Iklim “Bodo Amat” Kaligrafi Indonesia
Pekan lalu, sebuah esai di rahma.id membuat saya tertarik untuk membacanya, sebab berisi bahasan mengenai seni kaligrafi Arab. Esai tersebut berjudul, “Menulis Kaligrafi Arab itu Identitas Islam Nusantara!” yang ditulis oleh Sintya Kartika Prameswari.
Di banyak pesantren di Indonesia, sebagaimana juga diakui oleh Sintya. Pesantren tidak saja melahirkan muslim dan muslimah yang boleh dikata memahami ilmu agama. Tetapi juga telah banyak melahirkan para khattat dan khattatah, atau yang lebih akrab disebut kaligrafer.
Tentu saja, produksi itu didukung oleh tradisi menulis yang ada di lingkungan pesantren, meski tidak menyangkal bahwa lembaga pendidikan non-pesantren pun turut menambah kuantitas jumlah kaligrafer di Indonesia dalam jumlah yang tak sebanding.
Tetapi yang harus diakui bahwa, produksi kaligrafer paling signifikan adalah yang berasal dari pesantren yang memang mengkhususkan kegiatan belajar-mengajar pada bidang kaligrafi. Seperti Lemka di Sukabumi dan PSKQ di Kudus untuk menyebutkan salah duanya. Tentunya, jumlah pesantren kaligrafi lebih banyak dan akan semakin banyak mengingat minat terhadapnya tidak pernah menampakkan potensi penurunan.
Apalagi di kampus-kampus—tidak hanya kampus Islam, tak jarang memiliki unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang seni kaligrafi. Seperti al-Mizan di UIN Yogyakarta, misalnya, yang setiap tahun jumlah keanggotaannya cukup untuk membuka satu program studi baru di kampus. Sehingga, layak dikatakan bahwa potensi munculnya kaligrafer-kaligrafer itu akan terus mengalami peningkatan.
…
Ruang-ruang sosial yang semakin melebar turut membantu mereka untuk mengekspresikan diri. Dibantu oleh semangat kolektif, karya-karya dapat lebih mudah dipamerkan. Tetapi, kalau kita melihat dari sisi estetika sebagaimana pemahaman arus utama di kalangan kaligrafer, maka kita akan sulit menyadari bahwa sebenarnya ada persoalan di baliknya.
Karya-karya yang diproduksi dari tahun ke tahun cenderung berlomba-lomba untuk memanjakan mata yang memandang. Padahal, kita tahu bahwa apa yang dipandang itu (ayat Al-Qur’an) memiliki makna-makna yang tidak cukup hanya untuk dijadikan objek kenikmatan visual.
Produksi kaligrafi kian deras, dan bahkan kita mudah menjumpainya di sosial media. Akan tetapi, sulit menemukan karya-karya yang peka terhadap keadaan sekitar, yang berbicara tentang apa-apa yang diresahkan oleh masyarakatnya.
Problematika kehidupan kian kompleks, tapi kepekaan terhadap kondisi sosial tenggelam dalam kemewahan estetik yang ditawarkan. Hal itu ditambah dengan pemilihan ayat yang cenderung bersifat ritualistik. Gejala itu terjadi tidak saja dalam konteks pameran, tapi juga menggejala dalam ajang perlombaan.
Sehingga, kaligrafer layaknya orang-orang yang selama ini tinggal di langit tanpa tahu apa yang sedang terjadi di bumi. Padahal, “Bumi adalah tempat berpijak bagi manusia, bukan alam lain. Dengan begitu, berbuatlah bagi bumi,” kata Nietczhe.
Seakan ada upaya untuk mengarahkan seni kaligrafi agar “angkat kaki dari bumi,” dan kaligrafer seperti dibiasakan untuk tidak meresahkan suatu apa pun di lingkungannya. Alhasil, produksi karya yang ada kerap berwatak seni untuk seni. Kaligrafi seperti terlena dalam dunianya sendiri, tidak membumi dan tidak berkontribusi pada apa pun selain kenikmatan visual belaka.
…
Apabila hal seperti ini terus berlangsung, maka akan menjadikan kaligrafi mapan dengan ketidakpekaannya. Untuk itu, dibutuhkan dorongan untuk menjadikan kaligrafi sebagai karya yang komunikatif dengan mengasah kepekaan sosial dan membangun kesadaran atas apa yang tengah dihadapi masyarakat.
Pameran kaligrafi, misalnya, seharusnya tidak sekadar berisi kumpulan khutbah moral dan dorongan menjaga kesalehan ritual. Ada banyak situs penindasan, ekploitasi, dan dominasi yang terjadi di kehidupan nyata. Sayangnya, itu adalah soal-soal yang kerap tidak dijangkau oleh seni ini. Seakan-akan nash tidak pernah mengurusi hal-hal semacam itu. Seakan-akan Islam tidak berwatak revolusioner dan membebaskan.
Belum lagi kalau berbicara mengenai kaligrafi kontemporer, yang lahir beriringan dengan nafas kebebasan dan demokratisasi di Indonesia. Yang, kalau kita mengira-ngira arahnya menuju pada kesadaran sosial-politik warga negara. Naas, melihat bahwa kebebasan itu justru tenggelam ke dalam upaya penyeragaman tentang apa itu makna kebebasan, lepas dari kaidah/aturan.
Ada upaya penyamaan atas pemaknaan terhadap cabang kontemporer ini, yang bergerak pada kesadaran akan kondisi alamiah dan asli. Seperti hendak meromantisasi masa lalu tentang Indonesia yang hijau, dan kita hidup dan berada di sana.
Kesadaran itu tentu saja hanya melenakan, sebab kita tengah berada dalam ancaman berarti akibat raibnya hutan lewat pembukaan lahan oleh korporasi, penggusuran lahan masyarakat, hingga ancaman krisis iklim.
Romantisasi di atas seakan jadi isyarat ketidakpedulian atas persoalan-persoalan yang terjadi di hadapan mata.
Seni kaligrafi seharusnya menjadi tempat kaligrafer menuangkan gagasannya dan merespon persoalan yang terjadi di sekitarnya. Bukan malah menjadikan mereka lupa dengan tempat mereka berpijak. Kemapanan ini telah membuat dunia kaligrafi hanya memproduksi kaligrafer yang, terlena-lena sendiri seakan bukan makhluk yang tinggal di bumi.
Alumni UIN Sunan Kalijaga, pegiat komunitas literasi Ma Lino Institute, menulis essay dan cerpen
