Sibling Rivalry : Minimalkan Rivalitas, Stop Konflik Sesaudara
Sibling Rivalry merupakan istilah untuk kompetisi atau persaingan antar saudara sekandung. Menurut Cholid (2004), Sibling Rivalry adalah perasaan permusuhan, kecemburuan dan kemarahan atas saudara kandung, anggapan bahwa kakak atau adik bukanlah teman berbagi tetapi sebagai rival (saingan). Wajarkah terjadi persaingan antar saudara?
Amelia Hirawan, seorang psikolog menuturkan bahwasanya persaingan antar sesaudara adalah hal yang lazim terjadi dalam kehidupan keluarga. Manusiawi kalau seseorang memiliki naluri atau keinginan untuk menghendaki kekuasaan atas suatu hal.
Hanya saja, keterlibatan orang tua dalam meminimalkan rivalitas antara si besar dan si kecil sangat berpengaruh dalam kelanjutan hubungan sesaudara tersebut. Memberikan pendampingan juga pengawasan yang wajar secara intens, lebih bermakna daripada over protektif atau bersikap otoriter terhadap aktivitas anak.
Tidak membandingkan fisik atau biasa dikenal dengan istilah body shaming. Ataupun intelegensi tiap anak merupakan salah satu cara untuk memberikan kenyamanan terhadap mereka. Konsistensi orang tua untuk memperlakukan anak sesuai usia dan kebutuhan anak dapat menciptakan atmosfer keluarga yang harmonis, terutama hubungan si besar dan si kecil.
***
Mungkinkah tidak terjadi persaingan? Mungkin saja, tidak munculnya rivalitas dalam ikatan saudara bisa disebabkan kesiapan si kakak untuk berbagi, memiliki pribadi yang easy going, juga berhati besar sehingga tidak sulit untuk menerima kehadiran anggota baru atau adik di keluarganya.
Kemungkinan lain, karena anak pertama memiliki sifat yang tertutup atau pendiam yang tidak dapat mengekspresikan emosinya yang bergejolak. Sehingga tidak ada kecemburuan antara saudara, karena si kakak lebih memilih diam daripada mengungkapkan.
Permusuhan dan kecemburuan antar saudara kandung dapat menimbulkan ketegangan diantara mereka. Bila tidak diintervensi sejak dini mungkin akan berakibat fatal bahkan berlanjut meski keduanya beranjak dewasa. Perasaan kurang nyaman dan kekhawatiran tersingkir dari posisi semula menjadi pemicu adanya sibling rivalry ini.
Banyak anggapan bahwa saudara sekandung yang usianya tidak terpaut jauh dan memiliki jenis kelamin yang sama cenderung rawan rivalitas. Di satu sisi, kompetisi dapat dijadikan sebagai self motivator untuk berkembang dan beranjak dari zona nyaman.
Selagi masih dalam batas kewajaran dan persaingan berlangsung secara sehat tanpa merugikan salah satu pihak maka kompetisi bukanlah hal yang harus dikhawatirkan. Menurut Papillia (2008) aspek sibling rivalry meliputi konflik yang melibatkan oposisi atau penolakan, cemburu atas ketidakpuasan perlakuan orang tua.
***
Adapun kekesalan yang biasanya dilampiaskan akibat merasa sebagai korban yang tidak memiliki hal yang sama dengan saudaranya. Bersikap tidak mau mengalah, cenderung agresif dan mudah marah ketika berinteraksi dengan kakak atau adik dapat dikategorikan gejala rivalitas.
Rasa iri atau cemburu yang seringkali muncul ketika sang adik mendapatkan perlakuan khusus dari orang tua. Padahal realitanya, karena sang adik memang masih butuh perhatian lebih. Solusinya, orang tua bisa saja melibatkan kakak dalam merawat adik, seperti meminta sang kakak memilihkan baju.
Serta, si kakak berusaha mengajak bermain ataupun dengan bercanda tawa bersama si adik bukan memposisikan kakak sebagai penjaga adik semata. Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting. Pemilihan pola asuh yang tepat dengan kondisi dan karekteristik anak-anak mereka berpengaruh terhadap upaya meminimalisir Sibling Rivalry.
Apa yang harus dilakukan orang tua agar tidak dianggap pilih kasih? Sebagai orang tua harus menjadi role model yang baik dengan memberikan contoh dalam menyikapi permasalahan dan bersikap misalnya, bergantian dalam berpendapat, menyelesaikan masalah dengan sharing tanpa harus bertengkar, dan mengendalikan emosi.
Memberikan gambaran secara tersirat bahwa orang tua tidak pernah pilih kasih terhadap anaknya. Kalau saja sudah terjadi sibling rivalry, dapatkah diperbaiki hubungan keduanya? Tidak ada kata terlambat untuk membenahi suatu hubungan persaudaraan.
***
Secara bertahap brain wash diharapkan dapat menghapus persepsi “Ibuku lebih sayang kakak atau adik, saudaraku adalah rivalku”. Orangtua harus konsisten dalam mengingatkan dan menekankan bahwa saudara adalah bagian dari kita bukan saingan dapat mencegah tumbuhnya kecemburuan yang berlebih.
Dampak rivalitas yang berkepanjangan tanpa adanya solusi sejak awal dapat menyebabkan anak memiliki sifat egois, pendendam, kurang percaya diri, serta konflik batin juga fisik bahkan hingga dewasa. Demi mengurangi rivalitas, sebagai orang tua tidak selalu menyamaratakan ekspektasi terhadap anak, adil bukan berarti harus sama persis.
Setiap anak itu unik dan memiliki keistimewaan tersendiri. Jadi, tidak adil bila setiap anak harus menerima atau rela dibanding-badingkan dengan orang lain terutama sesama saudara. Memberikan kesempatan yang sama untuk bereksplorasi dan berekspresi melakukan apa yang anak inginkan.
Tetapi tetap menjadi penasihat juga pemberi fasilitas tanpa harus mengunggulkan si besar atau si kecil dapat mengurangi resiko rivalitas yang cukup signifikan. Hal ini dapat menstimulasi rasa toleransi dan empati sesama saudara. Ketika hal tersebut sudah dibiasakan setiap hari.
Seperti hal nya membiasakan adanya kebersamaan dan memberikan positive sounding tentang kasih sayang yang sama besar seiring berjalannya waktu dapat mengikis konflik sesaudara. Tak terlepas dari orang tua yang selalu berperan sebagai penengah di antara putra atau putrinya.
Hal penting lain yang harusnya diperhatikan oleh orang tua adalah melakukan pendekatan, menambah frekuensi komunikasi efektif dan meluangkan waktu bersama keduanya. So, memilih pola asuh yang tepat sangat bermanfaat untuk membentuk karakter anak dan cegah persaingan negatif antar saudara.
Mahasiswa UIN SATU Tulungagung.
