f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gandum

Batang Gandum Terbaik Pilihan Allah

Saat hujan gerimis begini memang enaknya menulis kisah romantis. Penulis menulis kisah ini sambil tersenyum mengingat masa lalu. Baiklah pendahuluannya adalah kisah Plato bertanya kepada gurunya Socrates tentang makna cinta dan pernikahan melalui batang gandum.

Socrates  pun menyuruh Plato pergi ke ladang dan membawa batang gandum yang paling baik, tapi hanya boleh berjalan satu arah dan tidak boleh kembali. Syahdan, Plato kembali dengan tangan kosong dan berkata, “Aku melihat beberapa gandum yang besar dan baik saat melewati ladang, tetapi aku berpikir mungkin ada yang lebih besar dan lebih baik dari yang ini, jadi aku melewatinya saja. Namun ternyata aku tidak menemukan yang lebih baik dari yang aku temui di awal, akhirnya aku tidak membawa satu pun.”

Kemudian Plato bertanya tentang pernikahan… Kisahku jauh dari definisi romantis ala generasi milenial.

***

Cerita ini diawali saat penulis berangkat ke pulau Bacan Halmahera Selatan untuk menjalani tugas sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) 13 tahun yang lalu. Tidak ada banyak pertimbangan memilih tugas ditempat itu, kecuali mencari tantangan. Saat itu aku masih lajang dan idealis yang beranggapan bahwa di daerah Indonesai Timur lebih memberikan tantangan sebenarnya sebagai dokter umum.

“Eh mesin kapal mati,” gumamku di tengah ombak besar. Kami berempat sesama dokter PTT memang baik kapal kayu dari Ternate ke Bacan. Berdesak-desakan di kelas ekonomi yang panas.  Seakan kami memakai baju yang baru disetrika. Aku satu satunya dokter PTT yang tidak bisa berenang dan malangnya lagi satu-satunya yang tidak membawa pelampung. Terlintas pikiran akan berakhir tenggelam di laut sebelum menikah. Alhamdulillah jatah umur masih ada. Kami sampai selamat di pelabuhan Babang.

Baca Juga  Rumah Syukur

Tantangan pertama tentang makanan. Sebagai orang udik, perutku ini memang selera jawa banget.  Sulit makan ikan cakalang dan sayur garu khas daerah ini.  Alhasil aku menjalani diet secara alami karena terpaksa.

***

Tantangan berikutnya tentang budaya. Di minggu-minggu awal aku menemukan kasus wanita remaja dengan keluhan berak darah yang kemudian diketahui hamil diluar nikah. Beberapa kasus kehamilan di luar nikah yang ditemukan di IGD memiliki kesamaan. Respon orang tua pasien biasa saja, tanpa beban.

Kondisi sebaliknya akan terjadi bila kejadian ini ada di kampungku. Pasti orang tua pasien itu tidak punya muka kepada orang sekampung.

Kasus-kasus  di atas membuatku banyak merenung. Entah mengapa aku merasa sangat terancam. Khawatir sekali terbawa pergaulan setengah bebas di sini. Tanpa keluarga di sini yang bisa menasehati membuatku sangat khawatir.  Aku merasa menikah cepat adalah solusi agar terhindar dari masalah ini, tapi dengan siapa? Siapa yang mau menikah dengan dokter umum baru lulus berwajah sederhana tanpa uang sepertiku.

 “Siapapun ya Allah asal engkau ridho, jika saya tidak suka maka jadikanlah saya suka.” Terucap dalam hatiku suatu Ketika.

Tiba-tiba ada gadis berjilbab besar, cantik dan selalu berjalan menunduk. Ternyata si gadis adalah fisioterapist rumah sakit ini yang sedang cuti meneruskan sekolah di Makasar. Kejadian itu tepat 3 bulan 14 hari sesudah doa itu terucap.

***

Minder …

Ah, ndak mungkin gadis secantik itu belum menikah atau minimal belum punya calon. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa malu bertanya.

“Belum punya calon, Dok. Kalau Dokter mau saya proses,” jawaban ibu perawat senior membuat hatiku meriang. “Boleh, Bu,” kujawab tanpa berpikir.

Baca Juga  Perempuan Tangguh Di Balik Peristiwa Hijrah (2)

Saat itu aku tidak ingat apa yang dipesankan Emak sebelum berangkat ke Halmahera Selatan. “Ris, jangan cari istri orang luar jawa.”

Singkat cerita kami berproses. Si gadis tidak meminta syarat apapun memulai proses dan hanya mengenalku dari biodata dan foto 3×4 yang tertempel di situ.

Sholat istikharah. Ya, dengan sholat istikharah menjadi dasar keputusan menikah. Dan sholat istikharah ini dilakukan orang lain bukan aku sendiri. Maklum khawatir ada intervensi dari perasaan di hati.

Ketiga orang yang kumintai istikharah hasilnya bagus. Termasuk hasil istikharah emakku. Tak sabar kutunggu hasil istikharah dari si gadis pagi itu. Hasilnya bagus kata si gadis. Hore, akhirnya aku menikah….

***

Beyond expectation!!!

Gadis itu sekarang tersenyum di sebelahku, bersamanya kemudian lahir tiga anak yang lucu. Gadis itu berasal dari keluarga terpandang di Halmahera Selatan namun bersedia berjuang bersamaku. Saat aku menempuh pendidikan spesialis dan dia mengambil S2 di Surabaya, kami hidup sederhana di rumah kontrakan. Kadang berhari-hari hanya makan tahu dan tempe selama bertahun-tahun.

Pelajaran jadul yang ingin saya bagikan tentang betapa pentingnya sholat istikharah untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Plato dengan mudah memilih batang gandumnya tapi tidak denganku.

Tidak cukup apa yang kita lihat dan kita pikirkan untuk menilai seseorang. Pada saat seperti ini kembalilah ke Tuhanmu dalam kepasrahan doa-doamu. Tanyalah Dia melalui sholat istikharahmu maka InsyaAllah akan kamu temukan keadaan beyond expectation dari Tuhanmu.

Ya seperti istriku, batang gandum terbaik pilihan Allah.   

Bagikan
Post a Comment