Memahami Kunci Komunikasi
Beberapa waktu lalu, ketika saya sedang beraktivitas di Bandung. Saya harus membuat desain untuk pekerjaan, karena saya tidak sedang membawa laptop, akhirnya saya meminta tolong kepada pasangan saya untuk membantu membuatkan desain tersebut.
Pasangan saya pun menyanggupi. “Sini aja konsep dan isi flyernya”. Ucapnya semangat. Saya pun akhirnya mengirimkan konsep yang diinginkan hingga isi flyer dengan secara detail. Beruntungnya, saya dan pasangan saya satu frekuensi yaitu seorang penggambar digital pemula.
Awalnya, tentu semua aktivitas berjalan seperti biasa, saya melakukan kegiatan di Bandung, pasangan saya mengerjakan desain di rumahnya, di Kota Hujan. Selama ini, memang kita saling membantu satu sama lain untuk mengerjakan tugas-tugas kalau memang sedang banyak.
Menjelang malam, saya dikirim sebuah buku berjudul “The Socrates Express” oleh senior saya waktu sekolah. Tentu, saya cukup senang mendapat buku gratis yang tidak diduga-duga. Dan saya sedikit lepas kendali, karena jempol saya, otomatis mengunggah foto buku tersebut ke status WhatsApp.
Tiba-tiba, setelah foto tersebut diunggah. Pasangan saya mengirim pesan instan tersebut cukup banyak. Tentunya saya cukup khawatir dan sedikit menduga ada yang tidak beres jika pasangan saya mengirim chat yang banyak dalam waktu singkat.
…
Betul saja, konten yang ia desain ternyata belum tersimpan dan aplikasi desain yang ia gunakan tiba-tiba menutup dengan sendiri. Dan ini menyebabkan konten yang ia buat hilang begitu saja setelah beberapa jam berjuang membuat flyer tersebut.
Saya pun ikut panik, dan mencoba menenangkan. Sialnya, selain panik, rasa senang karena menerima buku tadi belum hilang, karena ada rasa khawatir akan terjadi kesalahpahaman, saya akhirnya mengirim foto buku dan menjelaskan sedikit tentang foto itu.
Sayangnya, apa yang saya khawatirkan dan apa yang saya takutnya malah betulan terjadi, karena ia sedang badmood dan sedikit sesak karena kerjaan dia tiba-tiba hilang dan belum tersimpan dan saya mengirim foto buku tersebut malah terjadi cekcok kecil antara saya dan pasangan saya.
Memang, sudah terlihat dalam pertengkaran kecil ini adalah kesalahan saya yang tidak bisa menyesuaikan kondisi. Pasangan saya sedang badmood, saya malah merayakan kesenangan sehingga berujung pada pertengkaran.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kasus-kasus di atas sebetulnya sering terjadi, ketidaktepatan komunikasi antara saya dan pasangan selalu muncul ketika kondisi dari kita masing-masing ada yang terlalu senang atau ada yang terlalu sedih. Karena sudah terbiasa saling berbagi cerita baik senang atau susah, sehingga jempol pun tanpa perintah mengetik cerita tanpa melihat kondisi satu sama lain.
Selain cerita di atas, ada lagi cerita ketika kita tidak menempatkan sesuatu sesuai kondisi. Contohnya begini, ketika saya sedang sibuk dengan beberapa tugas yang membuat otak saya panas seperti kuah soto ayam mendidih, tiba-tiba pasangan saya mengirim pesan singkat dengan nada bahagia.
Saya lupa, waktu itu ia hendak menyampaikan apa, namun yang saya ingat adalah ia mengatakan “Ka, senang banget hari ini”. Sebagai pasangan yang baik rajin menabung dan tidak sombong, saya pun membalas pesannya dengan respons senang, tapi tidak sepenuh hati.
Selanjutnya apa yang terjadi? Ya, yang seharusnya momen bahagia, malah menjadi pertengkaran sia-sia. Tentu ini akibat, perasaan terlalu senang yang kita terkadang lupa kondisi pasangan kita sedang seperti apa.
Solusi dalam Masalah Komunikasi
Lalu bagaimana agar bisa menyelesaikan pola komunikasi yang terkadang tidak sesuai dengan pasangan kita? Atau menyatukan pemikiran agar komunikasi bisa terjadi dengan lancar dan juga mengurangi masalah-masalah dalam pasangan berkomunikasi?
Tentu, awalnya harus bisa saling memahami. Karena ketika sudah saling paham kondisi masing-masing, setiap pasangan tidak akan sakit hati ketika ternyata komunikasi itu tidak terjalin. Dan pastinya akan terjadi pertengkaran, walaupun sebentar.
Memang, saling memahami ini cukup berat. Untuk orang yang sudah lama menikah saja masih bisa salah paham, apalagi bagi pasangan baru. Maka dari itu butuh proses untuk bisa saling memahami sesama pasangan khususnya dalam berkomunikasi.
Lalu berikutnya, memahami setiap pasangan pasti berbeda. Untuk hal ini, biasanya kita terbawa kata “Jodoh itu Mirip”, padahal tentu sangat banyak perbedaan termasuk berbeda dalam hal komunikasi satu sama lain.
Ada yang memang komunikasi cepat, suara keras, dan masih banyak model komunikasi lainnya, dan jarang sekali ada pola komunikasi yang sama. Apalagi bagi mereka yang jarang bertemu di rumah serta hanya komunikasi via pesan singkat.
Memahami perbedaan komunikasi ini juga butuh latihan. Apalagi kalau memang terbiasa komunikasi via pesan singkat yang bisa saja salah pemahaman. Dengan demikian, setiap pasangan harus juga bisa mengerti dan memahami perbedaan.
Terakhir, tidak ada pasangan dan komunikasi yang sempurna, semua selalu ada kekurangan. Baik cara komunikasi, lalu respons, dan faktor lainnya. Tapi ada satu hal yang bisa menyatukan agar pola komunikasi berjalan dengan lancar. Yaitu karena cinta. Apapun kekurangannya pasti akan ditutupi dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik.
