f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
opini dokter

Kita Butuh Opini Dokter Lain

Semua orang pernah sakit. Atau, malah sering sakit, punya penyakit bawaan, penyakit keturunan. Lalu, berobat ke sana kemari, mencari obat yang mampu menyembuhkan tanpa kambuh lagi. Meski hal itu sangat sulit. Dokter demi dokter dikunjungi satu per satu.

“ Antarkan periksa ke rumah sakit!”

Nenek meminta tolong ibu saya untuk mengantarkannya periksa ke rumah sakit. Padahal obat sebelumnya masih sisa beberapa. Juga, dokter sebelumnya telah melakukan suntik biar imun nenek saya bertambah kuat. Sebenarnya, sudah ada tiga kali lebih disuntik dengan dokter yang berbeda.

Semua dokter mendiagosis bahwa itu penyakit tua. Ibu saya juga percaya itu. Ibu sampai membeli susu khusus dan menyediakan buah setiap hari agar daya tahan tubuh nenek semakin kuat, agar hidup lebih sehat. Akan tetapi, setiap malam nenek tetap kesakitan dan sulit tidur.

Opsi Selain Obat Dokter

“Halah, obatkan masih ada, belum lagi sekarang masih musim korona. Nanti kalau diperiksa terus malah dianggap korona bagaimana? Sekarang tidak usah periksa dulu, nanti saya belikan jamu saja”

Ibu saya membalas permintaan nenek dengan mengalihkan opsi. Beruntungnya, nenek mau menerima opsi ibu saya. Akhirnya ibu membelikan jamu. Beruntungnya lagi, dua hari setelah minum jamu, penyakit nenek jadi sembuh.

Ibu saya sempat heran. Padahal sudah berulang kali disuntik, berulang kali ganti dokter, tetapi tidak juga sembuh. Setelah minum jamu malah sembuh. Bahkan lebih cepat daripada obat yang selalu dikonsumsi nenek.

Tentunya, penjual jamu pasti juga ahli kesehatan. Jadi, ketika ibu saya mengutarakan segala kesakitan nenek, si penjual jamu langsung meracik ramuan yang pas buatnya. Jamu itu obat tradisional yang bahannya alami dari tumbuhan.

Opini Dokter

Di sisi yang bersamaan, saya baru menemukan dokter spesialis kulit. Sejak kecil saya dibilang sakit bawaan, sakit kulit, semacam alergi makanan berdaging. Anehnya, dokter kulit yang saya kunjungi ini bilang kalau saya tidak alergi. Saya boleh makan ikan, saya boleh makan telur, bahkan tidak ada pantangan makan ini itu.

“Alergi itu bukan karena makanan, kulit kamu kering, tandanya kurang olahraga, dan makanan tidak seimbang. Kalau alergi itu penyebabnya, seperti tidak bisa memakai pakaian yang berbulu, atau bahan katun bikin kulit gatal-gatal, ini baru alergi.”

Saya benar-benar kaget. Sebab, selama ini dokter-dokter sebelumnya memberikan pantangan tentang makanan. Ada yang melarang makan ikan laut, selainnya boleh. Ada yang melarang makan hewan yang bertelur, selainnya boleh. Bahkan, ada yang melarang mengkonsumsi daging, apapun.

Akhirnya saya percaya begitu saja. Sebab, kali ini dokter spesialis. Dokter berpesan supaya lebih banyak olahraga dan aktivitas yang mengeluarkan banyak keringat. Selain itu saya disuruh makan telur minimal dua kali sehari, banyak makan ikan laut, karena itu banyak mengandung protein. Ini sangat bertentangan dengan para dokter sebelumnya. Dan ternyata benar sembuh dalam seminggu.

Tetapi, selang satu bulan kemudian penyakit kulit saya kambuh lagi. Padahal saya berolahraga setiap pagi dan sore, makan teratur bahkan rajin mengkonsumsi telur setiap hari, kadang makan ikan laut. Semua pesan dokter itu bukan sekadar saya ingat, melainkan saya amalkan setiap hari.

Loh, kok saya masih sakit? Bahkan kambuhnya malah lebih cepat daripada dokter-dokter sebelumnya. Apa saya memang alergi ikan, daging, telur sebagaimana kata para dokter sebelumnya?

Beda Dokter Beda Wawasan

Setiap manusia memiliki ilmu yang berbeda-beda. Wawasan dan ilmu pengetahuan bukan tergantung pada kecerdasan atau kepandaian seseorang melainkan sikap rajin, sikap kerja kerasnya dalam menuntut ilmu.

Banyak contoh dari sekian banyak orang sukses. Kisah Si Anak Singkong, misalnya. Atau yang belum lama ini meninggal, Ajip Rosidi. Ia sekolah saja tidak tamat. Tetapi, berkat sikap rajin dan kerja kerasnya, ia berhasil menjadi orang yang berwawasan luas dan memberikan sumbangsih bagi Indonesia. Karya-karyanya diakui bahkan sampai manca.

Sama dengan dokter. Wawasan dan ilmu pengetahuan setiap dokter pasti berbeda-beda. Sebab itu, ada malpraktek yang sering terjadi. Bisa saja, itu terjadi karena ketika di bangku kuliah suka izin, atau tertidur ketika ada presentasi. Sehingga ada beberapa ilmu kedokteran yang terlewat.

Belum lagi tentang pengalaman. Pengalaman adalah guru paling berharga, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Setiap dokter memiliki pengalaman masing-masing. Bisa saja, malpraktek tadi disebabkan kurangnya pengalaman dokter dalam menangani pasien.

Kisah Seorang Teman

Sebelum Korona datang, saya sempat menjenguk anak teman saya. Anak itu masih berumur 1 tahun lebih 7 bulan. Sebenarnya, teman saya juga perawat. Tetapi dia lebih memilih konsultasi ke dokter yang lebih berpengalaman. Akhirnya dia membawa anaknya ke rumah sakit.

Diagnosis dokter menyatakan paru-paru anaknya bocor. Teman menyampaikan semua kegiatan bersama sang anak selama di rumah. Meski tidak ditanya oleh dokter tersebut. Seolah-olah, teman saya tidak sepakat dengan diagnosis dokter tersebut. Lalu anaknya dirawat inap selama dua minggu. Tetapi, hampir dua minggu berlangsung, kondisi anak tak kunjung membaik. Hanya panasnya turun. Anaknya masih susah bernapas.

Rumah sakit itu terbaik di daerah mereka tinggal. Bahkan banyak orang dari luar daerah berobat di sana. Meski begitu, pikiran teman saya tetap jengkel dengan diagnosis dokter. Faktanya, hampir dua minggu, sang anak masih sulit bernapas. Kemudian dia meminta dirujuk ke rumah sakit lain. Tetapi pihak rumah sakit tidak membolehkan.

Dia tetap tidak terima. Dia bercerita sambil menggunakan ilmu medisnya sebagai protes atas diagnosis itu. Biasanya dokter itu kepo, cerewet, hobi tanya. Sedangkan ini, teman saya memberitahu banyak, tetapi respon dokter apatis. Hal ini membuat dia semakin tidak puas.

Biaya mahal menambah pikiran dia. Akhirnya dia membawa pulang paksa sang anak.  Dia mencoba berobat ke rumah sakit lain. Karena keterbatasan biaya, dia memilih rumah sakit seadanya. Pasrah, dengan doa.

Opini Dokter Lain

Di rumah sakit kali ini, dia bertemu dengan dokter yang sangat tua. Dia diajak ngobrol sangat lama oleh dokter. Kali ini, dia sangat percaya dengan dokter yang menangani anaknya. Diagnosis dokter melegakan perasaan dia. Intinya cukup dirawat seminggu saja.

Dan pas seminggu, anaknya hampir pulih total. Sebelum pulang, dokter berpesan, “Anak kamu bakal sembuh total, tenang saja, syaratnya cuma sering ajak dia ke luar, ke pantai, misalnya. Biar anak kamu merasakan alam. Biar dapat udara segar, alami.” Dan setelah saya menjenguknya, anaknya sudah sehat, mampu menangis.

Jadi, kita butuh opini dokter lain. Sebab yang dibutuhkan agar sembuh, bukan sekadar obat, bukan sekadar wawasan dan ilmu pengetahuan, tetapi juga pengalaman.

Bagikan
Post a Comment