f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jangan asal nikah

Nikah, Jangan Asal Nikah

Menikah adalah ibadah terpanjang yang dilakukan oleh sepasang manusia. Tidak sedikit masyarakat yang lebih memilih menikah muda dengan banyak pertimbangan. Misalnya karena ingin memiliki anak di usia muda. Harapannya ketika anak menginjak usia dewasa, ia tidak memiliki jurang usia yang terlalu jauh dengan anak.

Melihat teman saya banyak yang menikah akhir-akhir ini, saya pun menjadi galau. Kegalauan saya bukan mempertanyakan kapan saya akan seperti mereka. Tapi lebih merasa bahwa ketika mereka memutuskan untuk menikah, artinya mereka memiliki kesiapan yang luar biasa. Tentunya bukan hanya dengan landasan sudah mengenal pasangan sejak lama, atau karena usia yang sudah matang, dong. Karena saya yakin setiap mereka yang menikah, ingin pernikahannya hanya terjadi sekali seumur hidup. Lantas saya berpikir, apa yang perlu dipersiapkan sebelum seseorang akhirnya memutuskan untuk menikah.

Tentu saja, cinta bukan menjadi satu-satunya alasan untuk mereka bisa memutuskan dan bertahan dalam suatu ikatan pernikahan. Setelah banyak bertukar pikiran dan mendengar curhatan mereka yang telah menikah, akhirnya saya memiliki bekal teori yang bisa saya gunakan ketika nantinya saya memutuskan untuk menikah:

Menerima Pasangan

Kalimat ‘menerima pasangan’ ini terdengar sangat klise. Tapi ini hal mendasar yang perlu dilakukan untuk memantapkan hati bahwa partner seumur hidup yang dipilih adalah orang yang tepat. Orang yang bisa kita terima dirinya, sepaket dengan kelebihan dan kekurangannya.

Kita harus tahu dan sadar bahwa di dunia ini setiap pasangan tidak pernah ada yang 100% cocok. Perbedaan kebiasaan, budaya, dan cara pandang, biasanya menjadi permasalahan kecil yang berpotensi menjadi konflik. Hal yang bisa dilakukan adalah memperbesar rasa toleransi dan penerimaan kita terhadap pasangan.

Baca Juga  Sudah Dikhitbah atau Sudah Tunangan?

Tentunya toleransi pun juga dalam batas yang wajar. Bukan mentolerir bahwa pasangan kita adalah orang yang kasar lantas kita biarkan ia untuk menjadi pasangan dan membesarkan anak kita nantinya. Hilangkan mindset bahwa seseorang akan berubah ketika sudah menikah, karena pada dasarnya tidak ada alasan yang bisa merubah seseorang selain karena kemauannya sendiri.

Ini banyak dikeluhkan oleh beberapa orang yang telah menikah, bahwa mereka yakin pasangannya yang dulunya sering main tangan atau bahkan berselingkuh, akan berubah ketika mereka menikah. Kebiasaan tersebut kemungkinan besar akan berlanjut. Ini yang akhirnya menempatkan mereka pada jurang perceraian. Hanya karena mendefinisikan toleransi pada batas-batas yang salah.

Finansial

Masalah ekonomi menjadi penyebab perceraian tertinggi di Indonesia. Tentu kita harus realistis. Anak kita nantinya tentu tidak bisa makan cinta dari ayah ibunya. Gizi, pendidikan, dan kesehatan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Masalah finansial ini juga bisa menyangkut penentuan siapa yang nantinya akan mengelola keuangan, hingga siapa yang mengambil peran untuk bekerja. Termasuk juga pemilihan instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan keluarga.

Nilai pasangan mengenai finansial juga penting untuk diketahui, misalnya masalah kredit. Banyak pasangan yang memiliki nilai yang berbeda terkait hal ini. Ada yang yakin bahwa lebih baik melakukan kredit untuk membeli sesuatu yang besar seperti rumah atau kendaraan sebelum harganya naik seiring berjalannya waktu. Tapi bisa saja pasangan lebih menginginkan membeli sesuatu begitu dana telah terkumpul agar lebih tenang, tidak terbebani dengan angsuran yang besar setiap bulannya.

Penyelesaian Masalah

Kenali betul bagaimana cara pasangan dalam menyelesaikan masalah. Apakah ia tipikal yang suka menghindari atau justru kabur ketika dihadapkan pada suatu masalah. Apakah ia tipe yang suka mendiskusikan masalah hingga menemukan solusinya, atau justru memberikan silent treatment.

Dari sini kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah kedepannya kita bisa berdampingan dengan pasangan yang memiliki cara penyelesaian masalah yang berbeda dengan kita. Ketika kita mampu menerima, kemudian kita bisa mengetahui bagaimana harus bertindak agar masalah yang sedang dihadapi segera menemukan titik terang dan hubungan suami istri menjadi lebih sehat kedepannya.

Baca Juga  Musim Nikah, Bagaimana Pemilihan Pasangan dalam Psikologi ?
Kesiapan Psikologis

Kesiapan psikologis juga menjadi sangat penting. Menyadari bahwa tanggung jawab ketika menjadi suami dan ayah pun berbeda. Begitupun dengan ibu. Banyak yang mengeluh ketika telah menikah jadi tidak bisa menjalankan hobinya. Kehilangan social life-nya. Sebenarnya banyak orang yang salah kaprah akan hal ini. Banyak yang terlalu memandang pernikahan akan membatasi segalanya.

Semua aktivitas akan terhenti karena harus terpusat dengan keluarga. Sebenarnya, lebih sehat bagi psikis suami atau istri jika mereka tetap bisa menjalankan hobinya dan bertemu dengan kawan-kawannya, sebagai bentuk ‘me time’ yang harus dimiliki diluar dari kesibukan pekerjaan atau urusan rumah tangga. Sehingga meskipun menikah, seseorang tetap memiliki kehidupan pribadinya.

Namun banyak juga yang salah kaprah justru kebablasan. Meletakkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan keluarga. Melupakan bahwa waktu akhir pekan juga perlu dihabiskan dengan keluarga sebagai bentuk bonding antara orang tua dan anak maupun dengan pasangan.

Kesiapan psikologis ini juga termasuk berdamai dengan trauma yang dialami di masa kecil. Seseorang perlu menyelesaikannya dengan bantuan profesional, agar pola yang sama tidak diteruskan kepada anaknya. Misalnya, seseorang telah mengalami kekerasan oleh orang tuanya semasa kecil. Ketika ia belum bisa berdamai dengan traumanya, dikhawatirkan ia akan mendidik anaknya dengan pola yang sama dengan yang orang tuanya lakukan dulu.

Tidak hanya kesiapan psikologis ketika menjadi orang tua, kesiapan psikologis sebagai pasangan juga perlu diperhatikan. Misalnya ketika seorang istri baru saja melahirkan, istri terlihat uring-uringan, atau justru sedih berlebihan, suami harus sigap dan mampu mengenali bahwa ini adalah ciri istri sedang mengalami baby blues. Suami yang tidak siap akan fenomena ini mungkin akan memandang istrinya ‘aneh’. Padahal seorang istri yang sedang mengalami baby blues membutuhkan dukungan penuh dari orang disekitarnya, utamanya suami.

Baca Juga  Haruskah Se-Kufu’ dalam Pernikahan?
Tipe Pernikahan dan Parenting:

Dengan mengenali karakter pasangan, tentu kita akan paham kira-kira tipe pernikahan seperti apa yang akan dijalankan. Begitupun dengan gaya parenting yang akan diterapkan. Seperti pembagian siapa yang akan mengenalkan agama kepada anak, bagaimana mendidik anak agar memiliki daya juang yang tinggi, pemilihan terkait sekolah anak, hingga bagaimana mengembangkan minat dan bakatnya. Sehingga orang tua memiliki visi misi yang sama dalam membangun rumah tangga juga mendidik anak.

Hal di atas tidak tertulis sebagai syarat resmi seseorang untuk diperbolehkan menikah. Namun bisa menjadi bekal dasar dan bahan refleksi sejauh mana kesiapan kita untuk menikah. Menikah bukan hanya menyatukan dua insan yang telah mencintai dalam waktu yang cukup lama. Bukan pula karena perlombaan dengan anak tetangga yang sudah menggendong anak kedua. Tapi mengenai kesiapan yang harus diperhatikan betul untuk bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Bagikan
Post a Comment