Urgensi Me Time bagi Para Istri
Me Time Istri
Istilah me time kerap menyeruak di tengah kehidupan yang bergejolak. Tuntutan zaman memaksa manusia berada dalam pusaran ambisi sebagaimana lirik lagu anak-anak senja fourtwenty, “ hari ke hari ku terjebak di dalam ambisi, seperti orang – orang berdasi yang gila materi”.
Pekiknya, tuntunan hidup dan aktifitas sehari-hari terkadang menguji kewarasan seseorang untuk tetap bisa berbahagia bahkan sekadar tersenyum dan tertawa.
Maka perlu formulasi yang bijak seperti halnya me time untuk dapat menjaga ritme jantung dan suasana hati; agar tak melulu merasa kewalahan seorang diri bahkan kerap menghakimi diri sendiri. Tak terkecuali seorang istri.
Ketahuilah, seorang istri ataupun ibu merupakan sosok yang beresiko mengalami stres. Mengutip dari the Telegraph, pada suatu keadaan tertekan, pekerjan membersihkan rumah , mencuci, memasak, berbelanja, dan aktivtas lainnya ternyata dapat menyebabkan stres dan buruk bagi kesehatan jantung.
Karena Kurang Me Time
Dalam jurnal Psychosomatic medicine, kegelisahan dan kekhawatiran istri tentang berbagai kerjaan rumah tangga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
Keadaan ini juga diperkeruh dengan habituasi kebiasaan baru di kala pandemi. Di mana keluarga harus beradaptasi dengan berbagai skema hidup baru. Mulai dari intensitas di rumah degan pasangan yang kerap memantik pertikaian; dan banyak hal lain yang membutuhkan amunisi kesabaran dan kometmin yang sungguh.
Sebuah studi terdapati, selama pandemi, angka bunuh diri perempuan di Jepang meningkat 14,5 persen. Takanori hirnao, associate professor bidang sosiologi di Momoyama Gakuin University mengatakan, ketimbang pria, kehidupan perempuan lebih terpengaruh dikarenakan pandemi Covid-19. Mereka memiliki lebih banyak pekerjaan tidak regular serta beban tugas rumah dan perawatan anak adalah hal yang berat.
Me Time dengan Simple
Tidak perlu tamasya keliling kota, tak perlu menginap di hotel bintang lima, Bagi banyak istri ataupun ibu, bisa makan ikan asin dicocol sambal terasi dengan tenang dan nikmat tanpa halangan dan ganguan suatu apapun saja sudah hal mewah. Untuk tidur nyenyak tanpa harus dikenyot anak.
Belum lagi ketika mentari belum sempat mengintip, ia juga harus segera memikirkan nasib perut sekeluarga untuk sarapan; tinginya tumpukan cucian, rumah yang berantakan ditambah suami yang suka lepas pakaian sembarangan, mainan anak yang berserakan, dan lain sebagainya. Bagi sebagian ibu rumah tangga.
Kecuali anda adalah istri sultan yang mengupas salak saja anda harus meminta bantuan orang lain, mungkin anda akan terhindarkan dari deretan pekerjaan rumah yang bahkan masih dianggap sebagian suami sebagai pekerjaan yang mudah. Tak semudah itu.
Pembahasan ihwal me time tentu menuntun kita untuk mengerti tentang hakikat waktu itu sendiri. Agar me time tidak menjadi kedok dari pada bermalas-malasan nan stagnan manusia dalam menjali hidup. Agar me time tidak jadi sponsor utama dari magernya manusia untuk menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Begitu seriusnya waktu, Allah saja sampai menuliskan sumpahNya tentang waktu di beberapa ayat suci Al-Qur’an. Di antaranya: Wal Ashr (demi masa), Wal Lail (demi malam), Wad Dhuha (demi waktu dhuha), Was Syams (demi matahari).
Waktu bahkan sering memburu manusia itu sendiri. Wajar saja jika pepatah Arab menyebutkan waktu itu bagaikan pedang “al waktu kas-saif” (waktu bagaikan pedang) Walau mungkin belum setajam sebagian lisan mertua, hihi.
Memahami Me Time
Me time adalah memberikan waktu untuk diri sendiri dari berbagai aktifitas fisik maupu psikis yang dijalani. Memberikan waktu untuk diri sendiri bukan berarti mencerminkan diri yang sedang dilanda kesedihan apalagi dianggap anti sosial.
Pelaksanaan me time yang tepat sangatlah bermanfaat bagi kesehatan mental, emosional, dan spiritual. Me time dapat menjadi wahana refleksi, kontemplasi, serta rekreasi diri dari hiruk pikuk kepanatan aktifitas sehari-hari. Hal ini juga berpengaruh untuk menjaga dan merawat kewarasan pikir dan emosi.
Di antara manfaatnya yang dapat dirasakan di antaranya; pertama, menjernihkan pikiran dan memberikan waktu istirahat bagi otak. Kedua, merevitalisasi tubuh untuk kembali berada pada performa terbaik. Ketiga, melahirkan ide – ide baru nan kreatif. Bisa saja jika bukan karena me time di bawah pohon apel, Isaac newton tidak akan menemukan hukum gravitasi.
Keempat, meningkatkan daya tahan tubuh dan terhindar dari penyakit jantung lantaran memberikan suasana bahagia, senang, dan energi positif baru dalam diri. Kelima, mempererat hubungan silaturahim baik dengan keluarga maupun orang lain. Karena setelah fisik dan mental terasa tenang dan jauh lebih baik, interaksi dengan orang lainpun akan membaik dan lebih berkualitas.
Bagaimana me time dipraktekan? dengan berbagai keadaaan, masalah, waktu yang beranekaragam.
Tentu setiap individu memiliki caranya masing-masing dalam menjalankan me time. Ada yang mengurus tanaman dan berkebun, ada yang mengurus hewan peliharaaan, ada yang bermain game, naik gunung, menulis, bahkan ada yang sekadar duduk sejenak sembari menyeruput teh hangat.
Seorang psikolog dan mental health advocate, Anastasia satrio mengatakan durasi me time sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Menurutnya, 5 sampai 15 menit sudah cukup.
Menjaga me time membutuhkan konsistensi. Maka siapakanlah waktu terbaik untuk me time, komunikasi kepada pasangan kapan anda memutuhkan waktu me time, jika perlu matikan sejenak gawai anda dan fokus pada kebahagiaan anda sendiri.
Me Time Berkualitas
Adapun opsi terbaik untuk me time berkualitas adalah dengan mendirikan shalat. Untuk menghadapi masalah dan meraih ketenangan, Allah SWT memerintahkan kita untuk shalat.
Sebagaimana firmannnya, wastainu bissobri wa salat (jadikanlah sabar dan shalat penolongmu). Menumpahkan berbagai problem hidup, keluh kesah, dan harapan dalam shalat bahkan tak jarang hinga berderai air mata, menjadikan shalat sebagai me time terbaik dan minimal dapat kita lakukan lima kali dalam sehari. Bukankah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang, Ala bidzikrillah tathmainnul qulub (Ar Ra’d ayat 28).
Sabil el-ma’rufi dalam energi shalat; bangkitkan potensi suksesmu melalui shalat lima waktu menerangkan beberapa manfaat psikologis dari shalat, di antaranya; relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, meditasi, autosugesti, dan aspek katartis di mana dalam shalat ada pengaduan dan penyaluran baik masalah maupun harapan.
Percayalah, hidup dalam pusaran tuntutan bahkan tekanan kewajiban sebagai istri, menjadikan me time sebagai salah satu alat untuk rehat dan merevitalisasi kesehatan mental dan fisik untuk kemudian melahirkan performa terbaik sebagai istri.

Pendamping Program Keluarga Harapan Kemensos RI
