f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nick anak introvert

Menggiring Anak Introvert untuk Tetap Gaul

Seperti biasa, setiap sabtu pekan kedua, suami saya ada meeting di kantor, jadi tidak bisa mengantar saya menjemput si kecil pulang dari sekolah. Akhirnya operasi penjemputan Feren kali ini bersama Nick, kakaknya.

Sepanjang perjalanan, sejak keluar rumah sampai di ujung gang sebelum memasuki belantara jalan utama pantura, tak henti-hentinya kami menyapa dan disapa orang. Senyum kami terus mengembang sampai berasa kering di gigi. Beberapa kali kepala juga harus mengangguk saat bertemu dengan orang-orang yang lebih tua.

Di sebuah tikungan kami bertemu dengan sekelompok remaja yang sepertinya baru pulang dari jogging pagi. “Mas Nick”, sapa mereka. Eh, lha kok yang disapa malah anak saya, ini pegimane ceritanye?

Ternyata Nick cukup terkenal di kampung ini. Ada cerita, suatu kali pada malam hari saat melewati jalan tengah persawahan perbatasan kampung, beberapa anak nongkrong menghadangnya. Melihat gelagatnya sih, mereka berniat mencari keributan. Belum sempat Nick melakukan sesuatu, tiba-tiba sekelompok anak muda lain datang membantunya dengan mengatakan bahwa mereka semua adalah teman sekampung.

Usut punya usut, ternyata Nick sangat banyak dikenal karena keramahannya. Selain memiliki banyak kenalan karena sepantaran usianya, ternyata para orang tua juga mengenalnya sebagai sosok yang sopan dan memiliki etika saat melintas di jalanan kampung ini. Ia tidak pernah memacu kencang laju motornya dan menyapa hampir setiap orang yang bertemu dengannya di sepanjang jalan keluar dari perumahan yang kami tempati.  

Nick adalah type anak rumahan. Sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam rumah. Keluar rumah untuk nongkrong atau hangout bersama teman-temannya hanya dilakukan jika memang ada alasan yang sangat penting. Ia bukan tergolong anak yang suka bergaul, cenderung menutup diri, irit bicara dan lebih senang menghindari konflik dengan menyingkir. Tetapi ternyata hal-hal tersebut tetap membuatnya famous, banyak teman, dan asyik.

Baca Juga  Menyelami Figur Bapak: Pahlawan dalam Kesunyian

Banyak temannya yang sering memilih menghabiskan waktu bermain di rumah kami. Mereka bisa seru-seruan bermain game, membaca komik atau novel, bermain kartu, bahkan hanya sekedar menonton film. Dan Nick berhasil menjadi tuan rumah sangat baik.

Ternyata, menjadi anak introvert bukan alasan bagi anak-anak untuk tidak bisa menjadi sosok yang gaul dan bisa diterima dengan baik di lingkaran pertemanannya. Bagaimana caranya?

Ramah

Memiliki karakter introvert bukan penghalang bagi anak kita untuk tetap bisa ramah kepada semua orang. Ajarkan cara menjadi ramah dengan cara yang paling sederhana, yaitu sering menyapa orang lain. Bagaimana jika tidak saling mengenal? Ya tidak apa-apa. Siapa tahu bermula dari saling sapa, akan membuka tali perkenalan dan jaringan. Siapa tauuuu. Ha ha ha.

Menjadi ramah tak harus dengan banyak kata. Biasanya banyak kata yang hanya basa-basi akan terkesan garing karena dipaksakan. Cukup dengan senyum yang tulus, sedikit lengkungan bibir ke atas, anggukan kepala dan sesekali membalas sapaan dengan melambai. Asal jangan senyum-senyum sendiri di jalanan, bahaya. He he.

            Suka menolong

Pada dasarnya, suka menolong adalah persyaratan umum untuk semua kriteria karakter baik. Kemampuan ini sangat diperlukan dalam sebuah hubungan sosial. Kerelaan hati melakukan sesuatu untuk meringankan beban dan kesulitan orang lain, sejatinya tak mudah untuk dipraktekkan, apalagi jika hal tersebut terkait dengan orang lain yang tidak ada hubungan pertalian darah atau pertemanan. Eh, ngapain repot nolong, bodo amat, gak kenal ini.

Kepekaan rasa untuk menolong orang lain perlu diolah dan dibiasakan. Apalagi sekarang hampir semua orang bisa mandiri dengan segala tawaran kecanggihan dan kepraktisan karena teknologi, jadi akan sulit sekali menemukan alasan perlunya saling tolong.

Baca Juga  Saat Anak Diasuh Nenek: Kenyamanan Sementara, Risiko Berkepanjangan

Mengajarkan anak untuk memiliki empati harus dibiasakan sejak dini. Hal ini bisa dimulai dari mengajaknya ikut serta dalam pekerjaan-pekerjaan harian di rumah. Tentu saja pembiasaan ini perlu dilakukan dengan bahasa ajakan yang ‘enak’, alih-alih menyuruh apalagi membentak.

            Menjadi pendengar yang baik

Sifat dasar manusia adalah selalu ingin diperhatikan, meskipun dengan baragam cara yang berbeda. Ada yang mencari perhatian dengan banyak tingkah, banyak bicara, dan banyak berperkara. Tapi ada pula yang ingin diperhatikan dengan cara diam, datar, tanpa ekpresi. Yang terakhir ini berbahaya, susah ditebaknya. Ups.

Akan lebih baik jika orang tua sering memberikan contoh untuk menjadi pendengar yang baik. Dengan cara tidak sering mendominasi pembicaraan saat sedang berbincang dengan anak, otomatis dia akan merasakan bagaimanan nyamannya berinteraksi dengan kita saat suaranya didengarkan. Maka anak akan terbiasa dengan pola interaksi yang menghargai orang lain, memarkan lawan bicara menyuarakan isi hati dan kepalanya, tidak sering menginterupsi, dan sesekali memberikan tanggapan atau jawaban seperlunya agar tidak memberi kesan mengabaikan.

Setiap orang cenderung lebih senang jika dirinya diperhatian. Maka tak jarang kita tidak menyadari bahwa saat sedang berinteraksi dengan orang lain, kita hanya fokus tentang kita, kita, dan kita. Sekarang, mari ubah pola interaksinya, dan rasakan bedanya. Gak percaya? Mari kita coba. Jadilah pendengar yang baik. Dengarkan curhatan lawan bicaramu dengan sepenuh hati, maka dia akan merasa diperlakukan secara special.

Berpengetahuan luas

Ketika berbicara dengan orang lain dan ternyata topik pembicaraan tersebut tidak kita suka atau tidak kita kuasai, biasanya kita memilih untuk tidak banyak memberikan respon. Pada akhirnya kesan yang muncul adalah menjemukan. Yah, gak asyik ni orang, begitu mungkin yang ada di benak lawan bicara kita.

Baca Juga  Berhasil Membuat Orang Tua Tersenyum, Tetapi Gagal Menjadi Diri Sendiri

Maka sangat penting untuk membekali anak kita dengan pengetahuan tentang banyak hal. Tak perlu meminta anak untuk menjadi sosok yang menguasai banyak hal, yang penting tahu aja, itu sudah cukup sebagai modal. Saat membicarakan suatu hal, sesorang tidak selalu hendak mencari solusi atau jawaban atas suatu pertanyaan, terkadang malah hanya sekedar omong aja, daripada gak ada topik yang dibicarakan. Ya gak sih? Tapi pembicaraan tidak akan asyik jika yang diajak ‘omong-omong’ tidak mengetahui topik yang sedang dibicarakan, atau istilah gaulnya ‘gak nyambung’.

Nah, akan menjadi suatu nilai tambah tersendiri jika anak memiliki pengetahuan akan suatu hal dengan mendalam, karena mungkin pembicaraan menjadi lebih jauh mengarah ke sebuah diskusi serius. Bahkan mungkin dari beberapa pembicaraan ringan tersebut tersebut, ada solusi dan ide baru yang muncul. Bisa jadi lho. Wih, jadi terkesan smart kan anak kita. He he.

Bagikan
Post a Comment