Bermain dengan Anak adalah Ibadah
Siapa sih yang tidak pernah jadi anak? PSemua orang pasti sudah pernah merasakan, bagaimana rasanya jadi anak-anak. Jadi tahu rasanya bagaimana orang tua menyuruh kita untuk belajar dan mengurangi bermain.
Padahal menurut Imam Al Ghazali, bermain adalah hal penting selain belajar. Mengurangi jatah waktuanak tidak menambah kecerdasan mereka dalam menimba ilmu lebih banyak. Imam Al Ghazali berkata, “Berikan sarana bermain setelah belajar kepada anak. Kalau tidak boleh, dapat mematikan hatinya. Melarang bermain juga melenyapkan kecerdasannya dan menyusahkan masa depannya.”
Bagaimana ulama mendidik anaknya?
Para ulama membiarkan anak bermain setelah belajar walaupun terlihat sedikit belajarnya. Bahkan mereka terlibat dalam permainan anak, di sela waktunya. Ulama menganggap bahwa bermain dengan anak termasuk ibadah, sebagaimana halnya mendidik anak dalam hal akhlak dan ketakwaan.
Kenapa hal itu dianggap ibadah? Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Ada empat hal selain mengingat Allah (berzikir) yang tidak termasuk melalaikan. Berlatih kuda, memanah, bermain dengan keluarga dan berenang.” (HR. Thabrani)
Pertanyaan berikutnya, apakah bermain dengan anak akan mengurangi wibawa seorang bapak? Tentu tidak. Para ulama bermain dengan anaknya tidak mengurang wibawanya. Bisa jadi dia seorang ulama tersohor, tetapi bagi istri dia adalah suami dan bagi anak dia adalah ayah bukan ulama. Bermain dengan keluarga mereka lakukan karena Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasallam juga mencontohkannya.
Justru bagi anak, seperti kita dahulu pernah menjadi anak, mereka menikmati masa bermain dengan keluarga- ayah dan ibunya. Anak mempelajari dan dapat melihat sosok orang dewasa yang sangat ramah kepada mereka. Sosok dewasa yang mencontohkan bagaimana bermain yang baik dan kelak seorang anak akan menjadi seperti ayah atau ibunya. Anak akan menjadi sosok yang ramah karena mencontoh ayah-ibunya dalam segala aspek kehidupan. Ayah dan Ibunya juga akan mendapat pahala dari ibadah bermain bersama anak.
Rasulallah juga Bermain Bersama Anak-anak
Rasulullah yang suka bermain dengan anak, tidak menjadikan wibawanya berkurang. Justru menjadikan anak yang bersama dengan baginda berprestasi di masa depannya.
Sebut saja Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair bin Abbas r.a. suatu ketika terlihat Rasulallah membariskan mereka bertiga seraya bersabda,
“Siapa di antara kalian yang berhasil mengejarku maka akan mendapatkan hadiah ini dan ini.”
Agar ketiga anak itu tertarik, Rasulallah sholallahu alaihi wasallam memotivasi mereka. “Anak yang lincah akan menjadi orang dewasa yang cerdas.”Mendengar hal itu, ketiganya segera mengejar Rasulullah yang berlari. Dengan sekuat tenaga akhirnya mereka dapat menyusul dan bisa menangkap Rasulallah. Ada yang naik ke punggungnya, memegangi punggungnya, dan yang mendekap dadanya. (Lihat dalam Kitab Tarbiyatul Aulad, halaman 577 – karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan.
Kisah Anak – anak Kecil yang Bermain dengan Rasulallah
Perlu diketahui, Abdullah bin Abbas r.a. tumbuh dewasa menjadi orang yang cerdas. Dia meriwayatkan banyak hadits. Abdulllah bin Abbas ra juga menjadi pemuda yang mampu menafsirkan ayat-ayat yang tidak dimengerti oleh sahabat utama seperti Umar bin Khattab dan sebagainya. Kesimpulan dari kisah ini, menunjukkan bahwa orang tua yang bermain dengan anak akan membantu sang anak memiliki kecerdasan optimal di masa depan.
Diriwayatkan, saat-saat Rasulallah bermain dengan kedua cucunya, Hasan dan Husein yang masih kecil. Keduanya naik di punggung nabi seolah menunggangi kuda. Sedangkan Rasulullah merangkak. Salah seorang sahabat keduanya turun, tetapi Rasulullah membiarkan mereka seraya bersabda, “Sebaik-baik penunggang kuda adalah mereka.”
Hal ini menandakan bahwa ada saatnya orang tua bermain dengan anak atau cucu-cucunya. Mungkin sebagian dari kita mengira, kita munafik. Ketika berzikir kita ingat surga dan neraka. Sedangkan ketika bercengkrama dengan keluarga lupa segala hal, dan fokus bermain, lupa sejenak akan kehidupan akhirat.
Hal ini pernah dialami Hanzalah, salah satu sahabat nabi. Abu Bakar Ash Shiddiq menanyai kabarnya. Ia menjawab, “Hanzalah telah munafik.”
Abu Bakar bertanya, “Kenapa demikian?” ,”Hanzalah saat bersama Rasulullah ingat surga dan neraka. Namun ketika bersama anak dan istri menjadi lalai.”
Lantas Abu Bakar dan Hanzalah menanyakan hal ini kepada Rasulallah. Abu Bakar menanyakan bagaimana keadaan Hanzalah kini, dan Hanzalah mengulangi pernyataannya di hadapan baginda, “”Hanzalah saat bersama Rasulullah ingat surga dan neraka. Namun ketika bersama anak dan istri menjadi lalai.”
Setelah mendengar risaunya Hanzalah, Rasulallah meluruskan. Rasulullah menjawab dengan beberapa kalimat. Pada kalimat terakhir, nabi mengulanginya hingga tiga kali.
“Bukanlah begitu. Sungguh jika kalian selalu bersamaku dan senantiasa mengingat Allah maka malaikat tak henti-hentinya menjabat tanganmu bahkan di atas tempat tidurmu. Namun tidak demikian,” sabda nabi hingga sampai pada sabda, “Ada saat-saatnya (bersama keluarga)” yang diulang sampai tiga kali.
***
Kesimpulan dari kisah-kisah itu adalah ada saat-saatnya bermain bersama anak. Berikan hak anak untuk bermain di samping belajar. Berikan hak mereka ketika sedang bersama kita. Kenapa perlu demikian? Karena anak akan menghabiskan naluri bermain di masa kecilnya. Apabila dilarang, mereka akan bermain walaupun sudah bukan usianya.
Editor : Siti Robikah

Guru ngaji. Tinggal di Bondowoso. Aktif menulis fiksi dan nonfiksi.
IG: mustofa_psikologi

Kang Marbot
Peran orang tua memang sangat krusial dalam tumbuh kembang seorang anak, terkadang dan seringkali tanpa disadari tindakan yang oleh orang tua dianggap tegas dan mendidik. Justeru menimbulkan sebuah bumerang bagi perkembangan anak, menjadikan trauma, sehingga berefek kurang pede dan menutup diri total dari pergaulan sekitar.
mustofa.psikologi
Terimakasih masukannya. Kedepannya saya mungkin akan membahas konsep diri anak.
Kristina Rahayu Prihatiningsih
Alhamdulillah bagus banget semoga jadi motivasi bagi yang lain
Lasma Dwi
Alhamdulillah semoga barokah
Tmaker
Artikel yang sangat bermanfaat untuk selalu mendampingi anak.
Well done and well written.
SterbenID
Pak Ustad, kalo kita bermain permainan ekstrem dengan anak kita, apakah akan mendapat pahala yang lebih besar dari biasanya karena tingkat kebahagiaan anak makin tinggi?
Menhera :3
Alhamdulillah jadi ngerti sebelum jadi ortu
Terus berkarya ya kak
Anam
Ya, artikel berikutnya hsrus memberikan batasan, sampai dimana peran orang tua ikut andil dalam permainan anak.
Khawatir terlalu over protective.
Boy
Ditunggu edisi berikutnya…