f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mbah kakung

Seni Berkomunikasi ala Mbah Kakung

Bernama Shofyan Bachri, berperawakan tinggi gagah, kulitnya kuning langsat dan sangat bersih. Hangat, penuh kasih, dan menghargai orang lain adalah karakter beliau.

Aku ingat suatu hari ketika Mbah Kakung sudah tak lagi mampu berjalan sempurna, kami duduk berdua di samping ranjang tempat tidur beliau. Aku mengoleskan kakinya dengan minyak kayu putih, kemudian aku sandingkan kakiku tepat di samping kaki mbah kakung yang menggangtung. “Mbah, kados bumi langit nggeh?”. Dan beliaupun tertawa bersamaku sambil tangannya memegang kepalaku.

Memang sejak lahir kulitku cokelat, sangat berbeda dengan mbah kakung. Kata ibuku, kulit cokelatku turunan dari mbah uti yang memang tidak sekuning langsat mbah kakung. Namun apapun warna kulitku, tak pernah mengurangi perhatian beliau padaku.

Ingatanku tak pernah pudar, sewaktu kecil di waktu libur caturwulanku, aku sebulan penuh berlibur di tempat mbah kakung. Selama itu pula setiap paginya aku diajak berkeliling desa, melewati sawah-sawah dengan aroma pagi yang sejuk, sambil mendengar beliau bertutur.

Tak hanya itu saja, selepas Zuhur beliau juga mengajakku melihat tanaman di sawah. Beliau memboncengku juga dengan sepeda tuanya sambil membawa sebotol kecil kopi kacang hijau.

Aku senang menikmati waktuku di sawah, berlarian di antara tanaman-tanaman yang masih setinggi mata kaki, sambil menggoda serangga-serangga cantik yang menempel di pepohonan sungai. Kemudian yang paling kutunggu adalah berbagi kopi di botol kecil dengan mbah kakung, meskipun sebagian besarnya akulah yang menghabiskannya.

***

Mbah Kakung pandai mengambil hatiku dan perhatiannya tak pernah main-main. Bahkan hal terkecil dari keluhankupun, beliau menanggapinya dengan penuh kasih. Tentang itu, aku tak pernah tahu buku apa yang beliau baca namun yang paling kentara adalah beliau sungguh-sungguh menyayangiku selamanya.

Baca Juga  Queen of Tears dan Seni Penyelesaian Masalah Berkeluarga

Yang pernah kudengar, masa lalu mbah kakung pedih. Beliau telah yatim piyatu sedari kecil. Pernah aku mendengar ceritanya, bahwa suatu hari beliau ingin merasakan apa yang teman-temanya rasakan. Mendapatkan berkat (makanan dari kenduri) yang bapak mereka bawakan setelah kenduri. Kasih sayang dan perhatian, itulah yang ingin sekali dia cicipi. Namun itu hanya angannya saja, karena nyatanya, beliau harus berjuang untuk tetap kuat merayakan kehidupannya.

Apakah kasih sayangnya yang melimpah padaku untuk memenuhi janjinya pada kehidupan, bahwa generasi keturunan mbah kakung harus senantiasa dilimpahi kebahagiaan?

Sejujurnya, apapun yang aku tulis tentang beliau, tak pernah surut air mataku berlinang. Tuhan, luasnya kasih sayang-Mu, rasanya tak pernah terasa sulit untuk menghadiahinya surga. Izinkan aku meyakini itu Tuhan. Biarkan Mbah kakungku menikmati bahagia bersama mbah uti dan orang tua yang selalu dirindukan sepanjang hidupnya (di dunia), di keabadiaan-Mu yang indah.

***

Tentang berkomunikasi dengan siapapun, mbah kakung nomor satunya. Menghargai orang yang tengah berbicara dengan mendengar setiap tuturnya, tidak pernah memotong atau menyela, dan satu hal yang aku selalu mengaguminya, melihat dengan baik lawan bicara sehingga siapapun akan merasa diperhatikan.

Satu hari beliau mengajakku menonton TV. Aku lupa judul serial atau film yang kami tonton pada waktu itu, yang aku ingat adalah bahwa film tersebut diperankan oleh orang-orang dari negeri Tirai Bambu.

Mbah kakung mengarahkanku untuk memerhatikan baik-baik bagaimana orang-orang pada layar hitam putih itu. Aku melihat dengan seksama mereka beradu peran, namun sebetulnya yang kemudian mbah kakung ingin mengajarkan, bukan bagaimana mereka berperan dalam lakonnya.

Mbah kakung ingin aku mempelajari bagaimana orang-orang tersebut berkomunikasi, berdiskusi, bahkan berdebat sekalipun. “Mereka saling berbicara”, katanya. Aku masih bingung dan terlihat dari pandanganku. Lalu mencoba membuatku tahu lebih dalam, “Berbicaranya mereka bergantian, yang satu bicara dan yang lain mendengar.” “Lihat ketika mereka bertengkar, ritme itu tetap berlaku”, imbuhnya.

Baca Juga  Tewasnya Abu Jahal

Lalu pada kesempatan berbeda, beliau kurasakan keras padaku pada satu situasi. Hari itu beliau menanyakan padaku tentang pilihan dan aku sangat lambat menjawabnya. “Hanya ada dua pilihan, iya dan tidak. Keraguan itu hanya menghambat”.

Aku tidak ditunjukkan buku komunikasi apa yang harus kubaca, tapi mbah kakung adalah buku kehidupan yang kurasakan. Mungkin waktu itu, aku belum mengerti banyak, namun apa yang beliau sampaikan padaku menguntungkan banyak hal pada pribadiku.

****

Ya, secara tak sadar, aku telah belajar untuk tak jadi peragu. Akupun belajar untuk berbicara dengan lugas agar orang lain paham maksudku. Meskipun belum sesempurna Mbah Kakung dalam menghormati orang lain saat berbicara, setidaknya, aku selalu ingat rasanya didengarkan dan dilihat oleh mbah kakung ketika sedang berbicara. Dari ingatan itu aku sangat sadar, bahwa diperhatikan itu membahagiaakan.

Terima kasih Mbah Kakung atas tiap kasih dan pelajaran hidup yang tak ada tandingannya. Kau selalu nomor satu di dunia. Selamat berbagai di sana. Aku mencintaimu selamanya.

Bagikan
Comments
  • Badrus Sholeh

    Sangat inspiratif dan penuh pelajaran berharga. Selain seni komunikasi & memegang prinsip/ Teguh Dalam sikap, pasti banyak lesson learned Dari Mbah Kakung. Ditunggu tulisan berikutnya Bu Anis 🙏

    Juli 16, 2021
  • Rahmat

    Sangat menginspirasi, ceritanya menarik dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami saat dibaca…

    Juli 16, 2021
Post a Comment