f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Mengendalikan kemarahan

Mengendalikan Kemarahan Itu Mudah, kok!

Do you believe that a good anger management can make your emotions manageable?

“Bapak, Adek butuh buku. Udah coba cari di pasar buku bekas, tapi edisi yang dipakai dosenku nggak ada di sana. Jadi, harus beli baru.”

“Oh, dicatat aja setiap kali kuliah, Dek. Pasti bisa lebih hemat, ‘kan?”

Berbicara soal emosi, selalu menarik untuk dikupas lebih jauh, ya. Siapa yang tidak pernah merasa marah, kecewa, putus asa, atau bahagia? I am sure everyone did.

Pengendalian semua emosi itu sangat tergantung dengan tingkat kedewasaan dan kematangan logika. Saya jadi teringat beberapa kepingan cerita di masa lalu. Saya bisa begitu marah saat meminta uang kepada Ayah untuk membeli buku, dan tidak mendapat respons yang saya harapkan.

Jawaban Ayah sontak membuat wajah saya memanas. Bagaimana mungkin diktat beratus-ratus halaman itu dicatat di buku tulis? Bagaimana saat dosen menyampaikan tidak seluruh materi yang ada di buku?

Berbagai pikiran berbalut kemarahan menguasai hati saya. Ada juga rasa kecewa dan putus asa yang menjadikan emosi sungguh tidak terkendali. Ujungnya, hanya air mata yang bisa mewakili semuanya. Saya tenggelam ke dalam air yang gelap dan dalam, rasanya tidak ada kemauan untuk keluar dari sana.

Well, tingkat kemarahan seseorang memang bermacam-macam. Bahkan, menurut Jerry Deffenbacher, Phd., seseorang bisa menjadi sangat marah dari orang lainnya, seseorang juga bisa menjadi lebih mudah marah dari orang lainnya. Bahkan, ada seseorang yang memendam kemarahan dengan cara menarik diri dari lingkungan. Mungkin ini yang terjadi pada saya. Menjadi sedikit intovert memang membuat saya susah mengeluarkan emosi, dan biasanya hanya berakhir dengan meringkuk di bawah selimut sambil menangis.

Baca Juga  Lebih Besar Manakah, Dosamu atau Allah Swt?

Beruntung, sejak kecil saya terlibat banyak kegiatan, mulai dari menari, paduan suara, voli, basket, sampai kursus bahasa Inggris. Berbagai kegiatan positif yang saya ikuti itu bisa menjadi pelampiasan segala emosi yang terpendam. Begitu raga lelah oleh aktivitas, otak saya tidak lagi memroses berbagai emosi negatif.

***

Rahmania, ternyata melibatkan diri dengan banyak kegiatan positif itu bisa membantu kita mengendalikan emosi. Setidaknya, saat tubuh hanya menginginkan istirahat, tidak ada lagi waktu untuk memikirkan reaksi dari hal-hal yang memicu emosi.

Emosi kadang meledak oleh sesuatu yang sepele saat tubuh dan hati terasa sangat lelah. Nah, untuk mengatasi hal ini, biasanya saya melakukan beberapa hal berikut:

1.   Meditasi ringan.

Meditasi ini biasa saya lakukan untuk melatih konsentrasi dan menenangkan diri saat akan pentas tari, entah itu kolosal atau solo performance. Kami akan memakai pakaian latihan yang biasanya memang sangat nyaman agar bisa bergerak bebas, lalu memilih tempat yang paling tenang, biasanya kami meditasi ringan di pegunungan. Posisi duduk bersila dengan membayangkan kepingan terindah yang pernah terjadi dalam hidup, lalu mulai mengatur napas.

Cara itu jitu untuk membuat saya rileks. Bisa juga dengan mendengarkan suara gemericik air. Harus pergi ke dekat sungai? Oh, not that necesary. Saya mendengarkan gemericiknya suara filter akuarium saja sudah cukup. But, once again … tidak semua orang memiliki metode sama untuk mengendalikan emosi, ya.

Apakah itu bisa diterapkan di semua level emosi? Ehm, saya rasa bisa. Namun, intensitasnya mungkin berbeda karena penyebabnya juga belum tentu sama.

2.   Berwudu.

Sesuai dengan ajaran agama yang saya yakini, berwudu menjadi salah satu cara mengendalikan kemarahan. And it works, Friends!

Baca Juga  Melawan Ketertindasan Kaum Perempuan; Perspektif Maqashid Syariah
3.   Membaca doa istiadzah

A’uudzu billahi minas syaithanir rajiim, yang artinya “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.

4.   Diam

Friends, ketika level kemarahan saya ringan, biasanya saya akan meluapkannya dengan kata-kata. Namun, jika dada sudah menjadi demikian sesak, biasanya saya akan memilih diam. Once again, tidak semua orang memiliki cara yang sama untuk mengendalikan emosinya, ya. Namun, cara ini juga jitu untuk meredam amarah.

5.   Mengubah posisi.

Dalam agama yang saya yakini, mengubah posisi bisa menjadi salah satu cara mengendalikan amarah. But, how?

Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendaknya dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Itulah beberapa cara jitu yang biasa saya gunakan untuk meredam gejolak hati. Hasilnya belum tentu sama untuk setiap orang. Namun, worth to try, Friends. Kemarahan memang dahsyat dalam membutakan hati. Namun, manusia bisa mengendalikan hati, bukan? Yes, selama kita mau.

Saya melahirkan dengan cara cesar, dan alhamdulillah dikaruniai anak yang super aktif sejak dalam kandungan. Bayi saya selalu menangis sekitar satu jam lamanya agar dia bisa tidur nyenyak selepas magrib. Disusui menolak, digendong tidak mengubah keadaan, dinyanyikan lagu pengantar tidur tidak banyak menolong, dibacakan ayat-ayat suci juga masih saja menangis. Dalam kondisi jahitan yang masih belum kering, saya harus menghadapi semua itu. Ditambah, bayi saya sama sekali tidak mau digendong ayahnya.

Stres? I think more than that.

Meditasi ringan tidak banyak membantu saya waktu itu. So, what did I do to overcome those stresses? Saya tidur di sela-sela waktu yang ada, banyak berwudu, banyak minum air putih, makan yang saya suka, dan membaca banyak buku. It helps, too! Selain itu, saya juga banyak mendengarkan musik yang menenangkan. Beberapa genre musik ternyata bisa mengubah mood yang tadinya buruk kembali ke kondisi normal, bahkan bisa bahagia.

Baca Juga  Self Love dengan Memahami Hakikat Perempuan

Ada satu lagu yang sangat terkenal untuk meredakan stres. Lagu berjudul Ho’oponopono yang berasal dari Hawai ini telah digunakan banyak orang untuk menenangkan pikiran. Konon, masyarakat Hawai yakin bahwa segala penyakit yang ada disebabkan oleh ketidakseimbangan kesehatan jiwa akibat berbagai kejadian atau perasaan negatif. Lagu Ho’oponopono ini tidak mengandung kata-kata negatif sama sekali. Oleh karena itu, siapa pun yang mendengarkannya menjadi relax, calm, forgive, and let go. Hasilnya, perasaan bahagia dan lega pun didapat.

Rahmania, tidak mudah memang menahan emosi. Namun, membiarkannya meluap berlebihan juga menakutkan. Mau tidak mau, kita memang harus bisa mengendalikannya, manage your anger.

Menjaga kesehatan jiwa (mental health) memang tidak mudah, tetapi harus. Semua demi keseimbangan hidup yang ingin dicapai, lalu bermuara pada kebahagiaan. Salah satu caranya dengan mengendalikan kemarahan (anger management) yang bisa dilakukan dengan meditasi ringan ala saya, atau mendengarkan musik Ho’oponopono ala masyarakat Hawai. Silakan pilih yang paling membuatmu bahagia, Rahmania.

Bagikan
Post a Comment