f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mudik

Renungan Sebelum Mudik

Mudik merupakan agenda yang saya tunggu-tunggu setiap tahun. Di mana ada waktu yang sengaja disisihkan oleh semua saudara untuk saling melepas rindu. Lalu, dalam acara halal bi halal kita saling mencurahkan rasa dan saling bermaafan satu sama lain.

Ah, syahdu memang. Saya bisa membayangkan aroma rica menthok yang menguar dari dapur. Lalu, pedasnya pecel berpadu dengan gablok sebagai makanan favorit keluarga besar kami. Dan di tengah-tengah antusiasme saya mempersiapkan diri untuk mudik, suami saya pulang dari mushola dengan muka masam.

“Kata bapak-bapak di mushola kasihan si Bapak A, di perantauan bukannya sukses malah sakit-sakitan, si Bapak B malah bangkrut pulang ke sini tanpa ada hasil apa-apa,” kata suami.

Saya melongo mendengar perkataan yang menurut saya tidak enak sekali didengar. Saya yang merantau selama lima tahun benar-benar tidak pernah berpikir ke arah sana. Bahwa seorang perantau ternyata mendapatkan rapor penilaian dari sanak saudara.

Siapa yang menyangka bahwa niat kita mencari penghidupan adalah sasaran empuk untuk dinilai. Apakah tahun ini kita mudik dalam keadaan bergelimang harta, atau kita mudik dalam keadaan sengsara. Padahal saya kira pulang ke kampung adalah sebuah cara saya untuk healing dari tekanan tempat rantau. Eh, tidak tahunya pulang-pulang saya di evaluasi.

Meskipun saya yakin tidak semua orang begitu. Tapi dengan adanya evaluasi sedemikian rupa saya takut akan menjadikan perantau rentan melakukan hal yang dilarang agama. Naudzubillah summa naudzubillah.

Banyak cerita yang hadir di sekitar saya, para perantau berlomba-lomba membeli mobil sebelum lebaran. Atau banyak juga yang sampai hutang sana sini hanya untuk bisa pulang memenuhi ekspektasi orang-orang, untuk pamer harta miliknya. Padahal untuk melakukan perjalanan pulang dengan sederhana saja, ongkosnya bisa buat pening tujuh keliling. Ini kok pake ada acara mikir mau bawa harta apa pas pulang.

Baca Juga  Nikmatnya Membandingkan Anak

Apakah kita jadi manusia perantau yang berdosa ya jika tidak berhasil menjadi orang yang memiliki timbunan harta untuk dibawa pulang?

Kita sebagai hamba Allah harusnya menyadari, merantau itu untuk memenuhi perintah Allah. Bukan untuk memenuhi penilaian makhluk lainnya.

Dalam surat Al Mulk ayat 15 Allah berfirman: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Sampai di ayat ini, Allah memberikan tuntunan pada hamba-hambanya untuk berani merantau. Allah memberikan jaminan adanya rizki bagi orang yang mau merantau. Allah tidak menjamin akan mendapatkan rizki berupa harta yang berlimpah, hanya saja banyak rizki dalam bentuk lain yang Allah berikan pada kita dari merantau.

Banyak sekali rizki lain, selain harta yang kita dapatkan saat merantau. Mulai dari relasi, teman, dan keluarga baru. Pengalaman dan adat istiadat yang berbeda dari tiap daerah, hingga berbagai pelajaran hidup mulai dari cara adaptasi, toleransi sampai kemandirian. Semua hal ini kita tidak akan dapatkan selama di kampung.

Di kampung kita berada di zona nyaman. Dikelilingi sanak dan saudara membuat terkadang kita menjadi pribadi yang kurang tangguh, karena merasa ada sanak saudara. Belum lagi saat merantau kita akan benar-benar akhirnya akan menyadari di manapun kita, Allah adalah tempat sebaik-baiknya bergantung.

Belum lagi saat merantau juga menjadi ajang untuk siar agama islam. Kita sebagai seorang muslim bisa dengan melalui sikap santun mempromosikan islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Lalu, bagaimana cara kita melakukan ibadah mulia ini jika hanya berkutat di kampung saja?

Saya menyadari sebagai manusia adakalanya kita memiliki kecenderungan untuk ingin dianggap ada dan dihargai. Termasuk juga menjadi seorang perantau, mungkin sedikit membuat ego kita naik agar dapat dipandang di kampung.

Baca Juga  Sifat Cemburu Aisyah binti Abu Bakar

Memang pamer harta adalah salah satu cara ampuh untuk mendapat penghormatan di kampung. Minimal tidak diomongkan sebagai produk gagal. Sudah jauh-jauh merantau tapi pulang-pulang tangan hampa.

Ah, tetapi mari menelisik lebih dalam apakah niat kita merantau adalah untuk mendapat penghormatan dari orang-orang kampung? Atau kita merantau memang untuk mencari rizki sebagaimana perintah Allah?

Jika merantau kita adalah sebagai upaya untuk mencapai ridho Allah. Saya rasa tidak penting bagi kita untuk sibuk mencari cara pamer keberhasilan bagi para tetangga. Toh, pamer tidak menjadikan bahagia, malah bisa membuat kita kena dosa. Dosa riya, hiiiii…

Sebagai penutup, suami saya melakukan sebuah pertanyaan retoris pada saya, “Dik, kita pulang kampung nanti bawa apa ya?”

“Bawa apa? Ya, bawa diri aja, seadanya, emang kita punya apa sih yang bisa dipamerkan?” jawab saya sambil mengunyah nastar di pojokan.

Bagikan
Post a Comment