f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
united kingdom

Catatan Seorang Muslimah Indonesia di United Kingdom (1)

Saat tulisan ini saya tulis, saya tengah memasuki bulan ketiga menetap di United Kingdom. Saya tinggal di kota Glasgow, Skotlandia. Tentu bukan tanpa alasan saya tinggal di sini. Saya tengah menempuh pendidikan lanjutan di sebuah universitas tertua di kota Glasgow, yakni University of Glasgow.

Sebelum banyak membahas tentang bagaimana pengalaman saya menjadi Muslimah di kota terbesar di Scotlandia ini. Saya akan memberi sedikit gambaran tentang kota yang warga lokalnya disebut Glasgwegian ini.

Kota Ini Bernama Glasgow

Banyak sekali yang bertanya pada saya, apakah saya tinggal di negara yang berbeda dengan Inggris, atau apakah Skotlandia itu sampingan dengan Finlandia dll. Yang perlu diketahui, Skotlandia merupakan negara bagian dari kesatuan yang dikenal dengan Britania Raya atau secara administrartif disebut United Kingdom. Nah, United Kingdom ini terdiri dari beberapa negara bagian ada England, Scotland, Wales, dan Irlandia Utara.

Dulunya mereka merupakan kerajaa-kerajaan besar yang berbeda, tapi kita  tidak akan ngomongin itu. Nah, yang salah kaprah namun tetap dimaklumi adalah, warga Indonesia lebih senang menyebut United Kingdom dengan sebutan Inggris. Jadi ketika saya menyebut saya tinggal di Scotland, orang mengira itu sebuah negara yang berbeda.

Mumet? Sama, saya juga!

Kota Glasgow berjarak 414.3 mil dari London ini terkenal dengan beberapa hal, seperti cuacanya yang terkenal ‘gila’ dan aksen warloknya (warga lokal) yang terdengar seperti bukan Bahasa Inggris. Glasgow dikenal memiliki cuaca yang ‘gila’ karena perubahan cuacanya sangat cepat dan tidak dapat diprediksi. Meski saya sudah memantau ramalan cuaca tetap saja saya sering ‘kecelik’. pagi cerah, kemudian siangnya langsung hujan sekitar 5 menit, lalu angin kencang, lalu panas. Jadi, apapun cuacanya saya selalu membawa payung.

Baca Juga  Covid-19 dan Ujian Kepasrahan

Yang menarik adalah warga lokal sering bodo amat tidak mau bawa payung. Ini disebabkan 2 hal. Pertama karena cuaca di seini lebih sering tidak dapat diprediksi, akhirnya mereka hanya mengandalkan jaket tebal anti air mereka saat bepergian. Kedua karena angin di Glasgow sangat kencang, jadi anyak payung yang patah hanya dalam sekali atau dua kali pemakaian.

Itu baru sebagian dari kegilaan Glasgow yang bisa aku ceritakan. Masih banyak kegilaan-kegilaan lainnya yang kalau aku tuliskan tidak akan ada habisnya.

Menjadi Muslimah di Glasgow

Menjadi Muslimah di Glasgow tidaklah sesulit yang aku bayangkan saat aku masih di Indonesia. Meski mayoritas penduduk Scotland mayoritas penganut Katolik, namun saya tidak pernah merasa terasingkan. Karena di kota ini banyak sekali pendatang dari segala penjuru dunia, jadi lingkungannya sangat diverse dan saya tidak merasakan adanya gesekan antar kelompok agama dan etnis. Selain itu, penduduk yang beragama Islam di sini juga cukup banyak.

Menurut data dari sensus penduduk Skotlandia tahun 2011, ada sekitar 1,4% penduduk yang beragama Islam. nah, dari 1.4 itu 70% dari warga muslim Scotland terkonsentrsi di 4 kota yakni Glasgow, Edinburgh, Aberdeen dan Dundee. Kalo diurutkan seperti ini; Galsgow 42 %, Edinbrugh 16%, Aberdeen 6% dan Dundee 5%.[1]  Jadi bisa diklaim bahwa Glasgow merupakan kota dengan penduduk muslim terbanyak di Scotland. Itu baru membahas orang yang menetap lama di Glasgow-imigrant-, belum lagi mahasiswa yang datang untuk kuliah atau summer course.

Oleh karenanya, meski minoritas, tapi tidak merasa kesepian, karena masih bisa banyak menjumpai saudara sesama muslim. Karena secara kuantitas dapat dikatakan besar, saya juga mendapati beragamnya ekspresi keislaman di Scotland. Di samping itu, beribadah di Glasgow sangatlah mudah. Saya mendapati ada beberapa masjid di Glasgow, ada satu masjid terbesar, namanya Central Mosque, tapi tak jarang juga ada semacam masjid kecil-kecil. Apalagi kalau membicarakan universitas. Di setiap universitas ada faith room yang dilengkapi dengan tempat wudu.

Baca Juga  Kulepas Engkau dengan Taubatan Nasuha

Sama halnya dengan tempat ibadah, salah satu concern saya sebagai Muslimah adalah makanan halal. Banyak sekali restoran halal, namun biasanya restoran halal didominasi dengan makanan-makanan ala timur tengah. Selain itu, halal butcher atau penjual daging halal juga banyak saya temukan. Itu semua memudahkan saya dalam memilih makanan halal.

Satu hal yang mungkin agak susah adaah menemukan toko yang khusus menjual jilbab atau kerudung. Tapi kit bisa membeli scarf yang mirip-mirip dengan kerudung. Balik lagi bahwa ekspresi muslimah di sini sangat beragam seperti di Indonesia, ada muslim yang memilih bercadar, ada yang memilih memakai gamis dan jilbab, namun tak jarang juga yang tidak berjilbab. Dan tidak ada yang saling mengomentari atas pilihan berbusana muslimah di sini. Kesimpulannya, Kota Glasgow bagi seorang muslimah seperti saya sangat menyenangkan, dan ramah. Sampai jumpa di catatan selanjutnya.


[1] https://blogs.lse.ac.uk/religionglobalsociety/2016/11/muslims-in-scotland-demographic-social-and-cultural-characteristics/

Bagikan
Post a Comment