Testimoni Agama Bukan Jaminan Jodoh Terbaik
Tidak ada seorang pun yang telah memasuki usia dewasa tanpa gelisah memikirkan pernikahan. Paling viral adalah pertanyaan ‘Kapan menikah?’. Benar-benar horor setiap kali mendapat pertanyaan seperti itu. Mengobrolkan masalah jodoh, rasanya seperti bicara tentang undian. Tidak dapat tertebak. Penuh dengan misteri. Sebabnya, memang tidak tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita. Kapan akan bertemu, bersatu, atau bahkan berpisah? Apakah melalui jalan mulus tanpa hambatan, ataukah harus mengalami kejadian berliku terlebih dulu sebelum menemukan jodoh yang sesungguhnya?
Jodoh adalah rahasia Allah sebelum manusia dilahirkan, tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Akan tetapi, berdoa semoga mendapatkan pasangan yang tepat dan terbaik adalah cara berikhtiar yang harus dilakukan pertama kali agar tercapai tujuan utama dalam pernikahan. Rasa tentram, kasih dan sayang.
Salah satu tanda kebesaran Allah adalah menjadikan pasangan manusia sebagai suami dan istri. Menikah adalah jalan agar mereka dapat meraih ridha dan cinta Allah. Oleh karena itu, syarat utama dalam menentukan pasangan adalah baik agamanya. Hal itu berarti baik akhlaknya. Bukan ilmu agamanya, karena banyak orang memiliki ilmu agama yang tinggi, tetapi berbanding terbalik dengan akhlaknya.
***
Akhlak adalah cermin keimanan seseorang. Cara seseorang menjalankan agama tergambar melalui kebiasaan dalam kesehariannya. Sedangkan ilmu, saat ini sangat mudah kita dapatkan secara instan. Mencari melalui internet, copy paste, selesai. Karena didapatkan dengan mudah, belum tentu sudah dipahami dan diamalkan setiap hari. Atau memang benar ilmunya sudah tingkat dewa, tapi sombong. Ah, enggak banget buat jadi pasangan. Jadi, jangan tertipu oleh apa yang tampak dari luar.
Terus, harus bagaimana dong? Adakah tanda-tanda kalau seseorang itu adalah jodoh kita? Tentu ada.
Memiliki sifat yang mirip, seperti pantulan cermin. Apa yang terlihat dalam cermin adalah kita dalam posisi sebaliknya. Kanan kita menjadi kiri dalam cermin. Itulah sebabnya sering terjadi pasangan suami dan istri yang sifatnya mirip tetapi seperti saling bertolak belakang dalam beberapa hal. Misalnya, suami pendiam sedangkan istri cerewet. Namun, dalam memutuskan sesuatu hal, pendapat keduanya akan mirip. Mereka ibarat sepasang sepatu. Kiri dan kanan. Berbeda, tapi melangkah bersama satu tujuan.
Merasakan kenyamanan dan ketentraman dalam berkomunikasi serta berinteraksi. Dan dapat merasakan bahwa kita bisa mempercayai dia. Bisa menceritakan berbagai rahasia dan merasa tak bisa menyembunyikan apapun darinya.
Tanda yang lain dapat terlihat adalah dari cara saling memberikan motivasi. Pada saat sedang mengalami kegagalan, tidak banyak orang yang bisa menemani. Orang yang menjadi jodoh kita akan selalu mendukung dan memberikan motivasi. Dia akan selalu berusaha agar kita merasa bahagia dan terlepas dari rasa sedih.
Seseorang yang bisa memaklumi apapun keadaan dan kekurangan kita, akan merasa tak ada yang dapat menghalangi untuk saling mencintai. Rasa nyaman akan tercipta karena semua kesulitan seolah menjadi mudah saat dihadapi bersama dengan dirinya.
***
Bagi seorang yang sangat pemalu dan tertutup, semuanya terasa begitu sulit. Pada kondisi seperti ini, peran Mak atau Pak Comblang akan sangat membantu. Ngomong-omong, pahala orang yang mau menjadi perantara begini, besar lho. Asal sesuai syariat. Namun yang terpenting, jangan asal tahu ilmu agamanya saja.
Ada seorang ustadz lulusan universitas ternama, sudah S2 lagi. Langsung dikenalkan ke mana-mana. Padahal kurang mengetahui tentang akhlak atau bahkan yang lebih parah, tidak mengenal sang Ustadz secara mendalam. Jika ingin membantu, maka bantulah dengan mencarikan info yang menyeluruh tentang akhlak dan agamanya. Contohlah Nafisah binti Munabbih. Beliaulah yang menjadi perantara sekaligus berperan sebagai konselor dalam perjodohan Rasulullah dengan Khadijah. Bukan sekedar main menjodoh-jodohkan begitu saja.
Pernah terjadi sebuah kasus. Seorang wanita dilamar melalui perantara oleh seorang ustadz dengan latar belakang pendidikan S1 dari sebuah universitas berbasis keagamaan milik pemerintah. Sering menjadi imam shalat dan khutbah di berbagai masjid. Bahkan menjadi narasumber dalam majelis ilmu.
Wanita ini menerima lamaran karena melihat dengan siapa Ustadz ini bergaul. Sebuah hadits yang menyatakan “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap” menjadi dasar pengambilan keputusannya. Wanita itu berbaik sangka bahwa sang Ustadz tidak akan merugikannya. Apalagi ilmu agamanya cukup tinggi.
Ternyata, keputusannya menerima lamaran itu tidak berbuah manis. Sang Ustadz sering melakukan kekerasan verbal yang tidak pernah bisa dibuktikan dengan visum. Bagaikan ular berkepala dua. Di luar rumah bermulut manis dan berpenampilan baik, tetapi di dalam rumah sungguh sangat berbeda kelakuannya.
***
Dari kisah nyata wanita tersebut, sebaiknya jangan menjadi perantara jika tidak benar-benar mengenal, apalagi kok hanya dimintai tolong menyampaikan keinginan untuk meminang seorang wanita. Karena harus memberikan informasi yang seimbang dan terbuka tentang semua kelebihan dan kekurangannya. Jangan terpaku dengan testimoni tentang agamanya. Apalagi jika ustadz tersebut jarang bergaul dan hanya bertemu di majelis ilmu. Karena dalam majelis ilmu, akhlaknya terlihat baik semua.
Dan yang terpenting dari semua itu adalah memohon petunjuk-Nya dengan berdoa dan shalat istikharah. Yakin bahwa akan memperoleh pasangan yang tepat. Adapun jika merasa tidak sesuai dengan harapan, yakinlah bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita.

Dwi Hastuti
Barakallah bu guru…kapan saya menyusul nich…saya juga kirim hloh…
Arika Wulandari
Aamiin
Reny. L
Baper.. keren mbk Erika..
Arika Wulandari
Makasih say
이스미
Seseorang yang “MENGERTI AGAMA” tidak sama dengan seseorang yang “PAHAM AGAMA”, sama halnya dengan tingkat kedewasaan seseorang yang tidak dapat dilihat dari usianya saja..
Arika Wulandari
고마워
Iin indrawati
Nice Bu, Alhamdulillah
Arika Wulandari
Terimakasih, Mbak
Rich Agung
Masya Allah Tabarokallahu,…mantappp isinya baguss
Arika Wulandari
Matur nuwun, Mas Agung
Rich Agung
…mantappp isinya baguss, saya suka
Erly Tjahja
Agama bukan hanya untuk disampaikan saja, tetapi lebih utama untuk dijalankan. Terimakasih Mbak sdh mengingatkan kami.
Arika Wulandari
Sama-sama, Pak Erly
Ayuning tyas
Alhamdulillah barakalla bu Arika atas ilmunya
Arika Wulandari
Aamiin
Ina Purmini
Ssiiip mbak…
Yesti
Jodoh adalah rahasia Allah … ketetapan Allah adalah yg terbaik u kita … 🤲 …👍
Andjar
Betul .. Tulisan mbak Riris benar-benar mengena & sesuai kenyataan.. Semoga kita semua bisa mengambil pelajarannya..