ta’aruf. Seperti harapan, penantian dan doanya, apa yang diinginkan terkabul menjadi kenyataan.

Dengan mantab, tanpa rasa khawatir dan takut, Nisa menerima pinangan laki-laki yang menurutku sangat berani dan jarang ditemukan. Sepertinya seimbang, keduanya tanpa ragu dan berani menerima resiko dan tantangan sebuah pernikahan padahal jelas tanpa pengalaman. Dan hingga setahun berlalu mereka berdua tampak semakin hangat, mesra dan menikmati.

Belajar Menerima Ketidaksempurnaan

Jika ada pertanyaan apa kekuatan untuk berani menerima dan memutuskan hidup dengan orang asing yang baru kita kenal; dengan santainya Nisa menjawab,

“Memang ada jaminan, kalau pacaran akan aman-aman menikah? Realistis aja deh, nggak ada yang sempurna ‘nobody perfect’, bahagia itu diciptakan bukan dicari loh. Dan jodoh, sudah ditakdirkan. Jadi jangan lari, yang penting berdoa dan restu orang tua, biar nanti jalannya dimudahkan”.

Sekali lagi pesan tak terduga keluar dari mulut Nisa, dan selalu berhasil menampar kita yang mendengarnya.

Baca Juga  Perkawinan dan Bekal Menuju Pelaminan

Betul nasehat nenek, semua itu soal mau atau tidak untuk belajar menerima ketidaksempurnaan “imperfection”. Dan doa menjadi penguat dalam setiap perjalanan, karena akhirnya kuasa Tuhan yang menentukan.

Pengalaman dan trauma mungkin menjadi kisah gelap yang muncul dalam sebuah hubungan karena ketidaksempurnaan yang gagal diterima. Ketidaksempurnaan diri, situasi atau hubungan itu sendiri. Namun dari kegagalan pernikahan kita diingatkan bahwa menikah sejatinya adalah belajar memelihara, mengikat, mempertahankan untuk tetap bersama dalam ketidaksempurnaan dan cobaan yang dihadapi.

Menikah bukan beban mengerikan melainkan bentuk sabar, ikhlas dan selalu berbagi dengan pasangan terpilih. Jadi bukan soal memenuhi ekspektasi atau harapan. Ketika manusia tidaklah sempurna dan juga tidak pernah puas, doa menjadi harapan agar hati tenang dan ditetapkan.

Jadi kenapa harus takut menikah, bukankah beban itu lebih nikmat dan mudah ketika dipikul bersama. Dalam doa semoga kita bisa menyempurnakan yang tak sempurna itu.

Bagikan
Post a Comment