Mengomunikasikan Kepedulian Guru kepada Siswa
Guru
Siswa diam bukan berarti mereka tidak tahu apa yang ingin mereka katakan, hanya saja mereka tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat dan gagasan. Sebagian.
Dalam hal ini, maka guru memiliki peran untuk memahami situasi tersebut. Yang terkadang terlupakan, guru justru cenderung lebih berfokus kepada siswa yang aktif.
Tulisan ini bukan bermaksud memojokan guru. Hanya saja penulis juga pernah melakukan kesalahan ini.
Guru bukan hanya sebagai seorang yang mentransferkan ilmunya ke peserta didik atau siswa saja; sebab guru jaman sekarang, bukan lagi yang mendominasi kelas, atau semua pusat harus padanya. Guru di era dewasa ini adalah menjadi fasilitator yang menjalankan alur kegiatan di kelas agar berjalan lancar.
Tugas guru sebagai fasilitator cenderung lebih berat daripada hanya menyalurkan ilmu-ilmunya. Memang, materi pembelajaran itu penting. Tetapi metode pembelajaran lebih penting. Dan semangat jiwa guru jauh lebih penting dari itu semua. Karena tugas fasilitator bagaimana membuat suasana kelas nyaman, kondusif, dan siswa merasa tidak terancam.
Makna Guru
Guru merupakan orang yang disegani dan menjadi perhatian besar semua murid. Guru harus memahami dan memperhatikan segala tindakan murid. Dan yang tidak boleh terlupakan dari seorang guru yaitu kepedulian.
Setiap pembelajaran di kelas tidak bisa dipungkiri, sedikit-banyak siswa dituntut untuk mengambil risiko. Entah itu risiko besar ataupun kecil, semua tergantung kondisi mental setiap peserta didik. Presentasi di depan kelas misalnya, beberapa dari siswa ada yang menganggap itu hal wajar dan biasa saja. Namun, beberapa yang lain tidak berani dan menganggap presentasi di kelas merupakan sesuatu yang menakutkan. Mereka berpikir bagaimana nanti kalau dipermalukan, kalau ia tidak bisa, dan ditertawakan semua siswa satu kelas.
Pada kondisi demikianlah, guru dituntut bisa membaca situasi dan mencairkan kebekuan yang ada di dalam kelas; agar siswa berani menampilkan gagasan ide atau bahkan mengungkapkan perasaannya di depan kelas. Guru juga harus mempunyai strategi untuk mengkomunikasikan kepeduliannya kepada siswa mereka.
Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan guru untuk mengkomunikasikan kepedulian kepada siswanya.
Pertama, humor.
Humor memainkan peran untuk memecah kebekuan yang ada di kelas. Humor tidak hanya berlaku untuk joks-joks ala komedian, tetapi juga sekedar menertawakan diri sendiri saat melakukan kesalahan di depan kelas dan tertawa bersama siswa sudah bisa membrantas sekat antara guru dan siswa.
Kedua, jadilah orang yang sesungguhnya.
Jangan terpaku saat menjadi guru dan meninggalkan kehidupan nyata. Tidak perlu takut untuk memasukan kehidupan pribadi ke dalam pembelajaran dan beranikan diri untuk masuk kehidupan para siswa. Saat guru menceritakan hobby, makanan, atau pengalamannya jika sama seperti yang dirasakan murid hal ini cenderung membuat murid merasa lebih terhubung dan mau mendengarkannya.
Ketiga, ramah.
Pastikan siswa merasa diterima dan nyaman di kelas. Belajarlah untuk menghafal nama-nama siswa, karena siapapun pasti akan senang mendengar namanya disebut. Berikan waktu luang kepada siswa, misalnya dalam bentuk kelas tambahan bagi yang belum paham.
Jika ada siswa yang terlambat memasuki kelas, jangan pasang wajah menunggu cemas akan keterlambatannya. Karena hal ini cenderung akan membuat suasana tegang sepanjang pelajaran. Sapa siswa tersebut dengan senyuman dan tanyakan alasan keterlambatannya.
Keempat, peduli kepada siswa sebagai manusia bukan hanya sebatas peserta didik.
Maka dengan demikian, kita berkeinginan untuk memahami latar belakang setiap siswa dan mencari informasi mereka. Entah seputar hobby, budaya, bagaimana cara mereka menghabiskan waktu, dan sebagainya.
Jika guru juga mengetauhi sedikit banyak tentang kesukaan siswa maka akan lebih mudah membuat pembelajaran diterima dengan mengilustrasikan kehidupan siswa dalam pembelajaran.
Kelima, peka terhadap masalah pribadi siswa.
Tidak semua siswa yang masuk kelas dalam keadaan hati yang baik-baik saja. Menjadi tugas guru untuk memahami kondisi mental siswa. Misalnya saat siswa shock mempunyai adik baru, putus cinta, ia merupakan anak terpendek di kelas, atau siswa anak broken home.
Perhatian ekstra ke anak yang sedang mempunyai masalah ini merupakan kepedulian yang dibutuhkan siswa untuk tetap bersemangat menuntut ilmu.
Bagaimana jika mereka tidak mau bercerita? Setiap orang akan menceritakan masalahnya kepada orang yang ia percaya dan yakin bahwa ia peduli dengan tulus.
Keenam, kolaborasikan siswa untuk bisa bekerja sama.
Siswa yang memiliki komunikasi yang baik sesama teman kelasnya, berkemungkinan kecil memiliki masalah sosial. Buatlah pembelajaran sedemikian mudah bagi siswa untuk saling berinteraksi, dengan berkelompok misalnya. Siswa lebih leluasa mendiskusikan pandangan mereka bersama siswa lainnya.
Keenam, evaluasi dan umpan balik berkelanjutan.
Libatkan siswa dan orang tua untuk mengkoreksi progres siswa di kelas. Tidak hanya perihal kekurangan yang dikomunikasikan kepada siswa dan orang tunaya. Beritakan juga progres dan peningkatan apa saja yang dicapai siswa.
Jangan hanya selama satu dua kali dalam setahun setiap penerimaan raport. Coba untuk secara rutin tiap bulan atau berapa bulan sekali untuk meberitakan kinerja siswa kepada orangtua. Sehingga orang tua dan siswa paham yang telah mereka lakukan dan bagaimana memperbaikinya.
Ketujuh, menjaga diri sendiri.
Tentukan apa yang bisa membuat anda sebagai guru nyaman, segar, dan terus berenergi. Misalnya olahraga berenang, membeli buku favorite, menonton film, memasak, dan lain sebagainya. Jadwalkan waktu untuk me time. Guru lebih siap memenuhi kebutuhan siswanya, jika ia memprioritaskan kesehatan emosionalnya selesai.
Semoga beberapa tips komunikasi ini mampu membuat peserta didik kita nyaman di kelas. Lakukan ini dengan tulus, bahwasanya guru tidak hanya peduli kepada siswa atas dasar akademi saja, tetapi peduli kepada mereka sebagai manusia.

Mahasiswi yang lebih suka merefleksi goresan hati melalui bait tinta ini.
Instagram @rfwulan__
