f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
komdis

Komdis itu Menghapus Jiwa Individualis

Komdis atau Komisi Disiplin mungkin masih menjadi istilah asing yang kita dengar. Di dunia perkuliahan, komdis bisa ditemukan saat OSPEK atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus yang memiliki tujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru terhadap dunia perkuliahan.

Banyak pendapat yang menentang adanya komdis dalam ospek, karena adanya perpeloncoan dan senioritas. Namun, tidak sedikit pula yang mendukung adanya komdis dalam ospek. Karena dapat membentuk kedisiplinan dan kerja sama sesama satu angkatan dalam mengikuti kegiatan ospek baik ospek kampus, fakultas, ataupun jurusan.

Kelebihan dengan adanya komdis dalam ospek adalah mahasiswa lebih disiplin dalam mengikuti atau melaksanakan suatu hal; kerja sama sesama teman satu angkatan juga makin baik; serta hubungan persahabatan antara sesama teman angkatan makin erat.

Namun ada juga kerugian dari adanya komdis dalam ospek yaitu jika mahasiswa yang ikut serta mengidap atau memiliki riwayat penyakit, maka akan beresiko fatal. Lainnya, mahasiswa bisa depresi serta trauma dengan kakak senior atau kakak tingkat yang menjadi penyelenggara kegiatan komdis dalam ospek.

Ada juga mahasiswa yang tidak terima dengan perlakuan kakak tingkat dalam kegiatan komdis, yang berdampak perilaku serupa terhadap adik tingkat berikutnya atau bersifat menurun. Jadi…apakah komdis perlu dilaksanakan? Atau lebih baik jika ditiadakan?

Pengalaman Komdis

Berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti kegiatan komdis ataupun sejenisnya, kegiatan tersebut memanglah keras, tegas, dan disiplin. Contohnya adalah ketika penerimaan anggota Dewan Ambalan di SMA saya dahulu, kegiatannya diawali dengan upacara pembukaan dilanjutkan dengan latihan fisik.

Kami diuji ketahanan fisik dan mental dengan instruksi pemimpin upacara yang mengarahkan kami untuk bersikap tegak, hadap ke samping, depan, dan belakang. Kemudian jika ada yang salah mengikuti instruksi diberi hukuman untuk push-up sebanyak 25 kali.

Baca Juga  Ada Anak Bertanya pada Ayahnya

Kami mengikuti acara tersebut kurang lebih 2 jam dihitung dari awal upacara hingga akhir latihan fisik. Setelah acara selesai, kami diberi waktu jeda untuk ibadah dan makan siang kemudian melanjutkan rangkaian kegiatan berikutnya.

“Gimana? sudah capek? gak kuat?!” ujar salah satu kakak panitia dan serentak kami agak terkejut sembari menjawab “siap, tidak kak!”. Kemudian, dijawab kembali oleh kakak panitia tersebut. “Kalau belum capek berdiri yang tegak! tau sikap sempurna tidak? jangan membungkuk! masih muda kok sudah membungkuk….dengar tidak?!”. Kemudian kami jawab kembali sembari menegakkan postur tubuh, “siap kak! dengar”.

Saya melihat bahwa teman saya yang dibentak oleh kakak panitia tepat di depannya itu sedikit menahan luapan emosi rasa takut. Setelah itu, salah satu teman perempuan saya yang lain jatuh pingsan karena terlalu lama berdiri dan mungkin tidak kuat menahan perkataan-perkataan kakak panitia yang kesannya keras dan menakutkan. Dia kemudian dibawa ke unit kesehatan sekolah saat itu.

Dari hal ini bisa kita ketahui bahwa komdis adalah bentuk mendisiplinkan peserta. Namun, bagi peserta yang sampai pingsan, menangis, ataupun dendam, ingatan hal ini bisa terbawa seumur hidup dan bersifat traumatis.

Masa Orientasi

Contoh yang terbaru adalah ketika saya mengikuti ospek jurusan di tahun 2020, yang kegiatannya dilaksanakan secara daring atau online. Dalam kegiatan ospek jurusan, saya beserta teman-teman satu angkatan saya diberi tugas untuk membuat proyek persembahan.

Proyek tersebut dibagi ke dalam beberapa kepanitiaan. Dan kebetulan, saya diberi amanah menjadi ketua proyek persembahan tersebut.

Singkat cerita, setelah kami mengerjakan beberapa tugas mempersiapkan persembahan yang diadakan rapat komdis, lalu kami satu angkatan diundang dalam sebuah video conference  untuk dilempari berbagai pertanyaan tentang perkembangan proyek kami.

Baca Juga  Buk Nar dan Pak Koba

Dari raut wajah kakak-kakak komdis saja kami sudah menghela nafas karena terlihat datar dan galak, “baru ini aja? temen kalian yang lain mana?!” tanya salah satu kakak komdis. Kebanyakan dari kami diam, takut menjawab.

Kemudian saya inisiatif menjawab “maaf kak mungkin beberapa sedang halangan untuk hadir” lalu kembali dijawab kakak komdis dengan “kalian satu angkatan gak kenal? nggak peduli sama temen sendiri? ada presensi tidak kalian?”.

Kembali saya mencoba respon namun dihentikan oleh kakak komdis tersebut dengan “yang lain mana? kenapa dari tadi kamu yang menjawab?” kemudian ada keheningan sejenak. Meski ada salah satu teman perempuan saya yang inisiatif untuk menjawab. “Maaf mbak teman kami yang belum bisa hadir sedang berkendala sinyalnya”. Dari nada suaranya, bisa dirasakan bahwa dia menahan tangis namun tetap mencoba tenang menjawab pertanyaan dari kakak komdis.

Membangun Orientasi yang Baik

Bagi saya melatih kedisiplinan dan mental siswa atau peserta tidak harus disertai dengan komdis. Melainkan cukup dengan pemberian kegiatan yang bersifat menyenangkan tetapi tetap menerapkan sifat kedisiplinan. Contohnya yang tadi saya sebutkan yaitu melaksanakan proyek persembahan bersama satu angkatan.

Dalam melaksanakan tugas satu angkatan, para peserta atau siswa dapat saling mengenal satu dengan yang lain, dapat melatih mental kekeluargaan, kepemimpinan, jujur, tegas, dan sopan santun.

Kedisiplinan akan tertanam karena tentu saja satu angkatan ingin menampilkan persembahan yang terbaik. Maka, dalam mengerjakan proyek persembahan pasti akan bersungguh-sungguh dan tepat waktu tanpa harus di hadirkan rapat komdis.

Bagaimanapun juga, kedisiplinan dan mentalitas yang baik perlu ditanamkan pada siswa atau peserta.

Dari pengalaman saya memang dihadirkan komdis dalam ospek atau acara penerimaan lain, dan akhirnya kami menjadi lebih disiplin dan mentalitas kami lebih baik dari yang sebelumnya. Namun juga ada beberapa teman yang mungkin trauma dengan kata-kata membentak atau raut wajah menyeramkan dari panitia acara komdis walaupun sudah bermediasi.

Baca Juga  Hidup di Papua Pegunungan dengan Kesederhanaan

Ospek bisa tetap dilaksanakan oleh komdis. Namun catatannya, tetap memperhatikan riwayat penyakit beberapa peserta dan memberi pengecualian serta tidak melampaui batas aturan dalam menguji pesertanya. Sehingga hubungan baik tetap bisa terjalin setelah bermediasi.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment