f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ragu

Obat Ragu Perihal Jodohmu

Perihal jodoh, kita semua tak bisa memaksakan kehendak Tuhan yang maha Kuasa, namun apakah kita bisa memesan jodoh kita?

Membincangkan jodoh adalah suatu hal yang menarik tetapi juga membuat hati deg-degan. Bagi para jomlo, pertanyaan “Siapakah jodohku?” selalu menghantui tanpa permisi. Sedangkan bagi muda-mudi yang telah menjalin hubungan cinta kasih, keraguan selalu datang melalui pertanyaan “Yakinkah dia jodohku?”.

Jodoh dalam KBBI memiliki arti “Orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup”. Masyarakat kita jamak yang menganggap bahwa urusan memilih jodoh atau pasangan hidup adalah urusan laki-laki, perempuan hanya perlu duduk, diam dan menunggu.

Tak banyak perempuan yang berani mengungkapkan cintanya karena malu dan takut mendapat anggapan menyalahi norma sosial. Padahal sejak zaman Rasulullah Saw tidak ada larangan bagi perempuan untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada laki-laki secara langsung.

Imam Ibnu Hajar Al Atsqolany dalam kitabnya “Fatkhul Barri” menceritakan bahwa banyak perempuan di zaman Rasulullah Saw yang berani melamar terlebih dahulu. Perempuan tersebut di antaranya adalah Khaula binti Hakim, Ummu Syuraik dan Laila binti Khatim.

Jadi bukan sebuah persoalan jika perempuan mengungkapkan rasa cintanya telebih dahulu; terlebih lagi laki-laki yang akan kita pilih adalah orang yang akan menemani kita seumur hidup. Masa iya kita tidak boleh memilih dan dipaksa untuk menerima begitu saja?

Rambu-Rambu dalam Memilih Pasangan

Rasulullah Saw telah memberikan 4 rambu-rambu dalam memilih pasangan, di mana kriteria ini sudah masyhur di telinga kita. Dalam memilih pasangan, terdapat anjuran untuk  mempertimbangkan hartanya, nasabnya, kecantikan atau ketampanannya dan agamanya.

Namun perlu kita tekankan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan agar kita mendahulukan kriteria memilih pasangan karena agamanya; dari pada dengan kriteria lainnya. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bertaqwa.

Baca Juga  Atasi Konflik Tanpa Libatkan Publik

Jika setelah menemukan tambatan hati namun keraguan datang menghampiri, maka tidak mengapa, sebab hal tersebut adalah sebuah kewajaran. Permasalahan seringkali datang justru ketika proses taaruf berjalan; eraguan yang bermunculan seiring harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, kemudian terbitlah pertanyaan “Yakinah dia jodohku?”.

Komunikasi yang Mengobati Keraguan

Ada 3 buah komunikasi yang dapat kita lakukan untuk mengobati keraguan yang hinggap di hati.

Pertama adalah berkomunikasi kepada Ilahi Robby, menceritakan segala keluh kesahmelalui rapalan doa di sepertiga malam dan melakukan sholat istikharah.

Dalam suatu hadis menyebutkan bahwa hati manusia itu ibarat satu lembar bulu di atas tanah yang kosong. Ia terombang-ambing oleh angin, sehinga mudah terbolak-balik. Oleh sebab itu Rasulullah Saw menganjurkan kepada kita untuk memohon doa agar senantiasa mendapatkan keteguhan di atas agamaNya. Berikut adalah doa yang dapat kita baca:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Artinya:  “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agamamu”.

Setelah membaca doa tersebut, kita disarankan untuk menyambungnya dengan membaca doa dari Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

Prof. Quraish Shihab dalam acara Shihab dan Shihab, pernah mengatakan bahwa kita diperbolehkan untuk meminta sesuatu dengan menyebutkan kriteria yang detail dalam sebuah doa, termasuk perihal jodoh. Jadi buat sahabat Rahmania, silakan sebutkan dengan detail kriteria jodohmu, atau langsung saja sebut namanya dalam doamu.

Baca Juga  Berbicaralah dengan Hati
Komunikasi selanjutnya adalah dengan pasangan yang telah kita pilih.

Keraguan yang tidak dikomunikasikan akan menumpuk dan menyebabkan kita semakin tidak yakin dengan pasangan. Apa pun masalah yang membuat hati kita ragu, sebaiknya dikomunikasikan dengan baik agar menemukan titik temu.

Misalnya saja kita ragu dengan pasangan sebab dalam masa perkenalan ia banyak melarang kita untuk bergerak, berteman dengan lawan jenis, mengikuti organisasi, mengembangkan minat dan lain sebagainya. Maka diskusikanlah dengan terbuka bahwa semua larangan yang dilakukan oleh pasangan membuat kita tidak nyaman.

Hubungan yang sehat lebih banyak menciptkan keyakinan daripada keraguan. Jadi apa pun masalahnya, komunikasikanlah segera. Bahkan rencna-rencana setelah menikah, visi misi dan prinsip hidup, harus dikomunikasikan di awal untuk meminimalisir perpecahan sehingga terjalin kesalingan.

Terakhir adalah komunikasi dengan keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama kita mengenal arti cinta. Menceritakan segala keraguan kita terhadap pasangan kepada keluarga entah orang tua atau pun saudara kandung, dapat juga menjadi alternatif untuk meredam keraguan yang datang.

Orang tua memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak daripada kita, nasihatnya akan sangat berguna bagi kehidupan kita. Apalagi terkait pasangan yang bukan hanya mencintai kita, tetapi juga harus mencintai keluarga kita. Akan sangat baik jika keluarga kita saling mengenal secara dekat pasangan yang telah kita pilih. Sebab, bukankah mencintai anaknya juga harus diiringi dengan mencintai keluarganya?

Ketiga komunikasi tersebut dapat dilakukan secara beriringan, tidak ada yang diutamakan. Menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan, pasangan dan keluarga semoga dapat menjadi obat untuk menemukan jawaban dalam keraguan menentukan pasangan. Apa pun hasil akhir yang menjadi jawaban atas keraguan, semoga kita dapat menerimanya dengan lapang dada.

Bagikan
Comments
  • Bari

    Cocok bagi para jombloer…hehe..

    April 7, 2021
Post a Comment