f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kunci

Sebuah Kunci

Azan subuh berkumandang di masjid dekat rumah. Saya bergegas wudhu. Bekas air wudhu saya lap pakai handuk yang teronggok di sudut kamar. Lalu menarik sarung dari gantungan dan memakainya.

Baju koko kesayangan warna abu-abu bekas dipakai salat Jumat kemarinnya, kembali saya pakai. Aroma parfum khas timur tengah yang masih menempel di baju menyeruak masuk ke hidung. Parfum pemberian salah seorang jamaah beberapa waktu lalu selepas salat Jumat.

Tidak lupa upiya karanji, kopiah khas Gorontalo kini bertengger di kepala. Kopiah kesekian yang saya koleksi selain dari Aceh dan tanah suci Mekah. Kopiah ini merupakan souvenir ketika berkunjung ke Gorontalo tahun lalu.

Karena kita masih terjebak pandemi, masker tak kutanggalkan. Masker scuba pemberian kepala dinas pendidikan saat Gerakan Sejuta Masker, saya ambil di tempat biasa lalu kenakan. Di tengah pandemi Covid-19, masker sudah menjadi SOP jika keluar rumah, termasuk ke masjid.

Penggunaan masker hanya untuk mengikuti anjuran pemerintah saja. Mengikuti protokol kesehatan. Buktinya, saat memakai masker, cara pakainya tidak pernah sempurna. Masker hanya menutup mulut, hidung tidak. Bukan tanpa sebab, jika menutup hidung, bisa-bisa sesak nafas. Maskernya pun ketika sudah lama digunakan bisa melorot ke dagu bahkan bisa turun hingga ke leher.

Tidak lupa sajadah kecil saya sambar dari sandaran kursi. Sajadah yang selalu setia menemani jika ke masjid.

***

Dari berbagai sisi, suara hayya ‘alashshalaah (mari kita salat) diulang kedua kalinya oleh muazdin.

Tiba-tiba saya terhenti di depan pintu. Kunci pintu yang biasanya terpasang, kali ini tidak berada di tempatnya. Seingat saya, tadi malam saya terakhir yang kunci pintu depan sepulang dari masjid salat Isya. Setelah itu tidak ada lagi yang keluar.

Baca Juga  Jangan Berharap Ditolong Allah Jika Tidak Meminta

Segera saya cari di atas meja. Tempat biasa menyimpan kunci. Saya sibak taplak meja. Cari di sela-sela kursi dan meja. Siapa tahu ada yang pindahkan atau dijatuhkan kucing kesayangan keluarga kami. Rupanya juga tidak ada. Bolak-balik saya cari, tidak ketemu juga.

Masuk kamar bangunkan istri. Rupanya dia sudah bangun setelah mendengar saya bolak-balik keluar kamar. Saya tanya apakah melihat atau tahu kunci pintu depan. Dia hanya menggeleng sambil mengusap muka dengan kedua tangannya.

Melihat saya gelisah, istri menyarankan keluar lewat pintu samping, karena azan sudah selesai dikumandangkan.

Tiba di masjid yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari rumah, sambil mendorong pintu masuk, pandangan tertuju ke jam digital masjid. Cahaya merah cukup terang di subuh hari menunjukkan angka waktu iqamat sisa satu menit sembilan detik lagi.

***

Rasa penyesalan menyeruak ke dalam hati. Salat sunah qobliyah subuh pun saya tidak tunaikan. Saya lalu teringat sebuah hadis yang yang menyatakan “Dua rakaat salat sunah qobliyah subuh, lebih baik dari dunia berserta isinya” (HR. Muslim).

Sebagian umat Islam berupaya mendapatkan waktu untuk itu, menunaikan dua rakaat sebelum salat subuh. Rasulullah Muhammad Saw sendiri sangat menganjurkan salat sunah dua rakaat sebelum subuh. Salat sunah dua rakaat sebelum salat subuh memiliki keutamaan tersendiri, sebagaimana saya sebut di atas. Salat sunah ini biasa juga disebut salat sunah fajar, termasuk kategori muakkad atau sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Rasulullah senantiasa menjaga dan menunaikan baik ketika di rumah ataupun ketika bepergian.

Lalu apa yang lebih baik dari dunia beserta isinya? Tentunya kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman hati. Bagaimana tidak, ketika Allah Swt. sudah menjanjikan dan manusia sudah menunaikan hak Allah, maka manusia akan mendapatkan hadiah yang luar biasa.

Baca Juga  Perempuan dan Nasib Mimpi-mimpinya; Kisah Perempuan Remaja dalam Cengkraman Militer

Sambil bersandar di tiang penyangga masjid menunggu iqamat. Saya memejamkan mata sejenak lalu bertanya ke dalam diri. Mengapa Allah menghindarkan kunci pintu dari pandangan saya subuh ini? Adakah dosa yang telah saya perbuat? Adakah orang yang telah saya dzalimi? Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiran.

Terdengar muadzim melafalkan iqamat tanda salat subuh segera ditunaikan. Saya bergegas mengambil posisi di tengah. Imam pun mulai memimpin salat.

Sepanjang perjalanan dari masjid, pertanyaan itu muncul kembali. Tiba di rumah, jawabannya belum juga ditemukan. Begitupun kunci rumah belum ditemukan.

Saya merenung cukup lama mencoba mencari jawaban dari pertanyaan tadi. Tiba-tiba teringat, beberapa hari terakhir anak bungsu saya merengek minta diantar beli tas sekolah. Namun karena sibuk, belum ada waktu mengantarnya.  Saya pikir juga tidak ada masalah jika belum punya tas, sekolahnya kan daring, jadi tidak apa-apa jika belum punya tas. Saya baru sadar, rupanya sejak mulai sekolah di kelas I, dia belum punya tas. Tas salah satu identitas anak sekolah.

***

Teringat juga, tadi malam menjelang tidur sekitar pukul 23.00, saya sempatkan mengecek ponsel. Sebuah pesan masuk dari pengurus lembaga kemahasiswaan. Dia meminta saya membuka acara keesokan harinya pukul 08.00 pagi.

Saya menyatakan tidak bisa hadir membuka acara. Walaupun acaranya via zoom dan saya bisa membuka acara di manapun saya berada, tetapi karena informasinya nyaris tengah malam, makanya saya menolak. Hal ini saya lakukan sebagai pembelajaran bagi dia agar lain kali tidak melakukan hal yang sama.

Saya lanjutkan chat ke mahasiswa. Saya katakan tidak suka kalau buat acara seperti ini. Buat acara tanpa perencanaan yang matang. Undangan mendadak dan ada perubahan jadwal tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Baca Juga  Puasa, Sahur, dan Kesetaraan Gender

Dua kejadian menyadarkan saya. Saya melakukan kezhaliman dan menyakiti orang lain.  

Saya membuang waktu buat anak saya. Bahkan membuatnya kecewa. Dia menuntut haknya yang selama ini saya abaikan. Namun mengapa tidak ada waktu buat dia?  Walaupun cukup sejenak mengantar dan menemaninya. Satu ada dua jam cukup.

Saya juga telah menzhalimi mahasiswa dengan kata-kata “saya tidak suka”. Kata-kata itu tiba-tiba membuat saya tersentak. Seperti mendapatkan tamparan keras. Kenapa itu saya katakan? Saya merasa bersalah dan berdosa.

***

Saya yakin, inilah penyebab, mengapa kunci pintu rumah tiba-tiba menghindar dari pandangan saya. Saya yakin ini teguran dari Allah Swt. Kesempatan mendapatkan kebahagian kebahagiaan, ketentraman, dan ketenangan hidup gagal saya dapatkan pagi ini.

Setelah mendapat jawaban, perasaan lega. Saya langsung istigfar memohon ampun kepada Allah Swt. Ambil  ponsel, rupanya mahasiswa mengirim pesan permohonan maaf atas sikapnya tadi malam. Langsung saya balas dan juga memohon maaf.

Tiba-tiba si bungsu muncul dari balik pintu kamar. Rupanya dia baru bangun. Saya panggil lalu peluk. Saya bisik, “Dek, maaf, ya. Cepat mandi pagi, nanti saya antar beli tas”. “Yes….alhamdulillah”, jawabnya. Sambil melepaskan pelukan saya tanya, “Dek, kunci pintu lihat tidak? Dari tadi saya cari”. Sambil tersenyum, dia langsung menunjuk pojok ruang tamu. “Itu,  di bawah susunan buku. Saya simpan di situ tadi malam”.

Bagikan
Comments
  • Roni

    Bertambah lagi ruang belajar kehidupan. Teruslah menebar kebaikan, Kakanda.

    Oktober 22, 2020
Post a Comment