f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pasangan

Pandangan Pertama Sebagai Kunci Akhir Kisah Asmara

Bak pinang terbelah dua, pasangan hidup adalah cerminan paling nyata kepribadian kita. Tidak hanya menurut para tetua, namun mitos yang mengatakan bahwa pasangan hidup adalah bentuk refleksi dari apa yang ada di diri kita benar adanya. Setiap perbedaan yang terlihat layaknya ruang kosong yang tumbuh dari ketidaksempurnaannya.

Belajar dari pengamatan sekitar bagaimana pasangan yang telah menikah beradaptasi satu sama lain, tidak sedikit pula yang dalam proses adaptasi tersebut gagal dan memutuskan berpisah membuat saya menyimpulkan bahwa pandangan pertama dan pengenalan sifat di masa awal-awal bertemu merupakan titik terpenting memilih pasangan ideal.

Pasangan ideal adalah fana, yang ada hanya pasangan yang mau tidak mau kita terima apa adanya. Mungkin kalimat tersebut sedikit klise. namun mayoritas pasangan yang telah menikah pasti akan melontarkan pernyataan tersebut. Saya percaya semua orang pasti memiliki standar masing-masing untuk menggantungkan nasib masa depan bersama pasangan. Sangat wajar dan sah-sah saja bagi kita untuk memilih dengan manusia seperti apa kita akan hidup serumah. Dan kita bisa menciptakan pasangan ideal sesuai impian.

***

Saya sering berbagi cerita dengan teman-teman yang sudah atau ingin segera menikah. Kebanyakan dari mereka ragu dengan tipikal pasangan hidup. Secara mengejutkan, mayoritas teman-teman saya ragu jika mereka gagal dan tidak tahan jika mengetahui keburukan pasangan hidup setelah usia pernikahan memasuki lima hingga sepuluh tahun. Ketika saya menyodorkan saran bahwa jika ingin memilih pasangan ideal harus melihat dari latar belakang keluarga pasangan dan diri sendiri, mereka seakan tidak percaya dengan korelasinya.

Proses memilih pasangan ideal ini mayoritas datang dari pengalaman masa lalu. Contohnya, saya sendiri yang seorang perempuan dengan ayah yang sibuk dan jarang memiliki waktu dengan keluarga, menginginkan calon suami yang perhatian dan memberikan kualitas waktu terbaik dengan saya. Selama 30 tahun, kakak laki-laki saya memiliki pacar yang usianya lebih tua darinya. Hal itu karena ia adalah tipe laki-laki yang ingin mendapat bimbingan, penyabar, dan mengerti keadaan. Seperti sifat ibu kami.

Baca Juga  Sebelum Menjawab Pertanyaan ‘Kapan Nikah?’

Konsep ini didukung oleh pernyataan praktisi ilmu psikologi di Universitas Basel, Swiss bernama Robert P. Burriss, Ph.D. Dalam artikelnya yang berjudul “Our Attraction to Partners Who Look Like Our Parents” menyebutkan bahwa sangat wajar ketika kita menyukai karakteristik pasangan yang mirip dengan karakter orang tua. Teori tersebut bernama Positive Sexual Imprinting.

Teori ini mendefiniskan bahwa mamalia akan memilih partner hidup berdasarkan kemiripan orang tuanya. Kedekatan dan kenyamanan yang telah terbangun selama masa pertumbuhan menjadikan manusia memilih untuk terus berada di lingkungan nyaman di sisa hidupnya. Begitu pula dengan fenomena sebaliknya. Apabila individu merasa sifat orang tuanya tidak seperti yang diidamkan, maka individu ini akan cenderung mencari kebalikan dari sifat tersebut. Dalam hal ini, satu hal yang menjadi kunci yaitu kecocokan sifat antar pasangan.

***

Dalam sebuah hadist riwayat Abu Harrairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia”. Saya, manusia biasa yang percaya akan pentingnya sifat manusia sebagai tonggak relasi, akan menambahkannya menjadi lima perkara yaitu karena sifatnya.

Sebaliknya, Islam menganjurkan kepada wanita untuk menjatuhkan ruh kesuciannya pada laki-laki yang memiliki akhlak mulia, sholeh, serta taat dalam menjalankan perintah agama. Sekali lagi, kriteria-kriteria tersebut kurang berarti tanpa adanya kemuliaan sifat.

Sifat-sifat inilah yang dapat kita lihat dan pelajari pada pandangan pertama ketika bertemu dengan pasangan hidup kita. Komunikasi antar keduanya sangat penting, agar pasangan dapat mengetahui watak dan kepribadiannya.

Sebagian pasangan terkadang menilai kecocokan sifat saat pertama kali proses pengenalan baik berpacaran atau tidak sebagai hal yang sepele. Mereka menganggap bahwa sifat-sifat tersebut dapat berkembang atau berubah seiring dengan berjalannya waktu. Padahal tidak begitu adanya.

Baca Juga  Pengendalian Diri sebagai Bentuk Komunikasi dari Hati ke Hati

Namun tidak banyak pula di dalam pernikahan terjadi pengembangan sifat yang sama antara suami dan istri secara bersamaan. Si pemarah akan selalu jadi pemarah, si pendiam akan selalu jadi diam. Meski sudah menjadi satu kesatuan utuh, tidak banyak pasangan suami istri yang mudah beradaptasi satu sama lain. Tidak banyak pula yang dapat mengalah terhadap ego mereka untuk kebaikan hidup rumah tangga.

***

Tulisan ini tidak mendikte bahwa sifat pemarah atau pendiam adalah sifat buruk. Namun yang perlu diperhatikan dan menjadi renungan setiap individu yang sedang memilih pasangan adalah apakah dengan sifatnya tersebut ia dapat bertahan dan menerimanya. Tidak banyak individu yang cocok dengan sifat pemarah pun sebaliknya. Justru ada individu yang sudah terbiasa dengan orang pemarah dan tidak mempermasalahkannya. Yang manakah kamu?

Jatuh cinta memang mudah, menyukai seseorang dapat dihitung dengan beberapa detik saja. Namun yang menjadi tantangan dan justru paling penting dalam mencintai seseorang adalah merawatnya. Apakah kita sanggup merawat pasangan kita apabila sifatnya jauh berbeda dengan diri kita? Bagaimana apabila di tengah usia pernikahan justru kita yang dilanda peperangan batin atas perubahan sifat terhadap pasangan? Sekali lagi, kuncinya ada pada pandangan dan perkenalan pertama untuk mewujudkan pasangan ideal untuk selamanya. Dan dari cara tersebut kita dapat menentukan akhir cerita asmara yang datangnya dari pemahaman pandangan pertama.

Sumber:

Burris, Robert P. (2018). “Our Attraction to Partners Who Look Like Our Parents”. [Artikel]. Basel, Swiss. Basel University of Switzerland.

Burke. (2007). “Falling in Love As A Heuristic for Mate Choice Decisions”. [Tesis]. Florida, Amerika Serikat. University of South Florida.

Bagikan
Post a Comment